Junjung Sportivitas, Saling Berbagi Trik

Metropolis

Aksi Skater Medan di Ajang Garage 1817

Tak kenal menyerah meski berungkali badan harus mencium lantai. Budi selalu bangkit dan kembali mencoba. Satu keyakinan yang pasti, satu saat nanti dirinya bisa menaklukkan skateboard miliknya.


INDRA JULI, Medan

Budi merupakan salah satu skater yang meramaikan Garage 1817 yang digelar di Pendopo Universitas Sumatera Utara, Jalan Universitas Kampus USU Medan, Selasa (1/3). Sebuah even yang digagas label Garage 1817 sebagai ajang unjuk kebolehan para skater Kota Medan. Kegiatan yang diikuti 30 skater tersebut merupakan lanjutan seri I yang digelar Februari lalu.

Namun kali ini, kegiatan dilaksanakan dengan konsep yang berbeda agar memberikan suasana baru bagi seluruh peserta yaitu Skate Race dan Drop in Contest. Di kategori Skate Race, peserta dilepas sekali dua untuk melewati empat penghalang yang dibuat dari papan skate peserta dengan trick dasar dalam skateboard yaitu ollie (melompat, Red). Lomba sendiri diakhiri dengan trick kick flip board (memutar papan horizontal di udara, Red).

Kedua peserta pun meluncur setelah mendengar suara sirine dari toa panitia. Dengan penghalang yang dibuat mengikuti bentuk Pendopo tadi peserta harus melaju dengan kecepatan sedang. Peserta yang gagal melewati penghalang diwajibkan mengulang di bagian tersebut. Pemenangnya adalah peserta yang paling cepat menyelesaikan hambatan dan menutup dengan kickflip board tadi. Seluruh peserta yang terbaik kemudian dilaga sehingga tampil peserta yang terbaik. Tampil sebagai yang terbaik di kategori ini adalah Dicky.

Perlombaan kedua diberi nama droop in contest. Di sini seluruh peserta dituntut untuk menampilkan trick terbaiknya dengan melewati jumping yang terputus di bagian ujung. Trik dengan tingkat kesulitan yang tinggi dipastikan tampil sebagai pemenang. Masing-masing peserta diberi kesempatan lima menit untuk memperlihatkan kemampuannya. Dikategori ini Fikri yang tampil dengan trik ollie drop in keluar sebagai yang terbaik di kelas beginner. Sementara itu di kelas open, Dicky dengan trick kickflip tampil sebagai yang terbaik.

Selain lomba di dua kategori itu kegiatan ditutup dengan product tos dimana panitia membagi-bagikan produk kepada peserta sebagai motivasi untuk terus mengasah kemampuannya. “Kita di sini tidak memperebutkan uang karena acara ini juga dari kita untuk kita. Penghargaan berupa selembar piagam lebih berharga bagi kita karena itu diraih dengan jerih payah,” tegas Mario.

Ada hal menarik yang tertangkap dalam kegiatan ini di mana seluruh peserta terlihat memberi dukungan kepada siapa pun yang sedang turun. Tak persoalan asal label peserta tersebut. Begitu juga dengan semangat solidaritas yang begitu tinggi di antara skater ketika board milik Budi Rider Milker ini patah saat pemanasan. Dirinya kemudian dipinjamkan board dari peserta lain yang beda label dengannya.

Tak heran bila kegiatan skateboard di Kota Medan bisa terus eksis hingga sekarang sejak kehadirannya 1998 silam. “Dulu masih ingat zaman Bang Ardiansyah Siregar, ceritanya masih main di jalan aspal di depan pendopo karena belum ada izin dari pihak kampus. Peralatannya pun cuma double itu saja. Kemudian kita disuruh buat permohonan untuk bisa main di Pendopo,” ucap Road Manager Medan Skateboarding (SK 8), Dana Tambun.

Secara bertahap dan swadana satu per satu perlengkapan akhirnya dimiliki. Mereka pun eksis menggelar latihan setiap harinya di Pendopo USU dan tak jarang menggelar kegiatan seperti Garage 1817 ini. Selain menjalin tali silaturahmi antar skater yang ada, di situ juga mereka saling berbagi dan wawasan mengenai trik-trik bermain skateboard.

“Trik dasar itu disebut ollie atau melompat. Setelah itu tergantung kepada individu untuk mengembangkan trick permainannya. Makanya di skateboard ini tidak ada guru tapi di sini kita saling berbagi dan tetap memberikan support kepada yang lain. Dengan demikian menambah semangat untuk mencoba trik-trik lain,” jelas Diki SB yang masuk urutan tiga nasional 2010 lalu.

Namun meskipun Diki SB, Dodo, dan H Fadli Lubis yang beberapa kali mewakili Kota Medan di perhelatan skate nasional dan internasional, skateboard masih kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Buktinya hingga saat ini Kota Medan sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia belum memiliki Skate Park. Dampaknya Diki SB dkk pun kerap harus berpindah bahkan beberapa kali perlengkapan mereka dirusak oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

Dibanding dana APBD yang dikorupsi oleh para pejabat di Sumut, kalkulasi yang dilakukan Dana dkk untuk membangun Skate Park hanya membutuhkan Rp380 juta. Begitu pun Dana memastikan bila keberadaan Skate Park permanen di Kota Medan dapat memberikan masukan kepada pendapatan melalui pajak yang diterima. “Seperti di Kota Batam itu wali kotanya membangun Engku Putri Skate Park di depan rumah dinasnya. Bayangkan, label di skateboard ini punya dana iklan di skate park itu, hitungannya per centimeter. Belum lagi lokasi Kota Batam yang dekat dengan Singapura, Malaysia, dan Pulau Nias sebagai tujuan surfing. Berapa banyak devisa yang bisa didatangkan,” papar pria bertubuh tambun ini.(*)

loading...

3 thoughts on “Junjung Sportivitas, Saling Berbagi Trik

  1. thx buat sumut pos..
    makasih juga buat bg andri ginting yg udah mau repot2 nge wawancarain kami semua..
    jangan bosan2 ya bg,,,
    klo perlu tiap minggu di masukin ya bg..
    hehehhee

  2. mari para pemimpin daerah lebih responsive melihat antusias generasi muda dalam olahraganya, jangan hanya mendukung kegiatan yang memiliki bargain politik..kapan generasi muda benar-benar diperhatikan secara ikhlas.. ..???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *