Ketat Jaga Disiplin Latihan

DBL North Sumatra Series

Bintoro Terus Berjuang Bangkitkan Comfort Mobile BSC Jakarta

Tak mudah menangani tim dengan mayoritas pemain muda. Pelatih BSC Bintoro merasakannya. Tanpa mental pantang menyerah, sulit membayangkan dia bisa terus ngotot memimpin BSC untuk bangkit.


Memasuki musim kedua Flexi NBL Indonesia, performa BSC tak juga meningkat. Mereka masih terkungkung di peringkat kesepuluh dari 12 tim. Tentu saja, Bintoro merasakan tekanan tersendiri.
Pantang menyerah bagi Bintoro. Kondisi itu malah dijadikan sebagai cambuk untuk lebih baik lagi.

“Ini tantangan bagi saya pribadi untuk mengukur kemampuan. Namun, paling tidak kami sudah mendapatkan lima kemenangan musim ini,” terang Bintoro.

Bagi BSC, kondisi skuad yang ada memang membuat lima kemenangan di antara 28 yang telah dilakoni merupakan hasil yang bagus. Musim ini mereka ditinggal tiga pemain hebat mereka. Evin Istianto Hadi dan Yan Steven Pattikawa ke Stadium Jakarta, sedangkan I.G.N Teguh Putra Negara ke Muba Hangtuah Indonesia Muda Sumsel. Evin adalah scorer utama BSC, sementara Ngurah Teguh adalah top block.

Hijrahnya tiga pemain bintang itu menjadi kali kesekian perginya pemain utama BSC. Sebelumnya mereka juga ditinggal Fadlan Minallah ke Garuda dan Bonanza Siregar ke Satria Muda (SM).
“Saya sering susah tidur hanya untuk memikirkan permainan anak-anak. Sebab, mereka masih sangat muda, belum punya banyak pengalaman di kompetisi profesional,” ungkap pelatih kelahiran 12 April 1969 tersebut.
Belum matangnya para pemain BSC bisa dilihat ketika pertandingan sudah memasuki kuarter ketiga dan keempat. Mereka kerap kehilangan kepercayaan diri. Akibatnya, permainan mereka menjadi kacau balau. Bahkan, beberapa kali para pemain BSC juga tak bisa mencetak poin melalui easy layup. Kalau sudah begitu, Bintoro tidak bisa marah. Hanya bisa geleng-geleng kepala.

Tapi dia tak patah arang menghadapi berbagai kendala tersebut. Selain terus mengasah kemampuan teknis para pemain, Bintoro juga menerapkan disiplin ketat terhadap perilaku pemainnya di luar lapangan. (ru/nur/ang/jpnn)
Salah satunya ialah mengenai cara berpakaian Richardo Orlando Uneputty dkk. Dia bakal sangat marah besar jika anak asuhnya tampil kusut sebelum dan setelah pertandingan. Sementara, di dalam lapangan, dia bakal menghukum anak asuhnya yang telat latihan. Jika latihan berlangsung selama dua jam, pemain yang telat harus berlari selama sejam. Jika latihan berlangsung selama tiga jam, pemain tersebut mesti berlari 1,5 jam.
“Semua memang harus dimulai dari hal-hal yang kecil. Anak-anak harus berpakaian yang rapi karena mereka adalah pemain yang bermain di level tertinggi. Itu juga akan menjadi cermin bagi mereka sendiri. Mereka harus menghormati dirinya sendiri,” ujar pelatih yang sudah menangangi BSC sejak 2003 tersebut.

Sikap pantang menyerah Bintoro itu membuat dia mendapatkan dukungan penuh dari manajemen BSC. Mereka tetap mempercayai Bintoro untuk terus memimpin tim.
“Bisa merebut lima kemenangan ibarat mukjizat bagi kami,” kata manajer BSC Romy Tanaka Pattipeilohy. “Kami ada di atas Satyawacana yang komposisi timnya tak berubah. Kami harus mengakui jika tim ini memang masih sangat muda dan belum matang. Yang terpenting, sejauh ini anak-anak selalu berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya,” tandasnya.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *