Kejagung Kejar Petinggi USU

Hukum & Kriminal Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO- Kejaksaan Agung (Kejagung) tampaknya tak main-main untuk mengusut tuntas kasus dugaan korupsi di Universitas Sumatera Utara (USU). Terutama yang terjadi di Fakultas Farmasi dan Departemen Etnomusikologi pada Fakultas Sastra (kini bernama Fakultas Ilmu Budaya), yang bersumber dari APBN serta para pejabat penting yang terlibat.

Menurut sumber Sumut Pos di USU, Kejagung sudah mulai mengembangkan kasus ini dari oknum-oknum panitia pengadaan alias pihak ketiga. Terbukti, masuknya nama Elisnawaty Siagian dan Siti Ombun Purba, yang diketahui bukan pegawai di USU menjadi sinyal bahwa lembaga penegak hukum itu serius membongkar permainan yang terjadi di USU.


“Saya pikir dari beberapa poin pertanyaan yang diajukan pada saya, Kejagung intinya ingin mengembangkan kasus ini. Salah satunya dari pihak luar yang sudah ditetapkan sebagai tersangka,” kata sumber yang turut dipanggil Kejagung pada pekan lalu ini kepada Sumut Pos di Medan, Senin (10/11).

Dikatakannya bahwa Kejagung sangat serius untuk mendalami kasus tersebut. Sebab sejauh ini yang kena adalah tingkat bawah saja alias pegawai USU. “Pegawai-pegawai ini kan hanya pelaksana saja. Kita juga gak tahu apakah ini memang diarahkan atau seperti makan bubur, sekarang ini pinggir-pinggirnya dulu, baru nanti ketengahnya,” tuturnya.

Selain dua dugaan korupsi itu, sumber mengaku masih ada rentetan kasus lain yang juga mendapat perhatian Kejagung di kampus kebanggan warga Sumut tersebut. Menurutnya temuan BPK RI tentang USU tetap jadi catatan khusus oleh Kejagung. “Temuan-temuan itulah yang turut mendapat perhatian mereka, selain yang terjadi di etnomusikologi dan farmasi,” ujarnya.

Diakui sumber perihal siapa-siapa nama yang dipanggil oleh Kejagung berdasarkan ekspedisi surat undangan, di antaranya tercantum nama Rektor USU Syahril Pasaribu, mantan rektor Chairuddin P Lubis, Dekan FIB Syahron Lubis, pembantu dekan II FIB, Ketua Departemen Etnomusikologi, Frida dalam kapasitas sebagai saksi dari Suranto, Nasrul dan Eslinawaty. “Tapi si Eslinawaty ini bukan orang USU, mungkin pihak ketiga atau rekanan gitu,” katanya.

Dia mengatakan, pertanyaan penyidik kepada dirinya saat itu seputar kenal atau tidak ketiga tersangka. Namun terlepas dari situ ia menilai, motif lain Kejagung kenapa memberikan pertanyaan soal itu, lantaran lembaga penegak hukum itu ingin mengembangkan mata rantai dari kasus tersebut. “Yang pasti dari Eslinawaty nanti diharapkan akan membeberkan nama-nama lain yang terangkai dalam pengadaan itu. Seperti mengeluarkan fee kepada oknum-oknum lain guna memuluskan proyek tersebut,” pungkasnya.

Syahron Berkelit
Dekan FIB Syahron Lubis justru berkilah dengan mengatakan tidak diperiksa pada Selasa pekan lalu dalam kapasitas sebagai saksi aas ketiga tersangka itu oleh Kejagung. “Saya gak ada dipanggil kok,” katanya dari seberang telepon. Syahron masih tetap menolak ditemui Sumut Pos lantaran merasa wartawan akan tidak dapat keterangan apapun darinya, sebab ia tidak tahu menahu soal ini.

Disinggung sudah berapa kali dirinya dipanggil Kejagung atas dugaan kasus korupsi pengadaan peralatan di Departemen Etnomusikologi, Syahron hanya mengatakan baru sekali. Itu pun ia tidak ingat pasti kapan tanggalnya. “Kan Anda sudah tahu sendiri, ngapain tanya-tanya lagi. Baru sekali dipanggil dan saya lupa kapan,” ketusnya sembari mengakhiri percakapan.

Sementara rektorat USU melalui Ka Humas Bisru Haffi masih bersikap seperti biasa, menyatakan menghormati proses hukum yang tengah berjalan ditangani oleh Kejagung.

“Pada prinsipnya Bapak Rektor berupaya se kooperatif mungkin dan menghormati proses hukum yang sedang berlangsung,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Bisru juga belum memastikan kabar dipanggilnya beberapa petinggi USU termasuk rektor Syahril Pasaribu. “Belum bisa saya beri tahu kepastiannya, sebab belum ada koordinasi dengan beliau,” sebutnya.

Sebelumnya, kala ditemui Sumut Pos usai menggelar rapat internal di Ruang Biro Perencanaan lantai III, Nasrul, salah satu tersangka yang ditetapkan Kejagung coba menghindar ketika stafnya memberi tahu Sumut Pos sedang menunggunya. “Saya ingin Salat Jumat dulu,” kata Nasrul sambil berjalan dari lantai III menuju ke parkiran mobil, Jumat (7/11) lalu.

Sumut Pos lantas menghampirinya dan menanyakan kebenaran penetapan tersangka dirinya oleh Kejagung. Dia tak banyak berkomentar soal itu. Ia menyarankan agar wartawan menanyakan langsung kepada saksi-saksi yang sebelumnya sudah dipanggil. “Kan sudah kalian tulis di koran. Apalagi?” ketusnya.

Seketika itu pula mukanya tampak gugup dengan nada suara terengah.

Kembali ditegaskan bahwa konfirmasi Kapuspem Kejagung Tony Spontana turut menyebutkan namanya di antara enam nama lainnya, Nasrul terdiam. Begitupun saat disinggung sudah berapa kali ia dipanggil terkait kasus dugaan korupsi di Fakultas Farmasi USU, ia juga tak berkomentar. Dia hanya mengatakan pada Februari 2014 lalu pernah dipanggil sebagai saksi oleh Kejagung. “Seingat saya bulan dua kemarin,” sebutnya.

Berkenaan dengan kasus korupsi yang melibatkan namanya, Nasrul kembali menyatakan kiranya hal itu ditanyakan langsung pada saksi-saksi. “Saya juga tidak mengetahui siapa-siapa saja saksinya,” kilah Nasrul sembari masuk ke mobil dan berlalu.

Seperti diketahui selain Dekan Fakultas Farmasi Sumadio Hardisaputra, Nasrul dan Suranto, Kejagung sebelumnya sudah menahan Abdul Hadi, pejabat pembuat komitmen (PPK), yang diduga melakukan korupsi atas pengadaan peralatan farmasi yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara. (prn)

loading...