Kasus Aktif Covid di Sumut 16.506

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Penambahan kasus Covid-19 di Sumatera Utara (Sumut) masih menunjukkan grafik yang tinggi. Akibatnya, hal ini pun berdampak pada peningkatan jumlah kasus aktif atau orang yang sedang terinfeksi virus corona.

TINJAU: Wali Kota Medan Bobby Nasution meninjau RS Tembakau Deli, beberapa hari lalu. RS ini batal jadi tempat isolasi pasien Covid karena kondisinya rusak parah.

BERDASARKAN perhitungan yang didapatkan dari data Kemenkes melalui BNPB, saat ini jumlah kasus aktif Covid-19 di Sumut telah melampaui 16.000 kasus, yakni 16.506 kasus pada Kamis (29/7). Jumlah ini meningkat sebanyak 1.165 orang dari hari sebelumnya, sebesar 15.341.


Untuk penambahan kasus baru konfirmasi positif sendiri, Sumut kembali memperoleh penambahan 1.588 orang, sehingga totalnya naik dari 56.087 menjadi 57.675 orang. Provinsi Sumut juga mencatatkan diri menjadi daerah penyumbang ketujuh terbanyak dari total 43.479 kasus baru nasional.

Sedangkan untuk kasus sembuh, Sumut memperoleh penambahan 410 orang, sehingga akumulasinya naik dari 39.319 menjadi 39.729 orang.

Dari penambahan ini, Sumut hanya menjadi Provinsi penyumbang terbanyak ke-18 dari total 45.494 kasus sembuh di Indonesia.

Lalu untuk kasus kematian, Sumut juga menambah 13 kasus baru dari 1.427 menjadi 1.440 orang. Namun Sumut hanya menjadi daerah penyumbang terbanyak ke-20 dari total 1.893 kasus kematian di Tanah Air.

Medan Pecah Rekor Harian

Sebelumnya, kasus harian positif Covid-19 di Kota Medan pecah rekor. Jika sebelumnya, rata-rata jumlah terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Medan masih berkisar 300 hingga 500-an kasus per hari, pada Rabu (28/7) lalu, mencapai 731 kasus. Dengan begitu, saat ini jumlah terkonfimasi positif Covid-19 di Kota Medan telah mencapai 26.605 kasus.

Dikonfirmasi mengenai hal itu, Wali Kota Medan Bobby Nasution mengatakan, meningkatnya angka konfirmasi positif Covid-19 di Kota Medan dikarenakan testing yang saat ini terus ditingkatkan oleh Pemko Medan. Bobby bahkan merincikan, saat ini positivity rate di Kota Medan mencapai angka 23 persen, dengan jumlah testing sebanyak 2.900 per hari.

“Saat ini testing memang sedang kita tingkatkan menjadi 2.900 per hari. Itu yang menjadi penyebab meningkat angka positif (Covid-19). Sebelumnya (testing) masih di bawah 2 ribu per hari,” jawab Bobby, Kamis (29/7).

Dikatakan Bobby, untuk ketersediaan tempat tidur pada sejumlah rumah sakit untuk pasien Covid-19 di Kota Medan, Pemprov Sumut telah memberikan tambahan sebanyak 735 tempat tidur (bed), khusus untuk Kota Medan. Selain 735 bed dari Pemprovsu, Pemko Medan juga telah menyiapkan tambahan bed sebanyak 382 buah. “Kita mendapatkan tambahan bed dari Pemprov, dan dari Pemko Medan sendiri juga sudah mempersiapkan 382 bed,” katanya.

Selain persiapan penambahan bed, terang Bobby, saat ini Pemko Medan juga tengah berfokus dalam menyalurkan bantuan sosial (Bansos) kepada masyarakat terdampak PPKM Level 4. Khusus Bansos dari APBD Kota Medan, bantuan disalurkan untuk 123.592 Kepala Keluarga.

Masing-masing KK berhak mendapatkan satu paket yang terdiri dari 20Kg Beras, 2Kg Gula Pasir, dan 1 Liter Minyak Goreng. “Di luar bantuan itu, ada juga bantuan sosial dari pemerintah pusat untuk 88.000 Kepala Keluarga di Kota Medan yang terdiri dari Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Sosial Tunai (BST) untuk warga,” terangnya.

Seperti diketahui, angka terkonfirmasi positif Covid-19 harian di Kota Medan kembali melesat dan memecahkan rekor. Berdasarkan data yang diupdate BPBD Kota Medan pada Rabu (28/7), Pukul 19.37 WIB, penambahan kasus pada hari itu bertambah 731 kasus. Dengan demikian, Kota Medan mencatatkan 26.605 kasus terkonfirmasi positif hingga hari ini.

Sementara di hari yang sama, angka suspek juga meningkat 760 kasus menjadi 36.747 kasus. Angka kesembuhan juga terpantau naik 371 kasus, dengan demikian total ada 20.124 kasus kesembuhan di Kota Medan hingga saat ini.

Ironisnya, kasus kematian karena Covid-19 di Kota Medan juga meningkat. Tercatat ada 10 kasus kematian yang terjadi pada Rabu kemarin, karenanya total kasus kematian bertambah menjadi 676 kasus.

Menanggapi hal ini, Pimpinan DPRD Kota Medan, H.Ihwan Ritonga mendukung langkah Pemerintah Kota (Medan) yang meningkatkan testing Covid-19 secara signifikan, yakni dari rata-rata 2.000 testing per hari menjadi 2.900 testing per hari. Pasalnya, peningkatan testing akan lebih banyak menjaring masyarakat yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Ihwan menilai, angka positif Covid meningkat karena meningkatnya testing adalah hal yang wajar dan memiliki sisi positif yang cukup besar. “Karena dengan demikian, akan lebih banyak masyarakat yang melakukan isolasi dan dapat ditangani dengan cepat sebelum menularkan ke lebih banyak orang. Berbeda misalnya kalau jumlah testing harian tidak ditingkatkan, tapi yang terkonfirmasi terus meningkat,” kata Ihwan kepada Sumut Pos, Kamis (29/7).

Selain testing, Wakil Ketua DPRD Medan asal Fraksi Partai Gerindra itu juga meminta Pemko Medan untuk turut meningkatkan Tracing dan Treatment, sebagai satu kesatuan dari program 3T, yakni Testing, Tracing, dan Treatment. “Tapi kalau saya menilai, Pemko Medan sudah cukup maksimal dalam menekan penyebaran Covid-19 di Kota Medan. Harapan kita tentunya, kalau bisa ditingkatkan lagi, pasti akan lebih baik,” ujarnya.

Terkait angka kematian akibat Covid-19 di Kota Medan yang mencapai 10 orang dalam satu hari, Ihwan mengaku turut prihatin dam berduka atas kejadian tersebut. Untuk itu, Ihwan pun meminta masyarakat Kota Medan untuk mendukung penuh langkah pemerintah dengan disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan, mulai dari patuh dalam memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, hingga mengurangi mobilitas.

“Sudah banyak yang meninggal dunia, apalagi alasan kita untuk tidak percaya adanya Covid-19 ini. Ayolah, kita sama-sama mematuhi prokes ini, demi kesehatan kita semua, demi kebaikan dan kesehatan kita semua. Makin banyak yang patuh, makin banyak yang terselamatkan,” pungkasnya.

Pendekatan Spritual

Banyak sudah korban meninggal dunia akibat terpapar Covid-19. Di saat itu pula, keluarga yang ditinggalkan mengalami kesedihan bahkan berujung trauma. Meski begitu, trauma masih bisa diatasi, salah satunya dengan pendekatan spiritual.

Psikolog Irna Minauli mengungkapkan, saat ini masyarakat bukan hanya membutuhkan cara bagaimana untuk mengantisipasi agar tidak terpapar dan sembuh dari Covid-19. Melainkan, juga membutuhkan cara bagaimana bangkit kembali dari trauma pasca ditinggalkan keluarga yang terinfeksi virus tersebut.

Irna menjelaskan, pada dasarnya ketika seseorang dihadapkan pada fase duka cita, mereka akan mengalami beberapa fase. Pertama, akan mengalami fase ‘Denial’ atau penyangkalan. “Ini merupakan rasa tidak percaya bahwa dia sudah meninggal. Seringkali ada perasaan seolah-olah dia masih ada, masih mendengar suara atau bayangannya,” ungkap Irna, Kamis (29/7).

Kedua, lanjut Irna, fase ‘Anger’ atau kemarahan. Di fase ini, mereka menjadi marah karena seolah menjadi penyebab kematian atau tidak bisa melakukan sesuatu guna mencegah kematiannya. “Kemarahan bisa ditujukan ke diri sendiri atau orang lain,” ucapnya.

Selanjutnya, fase ‘Bargaining’ atau tawar-menawar. Mereka membayangkan bagaimana seandainya dulu dilakukan ini atau itu. “Kemudian, akan masuk ke fase ‘Depression’. Disini lah akan muncul perasaan murung atau kesedihan yang mendalam ketika menyadari bahwa orang yang dicintainya telah tiada,” terang Direktur Minauli Consulting ini.

Pada fase depresi, kata Irna, jika tidak ditangani dengan baik maka akan menimbulkan trauma dan akan kembali ke fase-fase di bawahnya (penyangkalan, kemarahan dan tawar-menawar). “Akan tetapi kalau fase depresi bisa diatasi, maka masuk ke fase terakhir yaitu ‘Acceptance’ (penerimaan). Biasanya ini cara paling ampuh dalam mengatasi depresi dan trauma adalah dengan pendekatan spiritual. Sebab, menyadari bahwa setiap makhluk akan meninggal dan setiap kejadian pasti ada hikmah di baliknya,” paparnya.

Irna menyampaikan, dukungan sosial dari teman atau keluarga lainnya juga akan sangat membantu. Mereka bisa menemani ketika sedang bersedih atau membutuhkan pendampingan. Bisa memberikan informasi atau bantuan langsung (instrumental), misalnya membantu secara ekonomi atau praktis dengan memberi makan atau mengawasi anak-anak ketika ibu sedang sedih. “Membangkitkan kembali harga diri juga akan membantu seseorang bangkit dari duka citanya,” ujarnya sembari menambahkan, pada kasus Covid-19 kadang kondisi-kondisi ini akan diperburuk dengan adanya stigma buruk dari masyarakat yang kurang paham.

Terpisah, Plt Kadis Kesehatan Kota Medan Syamsul Arifin Nasution mengakui saat ini memang sudah banyak masyarakat yang meninggal disebabkan Covid-19. Dia meminta bagi keluarga yang ditinggalkan dan terkena musibah untuk kembali ke agama dan mengalihkan ke kegiatan lain. Karena, kalau terkena musibah apalagi akibat Covid-19 pasti meninggalkan rasa trauma. “Protokol kesehatan harus terus diterapkan secara konsisten, agar tidak terpapar dan ditimpa musibah akibat Covid-19,” ujarnya. (ris/map)

loading...