Kisah Sedih 3 Anak Kecil, Ayah Meninggal, Ibu Entah Dimana

Metropolis
Ribka bersama tiga adiknya saat berada di rumah sakit, Rabu (17/7/19). (Arianto Girsang/Metro Siantar)

SIMALUNGUN, SUMUTPOS.CO – Kisah Ribka Mikalia (11) bocah Kelas V SD Tiga Dolok, Kecamatan Dolok Panribuan sangat menyedihkan. Setelah semalaman tidak tidur karena menjaga Ayahnya Surnaryo (54) yang sedang koma di RSUD Rondahaim Saragih, kini ia harus kehilangan orang yang ia sayangi itu.

Perjuangan Ribka seolah sia-sia. Ayah yang ia banggakan itu telah meninggal dunia, Rabu (17/7/19) sekira pukul 00.05 WIB. Ia pun histeris begitu tahu ayahnya sudah meninggal.


Tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ribka hanya bisa menangis melihat jenazah ayahnya yang sudah terbujur kaku. Sesekali ia peluk tubuh orang yang sangat ia sayangi itu. Beban seberat itu ia tanggung sendiri.

Kesedihan Ribka semakin dalam karena sampai saat ini ia tidak tahu dimana keberadaan ibunya Imelda Enawati br Hutabarat. Dua tahun belakangan, mereka hilang komunikasi.

Selama ini, ia bersama ketiga adiknya Novita Setiawati (10), Johan Ganteng (7), Kristina (5) tinggal bersama almarhum. Jadi selama ayahnya sakit, Ribka hanya seorang diri mendampingi almarhum.

“Aku sendirian jaga bapakku sakit. Kalau infusnya habis kukasih tau sama perawat. Kalau adekku ada tiga. Tidur di rumah tetangga marga Lubis. Kalau Mamakku Imelda Enawati boru Hutabarat sudah lari nggak tahu kemana. Sudah dua tahun kami ditinggal. Nggak tahu gara-gara apa,” ujar Ribka polos.

Ribka juga mengatakan, kalau ayahnya Surnaryo mengalami cacat sejak lahir pada bagian tangan di sebelah kanan. Masuk rumah sakit gegara batuk-batuk, tumbang lalu pingsan.

“Bapakku kerjanya servis TV di rumah orang. Dia dibawa kemari karena pingsan. Awalnya Bapak batuk-batuk. Sejak ia pingsan kami pergi ke puskesmas, baru ke RS Harapan Siantar tapi ditolak gara-gara nggak ada identitas KTP bapak,” ujarnya lalu menangis terisak.

Dia juga menceritakan seperti apa sakit yang diderita ayahnya selama ini. “Bapak bilang, kalau sudah tua batuk-batuk. Dadanya terasa sakit kalau batuk. Setahuku bapak sakit lambung dan paru-paru,” ucapnya.

Dia kemudian menceritakan kisah kehidupannya selama ini. Sejak ditinggal ibu, dialah yang mengambil alih pekerjaan di rumah setiap hari. Pagi hari ia harus bangun cepat untuk memasak nasi buat bapak dan ketiga adiknya, sebelum dia pergi sekolah.

“Aku bangunnya cepat-cepat. Biar bisa masak. Kalau bapak kerja, kami makan di rumah tetangga marga Lubis,” katanya.

Ribka juga mengakui kalau bapaknya (Surnaryo) menganut agama Islam. Tetapi ia beserta tiga adeknya beragama Kristen. “Bapakku Jawa. Dia muslim. Tapi aku sama tiga adekku Kristen,” ungkapnya.

Pegawai RSUD Tuan Rondahaim Saragih kepada wartawan mengatakan, Surnaryo meninggal dunia pada Rabu (17/7) sekira pukul 00.05 WIB, karena mengalami penyakit Stroke Iskemik. (Mag05/des/msg/sp)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *