Ingin Selesaikan Tesis dan Urus Keluarga

Nasional

Di Balik Keputusan Theresia “Tere” Pardede Mundur dari DPR

Karir politik Theresia Pardede atau yang akrab disapa Tere resmi berakhir. Secara legawa, anggota dewan yang berlatar belakang penyanyi itu memilih mundur dari anggota dewan sekaligus keanggotaan Partai Demokrat. Benarkah karena alasan keluarga?


Tere masuk ruangan jumpa pers koordinatorat DPR Jumat (1/6) dengan memapah ayahnya, Tombang Mulia Pardede. Sang ayah tampak lemah karena penyakit komplikasi jantung dan gula yang diderita. Tere hadir mengenakan blazer hitam sedangkan ayahnya memakai batik warna merah bata. Mereka didampingi anggota keluarga Tere yang lain.

Tanpa berbasa-basi, Tere langsung menyampaikan keputusannya untuk mundur dari anggota DPR yang sudah dijalani selama tiga tahun ini. Saran dari orangtua menjadi alasan utama dirinya mengundurkan diri sebagai wakil rakyat.
“Ayah meminta saya untuk segera menyelesaikan tesis,” ujar perempuan yang selama ini aktif di komisi X itu.

Tere menuturkan, ayahnya meminta dirinya untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan. Karena itu, sebagai salah satu cara untuk mewujudkan harapan ayahnya tersebut, Tere harus segera menyelesaikan tesis di Jurusan Komunikasi Politik Pascasarjana FISIP UI. Tugas itu terbengkalai sejak Tere aktif menjadi anggota Fraksi Partai Demokrat DPR.

Alasan lain yang dirasa paling krusial, kata pelantun lagu Awal yang Indah tersebut, adalah faktor keluarga. Di antaranya menyangkut kesehatan sang ayah. Tere mengaku, sejak ayahnya terkena serangan jantung pada pertengahan 2011, timbul keinginan dirinya untuk mundur. Namun, keinginan itu masih bertolak belakang dengan komitmen pribadinya sebagai anggota dewan. “Saya sudah memikirkan itu (mundur, Red) sejak pertengahan tahun lalu,” ujarnya.

Keinginan mundur tersebut muncul lagi setelah berbagai masalah pribadi menerpa dirinya. Sepanjang 2012, Tere harus menghadapi berbagai cobaan dalam kehidupan pribadinya. Salah satunya, gugatan cerai yang dilayangkan ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan atas suaminya, Eka Nugraha. Tere tidak pernah mengungkapkan secara gamblang alasan dirinya mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya yang sudah mendampingi selama 11 tahun itu.

Kehidupan pribadi Tere semakin terganggu setelah ibunya, Lersiana Purba, meninggal karena kanker rahim pada 16 April lalu. Setelah dirawat selama 40 hari di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, Lersiana akhirnya mengembuskan napas terakhir. Sebelum meninggal, Lersiana mengalami kelumpuhan selama 23 tahun.

Tere mengakui, berbagai masalah di dalam keluarga menjadi faktor dirinya untuk memutuskan mundur dari aktivitas anggota dewan. Sejak awal 2012, dia jarang menjalani kewajiban sebagai anggota DPR. “Saya sudah tidak bisa mengikuti rapat-rapat di DPR,” ungkapnya.

Bagi Tere, menjadi anggota dewan membutuhkan totalitas. Namun, karena totalitas itu tidak lagi didapat, dia memilih mengundurkan diri saja. Selama enam bulan terakhir, Tere mengaku melakukan apa yang dia sebut spiritual journey untuk mengambil keputusan penting tersebut. “Ini keputusan berat dan penting bagi hidup saya,” ujarnya. “Saya tidak ingin menjadi anggota dewan yang hanya titip absen,” sindirnya.

Pernyataan Tere tersebut terkesan mengingatkan kebiasaan buruk sejumlah anggota dewan yang hadir hanya menitipkan presensi melalui staf pribadinya.

Meski legawa mundur, Tere menyesal belum bisa memperjuangkan aspirasi para seniman, khususnya terkait dengan UU Hak Cipta di dunia kesenian. Dia berharap pengganti dirinya dan teman-teman artis yang kini duduk di Senayan terus memperjuangkan cita-cita itu. “Masih ada Mbak Inggried, Rieke Diah Pitaloka, Mas Tantowi Yahya, Eko Patrio, yang bisa bersuara di gedung dewan,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 2 September 1979, tersebut.

Selama dua tahun delapan bulan menjadi wakil rakyat, Tere tidak pernah meninggalkan identitasnya sebagai seniman. Dia masih membuat lagu. Buktinya, lagu berjudul Nol Besar merupakan salah satu karya Tere saat menjadi anggota dewan. “Lagu itu saya compose sendiri untuk relaksasi. Sebagai komposer, saya masih aktif,” tegasnya.

Selain mundur dari anggota dewan, Tere mengundurkan diri dari keanggotaan Partai Demokrat. Surat pengunduran dirinya telah dilayangkan pada 21 Mei lalu. “Pengunduran dari DPR dan Demokrat sudah saya sampaikan secara tertulis,” ujarnya.

Saat ditanya apakah pengunduran diri itu terkait dengan kekecewaannya terhadap dunia politik dan partai, Tere menjawab diplomatis. Dia mengakui, dirinya memasuki dunia politik di tengah karut-marut banyaknya politikus, termasuk di Partai Demokrat, yang tersangkut kasus hukum. Dia menilai ada kontradiksi antara ilmu yang dimiliki dan praktik dunia politik yang dijalani. “Saya belum melihat adanya jembatan antara teori dan praktik,” ungkapnya.

Meski begitu, Tere tidak kecewa telah masuk dunia politik. “Kalau kecewa, nanti semua orang akan kecewa. Saya hanya menyayangkan (perubahan sikap) orang-orang yang berkomitmen sejak awal,” ujarnya.

Keputusan untuk mundur, lanjut dia, memang bukan hal yang lazim terjadi di dunia politik Indonesia. Namun, keputusan itu sesuai dengan sikap politik Partai Demokrat yang selama ini kerap didengungkan. “Saya mencintai Partai Demokrat. Keputusan ini sesuai dengan komitmen sebagai politisi cerdas dan santun,” tegasnya.

Tere mengakui, banyak hal yang dia dapatkan selama menjadi anggota dewan. Menurut dia, dunia politik memiliki banyak improvisasi dari teori. Improvisasi juga berlaku di dunia seni tarik suara. “Politik itu banyak improvisasi, namun harus diusahakan supaya tetap sama tujuannya, tidak fals, dan enak didengar,” katanya.

Apakah kelak kembali ke dunia politik” Tere tidak menjawab secara langsung. Dia hanya menegaskan bahwa komitmen utamanya saat ini adalah bersama keluarga. “Saya ingin menjadi bagian dari masyarakat madani. Kalau kata John Lennon (vokalis The Beatles, Red), hidup tanpa politik,” ujarnya.
Ayah Tere, Tombang Mulia Pardede, menambahkan, dirinya selama ini memang mengajarkan kepada Tere untuk berani mundur dari sebuah jabatan. Dia mencontohkan dirinya yang memutuskan pensiun dini untuk merawat Lersiana, ibu Tere, yang tengah sakit saat itu. “Saya mengambil pensiun ketika ditawari jabatan eselon II,” ujar pria sepuh tersebut.

Tombang juga membenarkan bahwa dirinyalah yang mendorong Tere untuk segera menyelesaikan studi pascasarjananya. Bagi dia, Tere harus bisa meneruskan cita-citanya sendiri untuk meraih gelar doktor.

“Pengabdian bukan hanya sebagai pelayan publik di eksekutif dan legislatif, tapi juga bisa mencerdaskan rakyat Indonesia,” tegasnya. (*/c5/ari/jpnn)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *