Kawasan UHN Bak Zona Perang

Metropolis

MEDAN-Tadi malam ratusan mahasiswa Universitas HKBP Nommensen (UHN) itu bertindak anarkis. Mereka merusak, membakar, dan menjarah restoran Kentucky Fried Chicken (KFC). Hotel Grand Angkasa yang terletak di samping kampus merekan
tak luput dari serangan. Bahkan, kampus mereka sendiri ikut dirusak. Kawasan di Jalan Perintis Kemerdekaan-Jalan Sutomo itu pun berubah bak zona perang.

Mahasiswa rusak fasilitas umum
Mahasiswa rusak fasilitas umum

Aksi demo mulai berlangsung sejak siang. Awalnya berjalan biasa saja. Orasi dan bakar ban. Namun main sore makin beringas. Mereka tak mau bubar, karena menunggu hasil sidang paripurna DPR RI yang membahas pengurangan subsidi BBM.

Aksi anarkis mahasiswa dimulai ketika waktu menunjukkan pukul pukul 22.30 WIB. KFC yang berada di depan kampus mereka jadi sasaran. Kaca-kaca dihancurkan. Sejumlah peralatan seperti kursi ikut dibakar bersama 3 unit sepeda motor. “Ini sebuah bentuk kekecewaan kami terhadap pemerintah, sudah saatnya dilakukan reformasi,” ungkap seorang mahasiswa sembari mengkomandoi aksi anarkis ini menghancurkan seluruh kaca dari KFC. Di tangannya terlihat sebuah besi.


Aksinya menghancurkan seluruh bagian restoran siap saji diikuti mahasiswa lain.
Tidak puas sampai di situ, mahasiswa melanjutkan aksinya sampai ke lantai dua. Di lantai tersebut seorang mahasiswa yang mengenakan baju merah dan helm putih menghancurkan kaca-kaca dengan sebongkah besi yang dipegangnya. Beruntung restoran makan cepat saji tersebut sudah dalam kondisi tutup, sehingga tidak ada korban jiwa.

Selanjutnya, massa mengeluarkan fasilitas dari restoran tersebut seperti kursi, meja, dan peralatan masak. Saat perusakan ini polisi belum tiba. Akibatnya, masyarakat pun ikut menjarah. Bahan dasar dari restoran ini seperti kentang, ayam, dan bahan yang lain, untuk dibawa pulang. “Kentang ini, mau Abang, biar dimasak di rumah,” ungkap seorang wanita berpakai kaos berwarna kuning, yang berusia belasan tahun.

Setelah polisi tiba, sekira pukul 23.15 WIB, mahasiswa belum surut melakukan aksi. Mereka malah melawan. Mereka menembakan kembang api ke arah polisi, berulang-ulang kali.

Polisi lengkap dengan alat anti hura-hara seperti water cannon, tameng, rotan dan personel kepolisian dengan sepeda motor trail lengkap dengan senjata laras panjang mulai menyeser. Dengan komando Kabag Binmas Kompol A Hutahuruk yang memegang alat pengeras suara, polisi meminta mahasiswa membubarkan diri. “Untuk adik-adik mahasiswa untuk membubarkan diri. Jangan sampai kami mengambil tindakan tegas,” teriak A Hutahuruk.

Tapi, mahasiswa bergeming. Mereka malah tambah melawan. Menyadari itu, polisi menyebar dan menyeser lokasi untuk mengamankan massa yang anarkis. Satu per satu massa diamankan dan diboyong ke Mapolresta Medan.
Polisi juga melakukan pemadam api yang dibakar massa dengan menyemprotkan air dari water cannon, kemudian melakukan identifikasi kerusakkan di KFC. Mahasiswa tetap saja melawan. Polisi tak mau diam. Mereka menggiring mahasiswa ke dalam kampus UHN. Suara lentusan senjata api terdengar di lokasi pada malam itu, sekitar pukul 23.55 WIB. Asap dari gas air mata pun memutihkan malam.
Di sisi lain, kaca-kaca Hotel Grand Angkasa pun pecah. Batu-batu masih berserak di jalan depan hotel. Di Jalan Perintis Kemerdekaan polisi lainnya, sambil membawa tameng, bersiaga dan terus bergerak mengamankan lokasi. Lampu-lampu pun dimatikan. Pihak manajemen Hotel Grand Angkasa memutuskan memadamkan seluruh lampu. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 11, Taman Budaya Sumatera Utara, dan gedung-gedung di sekitar lokasi melakukan yang sama. Gelap, yang tersisa hanya lampu jalan. Sementara water cannon, ambulans, dan barracuda tetap bersiaga.
“Padahal, Grand Angkasa dan KFC selalu nyetor ke mahasiswa, kenapa dihancurkan juga,” keluh seorang alumnus UHN yang tak ingin namanya disebutkan kepada Sumut Pos.
“Tolong jangan hakimi kampus kami, tapi oknum mahasiswa yang berulah saja. Masih banyak mahasiswa yang betul-betul mencari ilmu di sini,” tambahnya.
Sang alumni pun menyesalkan tindak anarkis itu. Tidak hanya soal perusakan pos polisi, KFC, dan Grand Angkasa saja, mahasiswa juga merusak beberapa fasilitas di UHN. “Kampus sendiri pun mereka hajar. Sudah tak betul itu!” tegasnya.
Beberapa kalangan menyayangkan polisi yang datang terlambat. Namun, polisi bukan tanpa alasan. Dari informasi yang didapat, sebelumnya pihak rektorat telah menjamin aksi penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dilakukan mahasiswa Nommensen tidak akan berujung pada tindak anarkis. Jaminan itu ternyata ampuh. Mahasiswa beringas dan seperti memanfaatkan keterlambatan polisi.
Rektor UHN Dr Ir Jongkers Tampubolon MSc dan Pembantu Rektor III Ir Hotman Manurung Ms serta Dekan Fakultas Hukum DR Haposan Siallagan SH MH dijemput dari Kampus. Mereka dibawa ke Mapolresta Medan untuk dimintai keterangannya.
Kapolda Sumut Irjen Pol Syarief Gunawan yang turun ke lokasi didampingi Kapolesta Medan AKBP Nico Afinta saat dikonfirmasi membenarkan hal itu. Menurutnya, ketiga petinggi UHN tersebut dibawa ke Mapolresta Medan untuk melaporkan peristiwa yang terjadi. “Sebelumnya kita sudah ada MoU dengan UHN. Makanya kita ingin meminta penjelasan dari mereka mengenai aksi anarkis mahasiswanya,” kata Syarief.
Kapoldasu: UHN Pindah ke Luar Kota
Sementara Kapolresta Medan AKBP Nico Afinta menambahkan, walaupun mereka telah memberikan laporan, namun aksi anarkis yang dilakukan mahasiswa Nomensen ini akan terus didalami. “Tidak tertutup mereka akan kita periksa, apakah ada keterlibatan mereka,” kata Nico.
Saat ditanya mengenai tindakan yang diambil terkait aksi anarkis yang dilakukan pendemo ini, Syarief Gunawan mengaku akan melakukan tindakan tegas berupa proses hukum terhadap massa yang bersalah dan melakukan pengrusakan. “Kita proses, kan sudah ada kita tahan, kita lihat dari rekaman, siapa pelakunya, ada terekam itu,” ungkapnya sembari mengumpul barang bukti atas tindakan yang dilakukan pendemo ini.
Wajah kesal tampak dari raut wajah mantan Kapolda Maluku ini. Bahkan, ia meminta agar Kampus UHN ini dipindahkan keluar Kota Medan.
“Seharusnya mereka bisa berpikir, mereka mahasiswa, jangan seperti itu, kalau bisa dipindahkan saja kampusnya. Saya ingin kota kita bersama ini amanlah,”sebutnya.
Hingga Selasa (18/6) dini hari pukul 01.40 WIB, suasana sudah terkendali, dengan sejumlah mahasiswa yang diamankan ke Polresta Medan. Namun, belum ada keterangan resmi, berapa jumlah mahasiswa yang diamankan, selanjutnya, ratusan polisi ini pun, membubarkan diri dari lokasi.
“Lihat jam segini, sudah tidak benar lagi aksi demo yang dilakukan. Belum lagi dampak dilakukan, lihat hotel itu tidak ada lagi mau tidur di situ,” tegasnya sembari berjalan dari Jalan Sutomo Ujung menuju Mapolresta Medan.
Sebelumnya, puluhan orang yang tergabung dalam kelompok Cipayung Plus terlibat bentrok dengan petugas kepolisian di depan gedung PT Pertamina (Persero) UPMS-I Medan di Jalan Putri Hijau Kecamatan Medan Barat, Senin (17/6) siang. Akibatnya, salah seorang pendemo yang diketahui dari GMKI, mengalami luka robek di kepala. Sementara sejumlah fasilitas di SPBU yang berada di samping sebelah kiri gedung pertamina, mengalami kerusakan. (gus/ram/mag-8/mag-10)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *