Istri Cantik tapi Psikopat, Suami Kerap Dihajar hingga KO

Hukum & Kriminal SKETSA
Istri psikopat-Ilustrasi

SUMUTPOS.CO – Punya istri cantik dan kaya-raya memang bikin bangga. Tapi kalau dia seorang psikopat yang justru suka menghajar suami, yang terjadi sungguh miris.

Itulah pengalaman Tongat (37), yang justru harus mendapatkan bogem mentah bertubi-tubi dan jadi korban penindasan sang istri.


Majelis hakim Pengadilan Agama (PA) masih belum percaya jika sosok Butet (35) adalah seorang psikopat. Sebab tampilannya sungguh sopan, kalem, dan nada bicaranya juga lemah lembut. Badannya pun kecil, ramping, mungil, dengan tatapan mata yang sayu. Sehingga, siapa pun mungkin tak akan pernah menyangka jika dia adalah seorang psikopat.

“Majelis hakim yang terhormat juga tidak percaya. Saya sampai disuruh bawa bukti hasil uji kejiwaan dari dokter. Ya saya enggak bawa karena tidak begitu respek kalau dia periksa ke dokter. Kirain kayak sakit kepala saja penyakitnya,” ungkap Tongat (37), usai sidang talak cerai.

Bersama orang tuanya, Tongat mengaku kini harus berjuang dan berupaya keras mendapatkan bukti surat uji kejiwaan dari dokter soal penyakit psikopat sang istri.

Pasalnya, selama ini surat hasil pemeriksaan dokter jiwa itu selalu disembunyikan istrinya.dia juga tidak berani membawanya, lantaran takut akan dihajar mati-matian oleh sang istri.

Pria yang bekerja sebagai guru tidak tetap (GTT) di sebuah sekolah swasta itu mengaku takut dengan penyakit istrinya. Apalagi, sang istri suka ringan tangan dan bakal menghajarnya habis-habisan jika menemukan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginannya.

“Ibarat main tinju, saya sudah dihabisi 10 ronde. Kadang, saya sampai tidak bisa mengajar seminggu gara-gara teler dihajar,” ucap Tongat yang dari fisiknya justru lebih gemuk dibanding sang istri.

Tidak hanya Tongat, orangtuanya juga kerap jadi mangsa ganas sang istri. Sebab dengan tinggal bersebelahan, Butet bisa kapan saja masuk ke rumah mertuanya.

“Ya gitu, gak jelas sebabnya dia langsung kumat. Aku diikat, terus dihajar. Ayah dan ibuku juga gitu. Kebetulan, ayah dan ibu tinggal terpisah. Jadi mereka juga pasrah dengan tindakan istri. Mau lapor tetangga malah malu, soalnya rumah yang kami tinggali warisan almarhum mertua,” jelasnya.

Sejak muda, orangtua Tongat bekerja dengan menjaga toko orangtua Butet. Sampai akhirnya, Tongat dinikahkan dengan Butet dan melanjutkan bisnis keluarga. Setelah orangtuanya meninggal, Butet sebagai anak tunggal yang melanjutkan bisnis toko grosir dibantu orangtua Tongat. Sedangkan Dondon mengajar di pagi hari dan membantu berjualan di toko pada sore hari.

“Sebenarnya kami nggak kaya banget. Alhamdulillah, kecukupan. Tapi ya gitu, kalau dia kumat malah bikin deg-degan terus karena saya bisa di-KO setiap waktu,” kata Tongat.

Sementara itu, Butet mengaku kalau tudingan suaminya itu hanya fitnah. Pasalnya, dia menduga keluarga Tongat mengincar harta warisan orangtuanya.

Sehingga mereka memfitnahnya agar berpisah dengan suami dan mendapatkan bagian harta. “Demi harta, apa sih yang nggak bisa dilakukan,” katanya.

Disinggung apakah sering menghajar suami dan mertuanya seperti pengakuan Tongat kepada majelis hakim, Butet mengaku memang sering mengomel karena mereka dianggap lemot dan kurang tanggap.

“Kurang cepat kerjaannya, ya saya omeli. Sedikit-sedikit, kadang saya memang marahi dan kalau tidak bisa berubah ya saya pukul. Tapi sedikit-sedikit,” pungkasnya. (jpg)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *