Ikuti Lomba Batik Shibori asal Jepang

Metropolis
BATIK:  Foreindo foto bersama di sela-sela   ajang lomba membuat batik Shibori di Kedai Dapoer Jamu Makjul, Jalan STM Nomor 41 Medan, Senin (17/8). Lomba tersebut dalam menyambut HUT RI.
BATIK: Foreindo foto bersama di sela-sela ajang lomba membuat batik Shibori di Kedai Dapoer Jamu Makjul, Jalan STM Nomor 41 Medan, Senin (17/8). Lomba tersebut dalam menyambut HUT RI.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dalam rangka Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-75, ibu-ibu pengusaha Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) se-Sumatera Utara (Sumut) yang tergabung di dalam Forum Entrepreneur Indonesia (Foreindo), mengikuti ajang lomba membuat batik Shibori di Kedai Dapoer Jamu Makjul, Jalan STM Nomor 41 Medan, Senin (17/8). Acara dimulai Pukul 14.00 WIB hingga selesai.

“Lomba ini bertemakan ‘Merah Putih’, dan baru pertama kali diadakan di Kota Medan. Foreindo sengaja membuat lomba batik Shibori ini. Sebab, terkait ke arah bisnis yang disukai oleh para pelaku UMKM,” ujar Ketua Foreindo Lia Anwar kepada Sumut Pos, saat ditemui di lokasi lomba tersebut.


Lia menuturkan, peserta yang ikut semuanya perempuan, berjumlah 10 orang. Hal ini sengaja dibatasi karena masih dalam kondisi Covid-19. Sehingga, tetap menjaga protokol kesehatan. Peserta dikenakan biaya pendaftaran Rp150.000 per orang, dan sudah mendapatkan paket lomba dan souvenir, seperti kain putih katun prima rajawali sepanjang 2 meter, masker merah putih, handsanitizer, perlengkapan pewarnaan kain dan lain sebagainya.

“Alhamdulillah, peserta begitu antusias mengikuti lomba ini, karena selain dapat ilmu yang mengarah ke bisnis juga termotivasi untuk menciptakan seni kreativitas terbaik. Hasil karya nya nanti pun untuk peserta sendiri. Bahkan, ada peserta dari Deliserdang dan Siantar,” ujarnya.

Dijelaskannya, batik Shibori berasal dari Jepang. Sebenarnya, batik ini meniru batiknya Indonesia dengan gaya teknik Jepang, yakni melipat, melilit, mencelup dan mewarnai, sehingga nanti hasilnya seperti seni karya abstrak di atas kain katun.

Batik Shibori masih terdengar asing di Sumut. Karena itu Lia mencoba mengenalkannya kepada masyarakat, khususnya di Kota Medan. “Tetapi, kita coba mengenalkannya di komunitas kita dulu, yakni Foreindo,” ujarnya.

Untuk pewarnaan, kata Lia, ada beberapa jenis warna yang bisa digunakan, seperti remasol, napthol dan sebagainya. Namun, pihaknya menggunakan warna remasol, karena warnanya lebih cerah dan berbentuk bubuk. Dalam teknik mewarnai, menggunakan air dan water blush. Water blush ini kegunaannya untuk mengunci warna agar tidak luntur dan melekat ke kain.

“Hasil batik Shibori ini, masing-masing peserta tidaklah sama, karena terbentuk secara abstrak, ada yang bentuknya kotak-kotak, bulat-bulat, segitiga, bercak-bercak, dan sebagainya,” bebernya.

Uniknya, kata Lia, pola Shibori ini anti gagal, seperti apa nanti melipat dan mengikatnya, seperti itulah nanti hasilnya. Sehingga nantinya, jika ingin membuat lagi akan berbeda hasilnya, meski yang membuat adalah orang yang sama. “Jadi gak bisa ditiru pola dan motifnya. Semua sesuai kreatifitas masing-masing orang. Lalu, mengapa menggunakan kain katun prima Rajawali, sebab kain tersebut yang bisa langsung dipakai tanpa di mordan lagi, yakni dibuka dulu pori-pori kainnya, dengan cara direbus terlebih dahulu menggunakan tawas,” ungkapnya.

Setelah diberikan warna, sebut Lia, hasilnya dijemur, namun dengan cara dibentangkan di tanah, agar warnanya tidak melebar mengenai corak yang lain. Untuk warna remasol harus dijemur di bawah sinar matahari. Hal ini berbeda dengan naptol, yang harus dijemur di dalam ruangan. Untuk pewarnaan remasol, jika mataharinya terik, maka hanya butuh 15 menit saja dan hasilnya sudah terlihat.

“Setelah itu baru kita seleksi, yang terbaik dan paling bagus akan mendapatkan hadiah berupa paket produk UMKM dari Foreindo. Alhamdulillah, lombanya berjalan lancar. Hasil dari kreativitas Shibori ini juga bisa dijadikan berbagai macam produk, seperti baju, tas, seprai, dan sebagainya. Shibori juga bisa dibuat di atas baju yang sudah usang, agar dapat dipakai kembali dan terlihat seperti baru,” pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang peserta Pemilik salah satu cafe di Kota Medan, Yani mengungkapkan rasa senangnya mengikuti lomba tersebut. Awalnya ia merasa penasaran sehingga ikut pelatihan dan akhirnya ke ajang lomba. “Apalagi, lomba ini juga bisa ke arah bisnis, hasilnya bisa dijual juga,” katanya. (mag-1/ila)

loading...