Keluarga Terpukul, Sebut Arif Tak Punya Musuh

Hukum & Kriminal
Jenazah-Ilustrasi
Jenazah-Ilustrasi

SIMALUNGUN, SUMUTPOS.CO – Tewasnya Muhammad Arif Hermawan (17) jadi pukulan keras bagi keluarga yang ditinggalkan. Apalagi korban ditemukan tak bernyawa tak jauh dari tempat tinggalnya, Minggu (7/9) pagi.

Saat disambangi rumah duka, Sulastri (50) ibu Arif mengatakan, sangat terpukul atas kejadian yang menimpa anaknya. Ia berharap pihak kepolisian segera menangkap perampok yang tega menghabisi korban.


Selain itu, pertanda aneh sudah terasa saat Arif hendak pergi ke rumah Susy (16), kekasihnya di Bukit 5 Kec. Bosar Maligas. Sore itu Arif berpakaian tak seperti biasa. “Biasanya dia berpakaian di kamar, kalau sudah rapi baru keluar. Ini dia ganti pakaian di ruang tamu. Dan, selama ini dia enggak pernah pakai baju dimasukkan ke celana,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Masih kata Sulastri, sekira pukul 19.00 WIB anaknya pergi keluar rumah tanpa ada pamitan kepadanya. Padahal, selama ini anak ketiga dari empat bersaudara itu selalu pamit kepadanya kemanapun ia pergi.

“Dia nggak pamit, biasanya walaupun dia hanya di samping rumah dia selalu pamit,” terangnya.

Sekira pukul 04.00 WIB, ia terbangun dari tidurnya karena Arif belum pulang juga. Perasaan khawatir sudah ia rasakan karena tidak seperti biasanya Arif tidak pulang. “Pagi itu aku langsung buka pintu karena siapa tahu dia pulang. Aku juga bangunkan adiknya supaya menunggu,” ucapnya.

Namun hingga pukul 06.30 WIB, Arif tak juga pulang, hingga ia memutuskan untuk pergi bekerja menanam jagung di ladang milik warga dan menitipkan pesan kepada anaknya paling bungsu agar menunggu kakaknya pulang.

Hingga pukul 07.30 WIB ia didatangi warga dan memintanya untuk pulang ke rumah. Namun, alasan ia dijemput tidak diberitahukan warga sama sekali hingga akhirnya ia langsung pulang. “Aku sampai rumah sudah banyak orang, kutengok si Reza (adik Arif-red) sudah menangis-nangis. Dan, di situ aku baru tahu kalau Arif sudah meninggal,” ucapnya seraya meneteskan air mata.

Ia mengatakan, selama ini anaknya tidak memiliki musuh atau apapun karena selama ini Arif dikenal sebagai anak yang pediam dan sangat jarang untuk bercanda dengan teman-temannya. “Sama kawannya sendiri dia juga pendiam, apalagi sama orang lain,” ucapnya.

Sri (26) kakak Arif, mengatakan, sebelum kejadian naas itu, adiknya pernah menghubunginya dan mengatakan ingin dibelikan sepeda motor dan handphone Samsung. Hanya saja, permintaan itu belum terpenuhi karena ia belum menerima gaji.

“Aku janji mau belikan, makanya dia juga sudah kusuruh untuk jual motornya yang di sini untuk menambahi beli yang baru. Tapi belum apa-apa adikku sudah seperti ini,” lirihnya sedih.

Setelah kejadian tersebut, Susy pacar Arif ternyata masih tinggal di rumah korban. Saat diwawancarai kru koran ini, Susy mengaku selama ini hubungannya dengan Arif baik-baik saja. Tetapi, malam sebelum kejadian saat mereka bertemu Arif berubah jadi pendiam.

“Dia mendadak diam saja nggak seperti biasanya. Terus sewaktu dia menjemput Agus dia nggak ada SMS aku,” ucapnya. Ia juga mengatakan, selama ini hubungan pacarnya dengan pemuda sekitar tempat tinggalnya juga sangat baik. “Dia suka menyapa orang lain di kampungku bang, makanya nggak ada yang tak suka sama dia,” terangnya.

Ia mengaku tidak mengenal pacar Agus mengingat jarak rumah mereka cukup jauh. Ia mengatakan, Agus juga berkomunikasi dengan pemuda dan masyarakat sekitar juga berjalan cukup baik. “Agus kan sering juga datang karena menjemput Arif, kadang Arif yang jemput. Dan setahuku dia juga nggak ada masalah sama orang kampungku,” terangnya lagi. Tak lama, salah seorang keluarga mengajak awak koran ini melihat lokasi kejadian.

Dengan mengendarai sepedamotor yang memakan waktu sekitar 15 menit, pria yang mengaku sepupu Arif itu menduga korban sempat diseret pelaku. Hal ini terbukti dari luka gugus di bagian pipi kiri dan bercak darah di sekitar jalan.

“Aku yakin kalau Arif dianiaya di sebelah kanan (bila dari Bukit 5 menuju kampung Dolok Kitir-red), terus dia diseret menyebrang jalan, lalu mayatnya dibuang di bawah pohon coklat ini. Karena banyak darah dari seberang jalan hingga lokasi temuan mayat,” ucapnya.

Pria yang tinggal di Bosar Maligas ini juga menjelaskan, penduduk Huta Dolok Kitir, Nagori Talang Bayu itu masih milik berstatus keluarga mereka. Bahkan, sawah di samping mayat Arif ditemukan adalah milik keluarga Arif juga. “Rasanya terpukul karena Arif dibunuh di kampung keluarganya sendiri,” terangnya. (lud/bay/deo)

 

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *