Hewan Dikebiri Makin Gemuk, Manusia Gimana?

Nasional
Suntik kebiri-Ilustrasi
Suntik kebiri-Ilustrasi

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Mulai kemarin, hukuman kebiri resmi diberlakukan bagi para penjahat seksual terhadap anak. Secara teknis, selain suntik kebiri secara kimiari, sanksi yang diberikan kepada penjahat seksual anak itu akan dilakukan pemasangan alat deteksi elektronik, sehingga pergerakan pelaku bisa dideteksi setelah keluar dari penjara. Tak cukup disitu, pelaku bisa dijerat hukuman mati, hukuman seumur hidup, maksimal 20 tahun dan minimal 10 tahun penjara.

Seperti apa suntik kebiri dan bagaimana dampaknya suntik kebiri bagi manusia? Guru Besar Biologi Medik dan Genetika Medik, dari Universitas Indonesia, Prof Wahyuning Ramelan menjelaskannya secara rinci. Kata dia, secara garis besar suntik kebiri jika disuntikkan kepada manusia dampaknya tidak jauh berbeda dengan penyuntikan kebiri terhadap kucing. Bisa berbadan gemuk, dan tidak ingin melakukan hubungan seksual.


“Tapi tidak semua akan berbadan gemuk. Karena hormonal setiap manusia itu berbeda,” ujar Wahyuning saat berbincang dengan Rakyat Merdeka (Jawa Pos Group), semalam.

Dokter Spesialis Andrologi ini menyatakan, jika nantinya para predator anak dilakukan suntik kebiri secara kimia, maka dampak awal yang akan muncul adalah dampak psikologis. Pasalnya, suntikan kimia itu akan menyumbat hormon seksual seseorang.

“Umumnya, tidak ingin melakukan seksual, alias tidak bangun,” candanya sambil tersenyum.

Namun, kata Wahyuning, bisa saja seseorang berdampak negatif terhadap zat kimia yang masuk melalui suntik kebiri. Misalnya, menghambat fungsi tubuh. “Tapi, kalau zat kimianya hilang, maka yang disuntik itu akan kembali normal hasrat seksualnya,” pungkasnya.

Tak jauh beda dengan Dokter Wahyuning, Sekjen Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr. Adib Khumaidi mengatakan, dampak suntikan kebiri terhadap seseorang lebih berdampak pada hilangnya dorongan seksual, daripada dampak fisik. Sederhananya, jika yang disuntik adalah seorang pria, maka pria tersebut akan condong bersifat lebih feminim.

“Biasanya, terhadap lawan jenis dia menjadi tidak tertarik. Tapi perlu kita kaji kembali, karena tindakan medis ini belum pernah dilakukan,” ujar Adib kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Namun, ada yang mengganjal bagi Adib terkait sanksi ini. Dia mempertanyakan, siapa yang nanti akan melakukan eksekusi kebiri ini. Karena kalau dokter yang harus mengeksekusi terbentur kode etik. Pasalnya, secara profesi dan kode etik, dokter tidak boleh menyakiti atau menyiksa seseorang melalui tindakan medis.

“Ini menyalahi sumpah dokter, kondisi pasien kan sehat, tapi kenapa disakiti. Nah, ini yang perlu diatur dan dibahas pemerintah, siapa yang melakukan eksekusi. Kalau dokter terbentur kode etik,” katanya.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *