Kasus Harian Covid-19 di Sumut 2.045, Kota Medan Masuk 8 Besar Penyebaran Tertingi se-Indonesia

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mencatatkan rekor baru pertambahan kasus harian Covid-19. Berdasarkan data Kemenkes RI yang disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Jumat (6/8), Sumut memperoleh penambahan 2.045 kasus baru positif.

DENGAN penambahan tersebut, akumulasinya kasus Covid-19 di Sumut melonjak dari 66.993 menjadi 69.038 orang, dan menempatkan Sumut menjadi provinsi terbanyak ketujuh dalam menyumbangkan 39.532 kasus baru positif secara nasional.


Untuk kasus kesembuhan, Sumut juga menembus angka tertinggi sepanjang pandemi dengan capaian 1.005 orang. Kini, akumulasinya kasus sembuh meningkat dari 43.536 menjadi 44.541 orang. Jumlah angka kesembuhan tersebut, menempatkan Sumut menjadi daerah ke-11 yang berkontribusi menyumbangkan 48.832 kasus sembuh di Indonesia.

Selanjutnya, kasus kematian juga masih terus menambah angka korbannya yang tercatat sebanyak 24 orang. Dengan demikian, akumulasinya naik dari 1.581 menjadi 1.605 orang. Dalam kasus kematian ini, Sumut tercatat menjadi provinsi terbanyak ke-13 menyumbangkan dari total 1.635 kasus kematian di tanah air. Dari data-data tersebut, kasus aktif Sumut kembali melonjak dari 21.876 orang menjadi 22.892 orang.

Sementara, terkait penanganan Covid-19 di Sumut, Kepala BNPB, Letjen TNI Ganip Warsito mengunjungi fasilitas isolasi terpusat (Isoter) Pemko Medan di Gedung P4TK, Jalan Setiabudi, Kelurahan Helvetia Timur, Medan Helvetia, Jumat (6/8). Selain Gedung P4TK, Ganip didampingi Wali Kota Medan Bobby Nasution, juga meninjau lokasi Isoter Pemko Medan di eks Hotel Soechi, Jalan Cirebon, Mesan Kota, dan meninjau pembangunan ruang ICU Covid-19 di RSU dr Pirngadi Medan.

Dalam kesemopatan itu, Ganip mengungkapkan, Kota Medan masuk dalam salah satu Kabupaten/Kota di luar Pulau Jawa dan Bali dengan peningkatan kasus Covid-19 tertinggi se-Indonesia dalam satu pekan terakhir. “Kalau saya lihat satu minggu terakhir ini, memang luar Jawa-Bali, yang meningkat itu adalah Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, ada tujuh yang terjadi kenaikan, baik kenaikan kasus maupun kenaikan tingkat kematian,” ucap Ganip.

Menurutnya, kenaikan kasus ini terjadi seiring dengan penurunan kasus Covid-19 di Pulau Jawa dan Bali selama masa penerapan PPKM. “Sesuai roadmap dari pemerintah, mengendalikan Covid-19 itu adalah mengubah pandemi menjadi endemi,” ujarnya.

Disebutnya, ada tiga hal yang harus dilakukan oleh semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat dan semua komponen. Pertama, masyarakat diminta untuk wajib mendisiplinkan diri dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes). “Ini menjadi kunci. Ini mengubah perilaku menjadi disiplin protokol kesehatan. Minimal perorangan pakai masker, karena virus ini penularannya adalah manusia. Oleh karenanya, manusianya yang harus diproteksi. Mencuci tangan, artinya lingkungan bersih,” katanya.

Lalu yang kedua, terang Ganip, pemerintah akan terus meningkatkan vaksinasi kepada masyarakat. Hal itu dilakukan untuk meningkat herd immunity (kekebalan massal) ditengah-tengah masyarakat. “Vaksinasi harus tinggi. Kemudian yang ketiga adalah testing, tracing dan treatment. Tiga ini senjata yang bisa merubah atau mengendalikan pandemi menjadi endemi,” terangnya.

Ditegaskan Ganip, agar Kota Medan dan wilayah lainnya di Luar Pulau Jawa dan Bali bisa mendapatkan hasil yang sama dengan penurunan kasus yang terjadi di Jawa dan Bali, maka harus dengan menekankan penerapan replikasi seperti di luar Pulau Jawa dan Bali. Ganip juga mengaku telah melakukan diskusi dengan Pak Wali Kota Medan Bobby Nasution, agar replikasi seperti di luar Pulau Jawa dan Bali dapat dilakukan di Kota Medan. Hanya saja, pemerintah daerah butuh pendekatan yang berbeda-beda dengan Pulau Jawa dan Bali.

“Hanya yang berbeda adalah pendekatan, karena kita terdiri dari berbagai daerah yang butuh kearifan lokal dalam pendekatannya. Pak Wali Kota (Medan) sudah membuat regulasi aturan tentang itu, tinggal bagaimana masyarakat taat dengan aturan itu, bagaimana aparat penegak hukum menegakkan aturan itu. Kalau kita sudah sama-sama satu kata, InsyaAllah Covid ini akan terkendali,” tegasnya.

Beri Apresiasi

Dalam kesempatan itu, Ganip Warsito juga menyinggung soal kemungkinan warga yang terpapar Covid jenis baru, yakni Varian Delta. Ia meminta, jika ada warga yang terpapar Covid-19 jenis baru tersebut agar segera melakukan isolasi ketat. “Karena varian delta ini cepat sekali, nanti kepala Lingkungan disini harus di cek terus, harus dimonitor kondisinya jangan sampe terjadi pemburukan,” ujarnya.

Ganip juga mengimbau, agar masyarakat yang terbilang paruh baya yang terpapar Covid Delta segera melakukan isolasi. “Tempatnya lebih terjamin, artinya tempat tidur ada kamar mandinya. Kalau usia yang di atas 45 tahun, memiliki darah tinggi, gula atau jantung, lebih baik isolasi di lokasi yang sudah ditetapkan,” imbaunya.

Ganip juga mengapresiasi langkah cepat Wali Kota Medan Bobby Nasution dalam penanganan Covid-19 di Medan dengan menyediakan tempat isolasi bagi warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Gedung P4TK. “Terima kasih Pak Wali Kota beserta seluruh perangkatnya yang telah menyediakan tempat isolasi terpusat (isoter), tempat ini benar-benar sangat bagus,” kata Ganip.

Sebelumnya, setibanya di lokasi, Bobby Nasution dan Ganip langsung menemui petugas informasi yang berada di lantai dasar. Dari petugas informasi diketahui, jumlah warga positif Covid-19 yang menjalani isolasi di Gedung ini sebanyak 36 orang, 14 diantaranya anak-anak yang berasal dari salah satu panti asuhan di Kecamatan Medan Tuntungan. Setelah itu Bobby Nasution dan Ganip mengecek kamar yang digunakan sebagai tempat isolasi di lantai dua.

Selain Gedung P4TK, Bobby menjelaskan, Pemko Medan juga memiliki tempat isoter di eks Hotel Soechi Jalan Cirebon Medan. Di gedung P4TK tersedia 200 kamar, sedangkan di eks Hotel Soechi terdaftar 240 kamar. Menurut Bobby, kedua tempat isoter tersebut digunakan untuk warga terpapar positif Covid-19 tanpa gejala menjalani isolasi, sehingga tidak menularkannya kepada orang terdekatnya. “Masyarakat bisa langsung datang ke eks Hotel Soechi dan Gedung P4TK untuk menjalani isolasi dan tidak dipungut biaya,” ungkap Bobby.

Setelah melihat kondisi kamar dan peralatan pendukungnya, Ganip pun menilai tempat isoter yang disediakan pemko Medan sudah sangat bagus. Disebutkannya, kamar beserta fasilitas isoter ini cukup bagus, warga yang menjalani isolasi di tempat tersebut juga mendapatkan makanan dan ekstra puding yang cukup baik.

Ganip mengatakan, isoter dilakukan untuk memisahkan warga yang terpapar Covid-19 dengan yang belum terpapar guna mencegah terjadinya penularan. Dari analisis yang telah dilakukan, jelas Ganip, warga yang terpapar Copvid-19 akibat isoman yang tidak terkendali dan terkontrol sehingga saat kondisinya mulai parah terlambat dibawa ke rumah sakit.

Ganip juga menilai, regulasi yang telah dibuat Bobby nasution dalam upaya mengatasi pandemi Covid-19 juga sudah sangat baik. Kini, imbuhnya, tinggal bagaimana masyarakat taat mengikuti regulasi tersebut serta bagaimana aparat hukum menegak aturan tersebut. “Kalau kita semua sudah satu kata, insya Allah Covid-19 dapat diatasi,” ungkapnya.

Ganip menjelaskan, kedatangannya untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota guna membedah permasalahan-permasalahan yang ada dalam penanganan Covid-19. Kemudian, melihat aspek penanganan yang dilakukan dari hulu hingga hilir sehingga dilakukannya penanganan secara kolaboratif.

Banyak Isoman Meninggal di Rumah

Ganip juga mengingatkan masyarakat agar tidak asal menjalani isolasi mandiri, ketika terkonfirmasi positif Covid-19 atau merasakan gejala-gejala yang mengarah kepada pelularan virus Corona. Pasalnya saat ini, ada banyak kasus kematian Covid-19 yang terjadi karena disebabkan isolasi mandiri yang tidak terkendali di rumah. Akibatnya, kondisi semakin memburuk dan terlambat untuk mendapatkan perawatan secara intensif di RS. “Berdasarkan analisis kita, yang meninggal itu karena isoman yang tidak terkendali. Isolasi mandiri di rumah sehingga terjadi pemburukan, terlambat dibawa ke rumah sakit,” ungkap Ganip.

Lalu sesampainya di rumah sakit, kata Warsito, para pasien juga merasa tertekan karena melihat banyaknya pasien yang masuk ke RS dalam kondisi dengan gejala yang sudah cukup berat. Maka sebaiknya, isolasi dilakukan di tempat isolasi terpadu (isoter) agar selalu mendapatkan pengawasan dan pengobatan yang tepat. Kalaupun isolasi dilakukan di rumah, maka lingkungan sekitar harus memperhatikan kondisi rumah yang sedang menjadi lokasi isolasi mandiri.

Menurut Ganip, dalam PPKM Darurat atau Level IV untuk Pulau Jawa dan Bali, saat ini sudah menunjukkan angka penurunan. “Tapi penurunan ini tetap kita harus hati-hati karena penurunan ini dibarengi juga dengan tingkat kasus mortalitasnya. Karenanya, berkaca dengan penerapan yang terjadi di Jawa-Bali, saya datang kesini untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memberikan atensi sampai dengan tingkat provinsi dan kabupaten/kota,” ujarnya.

Ganip pun menjelaskan, fasilitas isolasi terpusat sangat berperan penting dalam pemutusan mata rantai Covid-19 di daerah. “Untuk sama-sama kita membedah permasalahan yang kita hadapi. Yang pertama kita perlu melihat dari hulu ini menjadi sumbernya, oleh karenanya hulu ini harus kita tata. Sehingga antara hulu dan hilir harus menjadi penanganan yang kolaboratif,” jelasnya.

Ganip mencontohkan, penanganan kasus Covid-19 di hulu dimulai dari melakukan pemisahan antara pasien yang terkonfirmasi positif dengan yang tidak atau masyarakat yang sehat. “Jadi tujuannya dimulai dari Isoter. Dan rata-rata saya lihat di daerah itu sudah bagus,” tuturnya.

Terpisah, Anggota Komisi II DPRD Medan, Afif Abdillah mengaku sepakat dengan apa yang dikatakan Kepala BNPB Ganip Waristo. Ia menilai, bahwa isolasi mandiri tanpa kontrol ketat merupakan hal yang sangat beresiko, terutama bagi pasien yang sedang menjalani Isoman dan orang-orang terdekatnya.

Pasalnya, tidak sedikit masyarakat yang meninggal dunia bahkan menularkan virus tersebut kepada orang disekitarnya saat sedang menjalai Isoman. “Isoman itu teknisnya gak mudah, faktanya banyak yang isoman asal-asalan, terakhir berujung fatal. Isoman itu untuk mereka yang tanpa gejala atau gejala ringan, itupun harus dalam pengawasan ketat. Kalau tidak ada yang mengawasi, sebaiknya jangan isoman, langsung ke lokasi Isoter saja, ada di Gedung P4TK, ada juga di Hotel Soechi. Untuk yang gejala berat, sebaiknya langsung ke rumah sakit,” kata Afif kepada Sumut Pos, Jumat (6/8).

Dijelaskan Afif, Isoman di rumah tanpa pengawasan dari orang atau warga sekitar sangat berpotensi dalam menularkan virus tersebut ke banyak orang. “Sehari atau dua hari tahan dia Isoman di rumah, setelah itu pergi dia keluar beli makanan, beli minuman, atau bahkan nongkrong dulu sebentar entah dimana untuk membuang penat. Ini tadi yang bahaya, ini yang harus diawasi ketat. Sebab selain membahayakan dirinya, juga sangat membahayakan orang lain,” jelas Afif.

Isolasi lingkungan yang di lakukan Pemko Medan saat ini, terang Afif, sudah sangat baik dan layak untuk ditingkatkan guna menekan angka penyebaran Covid-19. “Yang idola dirumah diawasi kepala lingkungan, diawasi agar tidak keluar rumah sampai sembuh. Diawasi bagaimana kondisinya, bila memburuk langsung dibawa ke RS. Lalu diberikan juga makan/minumnya selama Isoman. Kalau ini dilakukan, maka saya yakin Covid-19 ini bisa kita kendalikan bersama,” pungkasnya. (ris/map)

loading...