Harga Premium Turun, Solar Naik

Ekonomi
Petugas SPBU melakukan pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium di SPBU, belum lama ini . Per Oktober, harga Premium akan naik, sementara solar turun.
Petugas SPBU melakukan pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium di SPBU, belum lama ini . Per Oktober, harga Premium akan naik, sementara solar turun.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Kementerian ESDM masih memantau fluktuasi harga minyak dunia sebagai salah satu dasar menentukan harga bahan bakar minyak (BBM) premium dan solar untuk 1 Oktober nanti. Namun, harga premium sangat mungkin turun. Sebaliknya, solar mengalami kenaikan harga cukup signifikan.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Wiratmaja Puja menjelaskan, pemerintah tetap menunggu perkembangan harga sampai Minggu mendatang (25/9). Tetapi, mungkin tidak ada perubahan besar pada harga minyak dunia selama akhir pekan. Jadi, sudah ada gambaran soal harga baru BBM. ’’Dari rata-rata tiga bulan terakhir, ada perubahan sedikit. Premium turun, sedangkan solar naik,’’ katanya.


Namun, dia belum bisa memerinci seberapa besar penurunan harga jual per liter dari bensin dengan oktan 88 tersebut. Pihaknya masih menunggu hitungan tim dari harga minyak pada Juli, Agustus, dan September. Tetapi, berdasar hitungan kasar sementara ini, harga baru premium dan solar bakal mengalami perubahan sekitar Rp 300 sampai Rp 500 per liter.

Untuk informasi, saat ini premium dijual Rp 6.550 per liter dan solar Rp 5.150 per liter. Harga premium di luar Jawa, Madura, dan Bali mencapai Rp 6.450 per liter. ’’Harga didiskusikan dulu dengan Pak Menteri. Nanti ada kebijakan yang dikeluarkan,’’ ungkapnya.

Jika penurunan harga premium bisa sampai Rp 500, berarti langkah itu serupa dengan yang diambil pemerintah untuk harga 1 April. Penurunan tersebut bertahan sampai enam bulan karena ada momen Idul Fitri.

Bila melihat fluktuasi harga minyak jenis Brent dalam tiga bulan terakhir, kecenderungannya memang menurun. Pada Juli, harganya sempat menyentuh USD 52 per barel, lantas anjlok sampai USD 42 per barel pada Agustus. Kemarin perdagangan emas hitam itu dijual dengan harga USD 47,74 per barel.

Bagaimana dengan solar? Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang berharap harga bahan bakar mesin diesel tersebut naik. Saat ini diakuinya ada kerugian menjual solar dengan harga Rp 5.150 per liter. Namun, dia enggan menyebut harga keekonomian solar saat ini. ’’Solar memang sudah rugi. Jadi, kami sudah meminta untuk dinaikkan,’’ ujarnya.

Mengenai kemungkinan kenaikan harga solar, direksi yang akrab disapa Abe itu menyatakan bisa dilihat dari pergerakan harga MoPS gasoline. Dia belum tahu harga terbaik untuk kedua produk lantaran pemerintah belum menentukan sikap. ’’Kami mengusulkan dua pilihan, rata-rata enam bulan atau tiga bulan,’’ tuturnya.

Meski pemerintah sudah menentukan opsi perubahan harga setiap tiga bulan, usul lebih dari itu juga memungkinkan. Sebab, Pertamina diminta tidak menaikkan harga sejak April sampai saat ini.’’Harga saat ini berbasis MOPS rata-rata Januari, Februari, dan Maret. Tanggal 1 Juli seharusnya harga naik, tapi ditahan karena puasa dan Lebaran,’’ terangnya. Harga solar perlu dinaikkan karena subsidi sudah dikurangi dari Rp 1.000 per liter menjadi Rp 500 per liter. (dim/c14/sof/jpnn/ila)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *