Ingin Teruskan Perjuangan Sitor Pertahankan Opera Batak

Metropolis
Foto: METRO SIANTAR/DHEV BAKKARA Foto: Anak dan istri almarhum Sitor Situmorang berbincang dengna budayawan Thomson HS di Sanggar Pusat Latihan Opera Batak (PLOT), Pematangsiantar.
Foto: METRO SIANTAR/DHEV BAKKARA
Foto: Anak dan istri almarhum Sitor Situmorang berbincang dengan budayawan Thomson HS di Sanggar Pusat Latihan Opera Batak (PLOT), Pematangsiantar.

Adegan itu tertangkap dalam jepretan Dhev Bakkara. Dalam fotografer Metro Siantar (grup Sumut Pos) itu juga tergambar latar belakang pepohonan hijau. Lantai batu berlumut. Kursi plastik. Dan, tak ketinggalan beberapa cangkir minuman dan lappet – panganan yang terbungkus daun pisang – di atas meja yang juga plastik. Suasana teduh dan nyaman begitu terasa.

Sejatinya foto itu tak begitu istimewa jika yang di dalam frame itu bukan Barbara Brouwer, Leonard Bumbunan Situmorang, dan Thompson HS. Ya, istri dan anak bungsu Sitor Situmorang yang sedang berbincang dengan Budayawan Sumut. Lokasinya pun di Pusat Pelatihan Opera Batak (PLOt) di Jalan Bah Bolon, Kelurahan Suka Dame, Pematangsiantar. Perbincangan itu pun mengalir dengan menggunakan bahasa Indonesia. Barbara dan Leonard seolah sudah sangat terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia.


Perbincangan ketiganya berujung pada keinginan meneruskan perjuangan Sitor Situmorang mempertahankan dan memelihara Opera Batak. Mereka ingin turut serta langsung menggelar Opera Batak yang rencananya dimulai pada 2016 di Harianboho, Samosir. Leonard yang hobi membaca ini nantinya akan terlibat langsung dalam pementasan.

“Bapak selalu bilang kalau saya tidak boleh meninggalkan budaya. Budaya Batak yang telah mengalir di darah saya,” katanya.

Dalam opera yang dilakukan nantinya akan mengusung pementasan opera berjudul Op Pulo Batu, karya sang ayah yang sebelumnya sudah ditampilkan di beberapa negara. Leonard berharap, nantinya generasi-generasi penerus ayahnya akan muncul dari Tanah Batak.

“Saya harap, bukan cuma kami yang ingin meneruskan perjuangan bapak, tapi masyarakat Batak lainnya. Kecintaan terhadap tanah kelahiran, tanah leluhur adalah cara bagi kita untuk memperkenalkan itu ke dunia dan bapak saya sudah membuktikannya. Saya tunggu generasi berikutnya,” kata pria yang saat ini masih meneruskan pendidikannya di Nepal tersebut.

Dalam perbincangan ditemani air hangat dan lappet (salah satu makanan khas Batak) yang tersaji di piring kaca, mereka juga membicarakan perjalanan mereka selama di Kota Siantar seharian. Aneka kuliner dan tempat wisata dan tempat bersejarah mereka datangi. Mereka juga mencoba kendaraan ikon Kota Siantar, becak motor BSA.

“Saya coba untuk menumpangi kendaraan perang pada zaman dahulu dan kendaraan ini di sini (Kota Siantar) yang kini menjadi kendaraan komersil,” terang ibunda Leonard, Barbara Brouwer seraya tersenyum.

Barbara yang merupakan istri kedua Sitor ini, sangat ingin masyarakat Indonesia dapat menjadi sastrawan yang hebat dan belajar dari upaya yang dilakukan suaminya. Ia bahkan menceritakan bahwa suaminya merupakan sosok yang tidak mudah menyerah dan selalu memegang penuh prinsip dalam hidupnya.

Karya-karya Sitor juga pernah ditampilkan di beberapa daerah di Indonesia dan juga beberapa di mancanegara. “Karya suami saya juga pernah ditampilkan di Jakarta sekitar tahun 1981 yang dihadiri ribuan massa dan pejabat pada masa itu,” katanya.

Ia juga meminta kepada masyarakat Batak agar mendukungnya untuk menerbitkan kembali hasil karya suaminya. Ia sangat ingin suaminya tetap menjadi inspirator bagi banyak orang agar dapat mencintai tanah leluhur mereka dan mencintai adat budayanya.

“Kami bekerja sama dengan Thompson agar kita bisa mengembangkan kembali karya-karya suami saya. Kita akan mencetak ulang buku-buku karya suami saya dan semoga ini bermanfaat bagi masyarakat, khususnya suku Batak,” terangnya.

Menyikapi hal tersebut, Thompson berencana untuk melanjutkan perjalanan seni maestro yang memiliki nama kecil Raja Usu Sitor Situmorang ini. Karya-karya Sitor akan ditampilkan kembali untuk mengenang kembali Sitor yang merupakan sastrawan yang sangat terkenal.

Thompson akan selalu melakukan gerakan kebudayaan untuk mengenang kembali karya tokoh nasional. Salah satunya, pementasan Op Pulo Batu yang akan dimulai dari Desa Harianboho, Samosir, pada 2016 mendatang dan juga dilakukan di kota-kota besar di Indonesia hingga ke mancanegara, terutama di Belanda.

Opera Pulo Batu yang nantinya akan mereka tampilkan dalam pementasan tersebut merupakan sebuah fakta sejarah yang direfleksikan dalam bentuk teater yang menceritakan tentang perjuangan Raja Sisingamangaraja XII melawan kolonialisme Belanda. Namun, ada suatu sosok yang sangat besar dan betapa penting peranannya dalam memperjuangkan Tanah Batak dari cengkeraman kolonialis.

“Beliau adalah Raja Oppu Babiat gelar Raja Cyrus Situmorang. Terlepas dari hubungan kekerabatan yang begitu dekat, ia selalu setia ikut berjuang dan keluar masuk hutan belantara untuk melindungi sekaligus menjadi penasihat Raja Sisingamangaraja XII,” jelas Thompson.

Thompson menambhkan persiapan pementasan karya Sitor akan mulai dikerjakan awal tahun ini di rumah produksinya, tentunya melibatkan masyarakat Batak, terutama generasi muda. Supaya generasi muda lebih dapat menghargai dan mengerti serta turut mencintai, bukan sekadar melestarikan budaya. Sehingga lebih menemukan ciri dan jati diri yang sesungguhnya. (sawaluddin/smg/rbb)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *