Kasus Covid-19 Tertinggi di Dunia, India Tembus Rekor, Indonesia Was-was

Internasional Nasional

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – India menembus rekor kasus harian Covid-19 tertinggi dunia pada Selasa (20/4) dengan angka kematian paling banyak selama pandemi melanda negara itu. Kementerian Kesehatan India melaporkan 259.170 kasus infeksi baru, rekor tertinggi di dunia. Selain itu, India juga mencatat rekor angka kematian harian terbesar di negara itu, yaitu mencapai 1.761.

REKOR: Seorang wanita menangis di India karena keluarganya kena Covid-19. Kasus harian Covid-19 di India tembus rekor tertnggi di dunia.

Secara keseluruhan, India sudah melaporkan 15,32 juta kasus Covid-19 sejak pandemi melanda. Dengan angka ini, India menempati urutan kedua setelah Amerika Serikat sebagai negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di dunia.


Sebagaimana dilansir Reuters, negara dengan populasi terbesar kedua di dunia itu pun terjerumus dalam situasi darurat kesehatan publik terbesar.

Kamar-kamar rumah sakit dilaporkan penuh dengan laporan kekurangan obat di berbagai daerah, sementara pusat-pusat kremasi juga kewalahan melayani permintaan yang mendadak melonjak.

Para warga di salah satu negara bagian terpadat di India, Uttar Pradesh, pun meminta bantuan melalui berbagai jejaring sosial untuk mencarikan rumah sakit bagi anggota keluarga mereka yang terinfeksi Covid-19.

Pemerintah Ibu Kota India, New Delhi, pun memutuskan memberlakukan lockdown selama enam hari penuh mulai Senin (19/4).

Ada dua penyebab kenaikan penularan corona di India. Pertama, abai protokol. Hampir semua negara bagian India mengalami lonjakan penularan corona. Namun, ribuan warga India tetap menghadiri ritual umat Hindu yakni mandi di sungai alias Kumbh Mela yang berlangsung di beberapa sungai besar di India, seperti Sungai Allahabad di Prayagraj, Ganges-Yamuna Sarasvati, Haridwar di Ganges, Nashik di Godavari, dan Ujjain di Shipra dalam beberapa waktu terakhir.

Dikutip AFP, para peserta ritual tersebut sama sekali tak mengindahkan protokol kesehatan seperti tak memakai masker dan tidak menjaga jarak. Ribuan orang di India lantas dinyatakan positif Covid-19 setelah perayaan Kumbh Mela.

Kedua, varian baru corona. Para ahli kesehatan masyarakat khawatir bahwa varian virus corona baru yang dinilai lebih ganas memperparah penularan Covid-19 di negara Asia Selatan itu.

Varian baru corona India ini disebut B1617 yang berasal dari mutasi ganda E484Q dan L452R. Varian corona baru ini terdeteksi pertama kali pada tahun lalu. “Ini adalah varian corona yang kami tinjau terus. Memiliki dua mutasi virus ini mengkhawatirkan,” kata Maria Van Kerkhove, pejabat teknis utama WHO pada Jumat pekan lalu.

Indonesia Was-was

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin berharap Indonesia tak akan mengalami lonjakan penularan virus corona (Covid-19) seperti dialami India dalam beberapa waktu terakhir.

Budi mengatakan lonjakan kasus di India terjadi saat tren pertambahan kasus menurun. Di saat yang sama, ia menganggap vaksinasi Covid-19 India berjalan lancar.

Selain Menkes, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy juga mengaku waswas atas kondisi lonjakan eksponensial kasus Covid-19 yang melanda India. Dengan kondisi global itu, ia menyebut pemerintah tengah waspada agar kasus serupa tidak terjadi di Indonesia.

Muhadjir lantas menyoroti menurunnya protokol kesehatan 3M di masyarakat yang dikhawatirkan dapat menjadi pemantik kembali meningkatnya penularan kasus virus corona yang tinggi di Indonesia.

“Ini yang sangat mengkhawatirkan kita sekarang, pemerintah sangat waspada jangan sampai apa yang terjadi di India itu terjadi juga di negara kita,” kata Muhadjir dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal Youtube Badan Perlindungan Konsumen Nasional, Selasa (20/4).

Muhadjir juga berharap mudik Lebaran mendatang tidak menjadi sumber peningkatan kasus corona di Indonesia. Sebab menurutnya, meski pemerintah telah melarang mudik, namun ia meyakini banyak masyarakat yang masih ‘nakal’ pulang kampung di tengah pandemi.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu lantas merefleksikan angka pemudik pada Lebaran tahun lalu yang berjumlah 73-83 juta orang. Untuk itu, ia tak bisa membayangkan bila pemerintah tidak melakukan rem mudik. Puluhan juta orang bakal berpotensi menciptakan penularan kasus Covid-19 di kampung halaman.

“Tentu saja kita tidak ingin hari raya Lebaran nanti menjadi pemicu utama dari naiknya kasus. Bahwa kemungkinan akan ada kenaikan itu biasanya tak terhindarkan, karena bagaimanapun tingkat ketidakpatuhan untuk mematuhi larangan mudik itu juga tidak 100 persen,” ungkapnya.

Dengan potensi kenaikan kasus itu, maka Muhadjir mewanti-wanti kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menahan kemauan diri untuk mudik pada Lebaran mendatang. Ia menyayangkan apabila kasus Covid-19 yang sudah berminggu-minggu relatif turun, kemudian bakal melonjak akibat aktivitas pemudik.

“Ini yang sangat mengkhawatirkan kita. Sekarang angka kematian kita relatif landai. Naik tidak, tapi turun juga belum. Ini harus kita syukuri, tetapi juga terus harus punya waspada tinggi,” kata Muhadjir. (cnn)

loading...