Kopi Baja Dairi, Produksi Desa Kelas Kafe

Sumatera Utara
PROMOSI KOPI: Kades Bangun Kecamatan Parbuluan Kabupaten Dairi Japirin Sihotang (kiri) menyerahkan oleh-oleh bubuk Kopi Sidikalang merek ‘Baja’ kepada Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah di Medan, beberapa waktu lalu.
PROMOSI KOPI: Kades Bangun Kecamatan Parbuluan Kabupaten Dairi Japirin Sihotang (kiri) menyerahkan oleh-oleh bubuk Kopi Sidikalang merek ‘Baja’ kepada Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah di Medan, beberapa waktu lalu.

DAIRI, SUMUTPOS.CO – Wangi khas kopi menyeruak dari ruangan semi permanen pada sebuah pagi, Senin (9/3) di Kabupaten Dairi.

Tampak di kiri ruangan, seorang lelaki layaknya barista tengah serius memperhatikan alat pembuat kopi espresso kecil. Suara air mendidih terdengar dari dalam alat itu.


Di sebelah kanan ruangan, tampak etalase. Di dalamnya tersusun kemasan kopi berbagai ukuran. Berdekatan, di atas meja terdapat biji kopi dalam dua stoples kecil. Grinder kopi kecil manual terletak di sampingnya. Di dinding ruangan tertata berbagai foto maupun piagam.

Ruangan itu adalah kantor Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Bangun Jaya (Baja), Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Di seberang jalan, tepat di depan kantor itu, terdapat kantor Kepala Desa Bangun.

Barista itu meletakkan gelas mini di atas meja. Dituangkannya kopi dari bejana kaca berbentuk teko ke dalam gelas. Disuguhkan kepada Kepala Desa (Kades) Bangun, Japirin Sihotang. “Silakan, Lae,” katanya, juga menawarkan kepada Tagar.

Lelaki itu, Jupen Lumban Gaol adalah Ketua Bumdes Baja Dairi. Bumdes ini bergerak di tiga bidang, yaitu sarana air bersih, simpan pinjam, dan home industry unit kopi. Bumdes Baja Dairi terbentuk pada 2018. Setahun kemudian dialokasikan Dana Desa (DD) untuk penyertaan modal ke Bumdes itu Rp178 juta lebih.

Tagar berkesempatan mencicipi kopi Baja Dairi, produksi Bumdes tersebut. Kopi arabika hasil racikannya cukup enak. Perpaduan aroma kopi yang kuat dan rasa yang sedikit asam, terasa pas di lidah. Produksi desa kelas kafe.

Kopi bubuk Baja Dairi telah memperoleh sertifikat produksi pangan industri rumah tangga dari Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dairi pada Mei 2019 lalu.

Jupen menyebut, bubuk kopi Baja Dairi dijual dengan harga Rp200 ribu per kilogram. Kemasan 100 gram dibanderol harga Rp25 ribu. Kemasan 250 gram seharga Rp50 ribu, dan kemasan 500 gram seharga Rp100 ribu. “Kalau disajikan per gelas begini, Rp5 ribu,” kata Jupen.

erkait harga itu, dikatakan Kades Bangun Japirin Sihotang, sesuai dengan kualitas bubuk yang dihasilkan. Untuk memperoleh satu kilogram bubuk kopi, berbahan dasar 4 hingga 4,5 kilogram gabah kopi.

“Satu kilogram gabah pasarannya sekarang Rp22 ribu. Bumdes membeli dari masyarakat di atas harga itu. Dijemur, diolah, dan di-roasting. Pilihan biji kita yang terbaik. Tidak berani bikin biji kopi asal. Maka harganya demikian,” kata Japirin.

Japirin menyebut, bubuk kopi Baja Dairi adalah arabika varietas sigarar utang. “Bijinya kita peroleh dari masyarakat sini. Memang varietas ini memiliki kelemahan, tunas airnya terlalu banyak. Ini yang akan kita ubah ke depan, agar masyarakat menanam kopi yang berkelas, sehingga lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Japirin mengakui, kejayaan kopi Kabupaten Dairi yang dikenal dengan Kopi Sidikalang, belakangan ini semakin menurun. Masyarakat juga sempat terpangaruh, beralih ke tanamanjeruk.

“Selama ini kualitas kopi kita menurun. Sempat tidak ikut pasaran. Kejayaan dulu, coba kita kembalikan melalui kopi Baja Dairi,” katanya.

Langkah awal untuk pengembangan budi daya kopi berkualitas, kata Japirin, melalui Bumdes Baja Dairi, menjalin kemitraan dengan Starbucks cabang Indonesia. Starbucks adalah perusahaan kopi dan jaringan kedai kopi global asal Amerika Serikat.

“Dari Starbucks lah kita belajar dan mengetahui pembudidayaan kopi yang berkualitas, mulai dari pemilihan bibit hingga penanaman sampai proses pengolahan. Mereka sangat respons. Kita selalu komunikasi dengan Pak Profesor Surif. Mereka juga sudah beberapa kali datang ke sini, melakukan pelatihan,” katanya. (bbs/azw)

Atas saran dari Starbucks, pihaknya telah mulai membudidayakan kopi arabika varietas andung sari satu dan dua serta komasti. Bibit itu didatangkan dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) Jember.

“Sesuai penelitian Profesor Surif, kopi arabika varietas komasti dan andung sari sangat cocok di daerah dengan 1.100 sampai 1.300 mdpl (meter di atas permukaan laut). Itu adalah daerah kita,” kata Japirin.

Puslitkoka Jember adalah salah satu lembaga penelitian yang mendapat mandat untuk melakukan penelitian aspek agribisnis untuk komoditas kopi dan kakao, mulai dari bahan tanam, budi daya, perlakuan pascapanen sampai dengan pengolahan produk.

Bibit dimaksud, kini telah dibibitkan. “Sudah kita bibitkan 30 ribu batang. Itu yang kita harapkan nantinya ditanam masyarakat di sini. Usia delapan bulan nanti sudah bisa ditanam, dipindah dari pembibitan. Satu setengah tahun kemudian, sudah produksi. Bisa produksi 25 sampai 30 tahun,” ujarnya.

Beberapa kelompok tani (koptan) di desa itu telah membeli sendiri bibit kopi dari Jember dengan biaya sendiri. “Kita salut dengan koptan di sini. Mereka telah membeli sendiri, tanpa mengharapkan bantuan. Rp500 per biji, ditambah ongkos kirim Rp75 per biji,” paparnya.

Ditambahkan Japirin, untuk tahun 2020, melalui Dana Desa telah dialokasikan anggaran Rp100 juta untuk pengadaan bibit jenis yang sama. “Itu nanti kita bagikan ke sebelas koptan yang menjalin kerja sama dengan Bumdes Baja Dairi. Itu untuk lahan 10 sampai 15 hektare,” paparnya.

Pemerintah Desa Bangun benar-benar serius ingin mengembalikan kejayaan kopi di Kabupaten Dairi melalui Bumdes Baja Dairi, termasuk dengan melakukan lobi ke pusat. Upaya itu membuahkan hasil.

Baru terbentuk pada 2018, Bumdes Baja Dairi memperoleh bantuan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) sebesar Rp51 juta. Anggaran itu digunakan untuk pembelian alat jemur, timbangan, karung, dan peralatan ringan lainnya.

Pada 2019, Kemendes PDTT kembali mengucurkan bantuan untuk Baja Dairi sebesar Rp1,2 miliar, melalui program Pilot Inkubasi Inovasi Desa Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL). Anggaran itu untuk pembangunan rumah produksi kopi dan green house, beserta peralatannya.

“Satu-satunya desa penerima di Dairi. Di RUK (Rencana Usulan Kerja) kita usulkan Rp1,5 miliar. Realisasi Rp1,2 miliar,” kata Japirin.

Untuk pengelola bantuan itu, Kemendes PDTT membentuk Tim Pengelola Kegiatan Kemitraan (TPKK), diangkat dari masyarakat setempat.

Pembangunan gudang itu telah selesai. Semua peralatan sudah di lokasi. “Bangunan fisik sudah 100 persen. Mesin juga sudah. Tinggal pelatihan peralatan, dan untuk pelatihan orang yang merousting dan mengoperasikan mesin-mesin itu,” sebutnya.

Dengan adanya peralatan itu, nantinya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya Bumdes Baja Dairi. Selama ini roasting kopi Baja Dairi masih meminjam peralatan pihak lain, dengan bayaran Rp20 ribu per kilogram.

“Kalau sudah alat sendiri, tentunya akan mengurangi pengeluaran, serta menambah penghasilan,” kata Japirin.

Camat Parbuluan Rafael Siringoringo kepada Tagar mengungkapkan apresiasinya atas capaian Bumdes Baja Dairi, dalam upaya mengembangkan kopi tersebut.

“Apresiasi yang sangat luar biasa. Datang pun bantuan dari kementerian, bukan semata-mata karena jatah atau bagaimana. Kan tidak. Artinya, kementerian kan melihat kreativitas dan inovasi dari Kades Bangun. Mudah-mudahan ke depan, bisa membangkitkan nama baik kopi kita,” sebutnya.

“Selain kopi Dairi kembali jaya, ya secara khusus kebetulan yang mengambil momen ini Desa Bangun, ya mungkin dengan ini Desa Bangun bisa punya nama dan punya brand sendiri, kopi Baja secara khusus,” imbuh Rafael.

Rafael menambahkan, kendala kopi Baja Dairi saat ini adalah pada sektor pemasaran. “Kita tahu, sudah satu tahun lebih kopi Baja Dairi produksi. Memang, kades juga sudah banyak membuat promosi. Setahu saya, kopi Baja Dairi telah sampai ke Kemendes, Gubernur Sumatera Utara, Karang Taruna Sumatera Utara, dan Bupati Dairi,” ungkapnya.

Pemkab Dairi telah memfasilitasi petani kopi di Desa Bangun untuk memperoleh pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Negara Indonesia (BNI) sebesar Rp 25 juta per petani. “Desa Bangun menjadi contoh untuk KUR tani dari BNI,” kata Rafael. (bbs/azw)

loading...