Kuburan Dibongkar, Hasil Otopsi Ngendap

Hukum & Kriminal
Foto: Sabam/PM Siska, gadis SMP yang diperkosa, memilih bunuh diri setelah laporannya ditolak polisi. Siska sempat dirawat di RSU Sembiring, sebelum akhirnya meninggal.
Foto: Sabam/PM
F, gadis SMP yang diperkosa, memilih bunuh diri setelah laporannya ditolak polisi. F sempat dirawat di RSU Sembiring, sebelum akhirnya meninggal.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dugaan pemerkosaan dan pencabulan terhadap korban yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) berinisial F (14), hasil otopsinya ‘mengendap’ di Laboratorium Forensik Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu). Alhasil, langkah Kepolisian Resort Deliserdang yang melakukan penyelidikan harus menunggu keluar dari Forensik Poldasu.

Hingga kini, Polres Deliserdang belum ada menetapkan tersangka untuk kasus dugaan pemerkosaan yang menimpa anak baru gede (ABG), warga Dusun V, Desa Bekukul, Namorambe itu. Padahal, Polres Deliserdang sudah membongkar kuburan korban, Jumat 1 Juli 2016 lalu. Hampir sebulan berjalan, hasil otopsi itu belum ada keluar.


“Masih di forensik,” kata Kapolres Deliserdang, AKBP Robert Da Costa saat ditanya hasil forensik sudah keluar atau belum, di Gelanggang Remaja, Jalan Sutomo, Medan, kemarin.

Menurut dia, otopsi itu perlu dilakukan oleh kepolisian, karena pertama untuk mengetahui bagaimana korban dibunuh dan kedua, untuk membuktikan pencabulan itu.

Mantan Kapolres Nias Selatan ini menyatakan, pihaknya tak dapat memastikan apakah korban memang benar dilakukan pemerkosaan. Pasalnya, hasil otopsi itu hingga kini masih mengendap.

Dia pun menilai, lamanya hasil otopsi yang prosesnya di Laboratorium Forensik Poldasu itu, lantaran banyaknya soal lain yang harus ditangani. Selain kejadian kasusnya berada di wilayah hokum Polsek Sibirubiru dan Namorambe, termasuk banyaknya ditemukan kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh remaja. Itu terjadi, karena masih mudahnya melihat dan mengakses situs porno melalui internet.

“Banyak yang ditangani oleh Forensik ini, bukan itu saja. Kita juga bersurat untuk cepat dikeluarkan karena hasil itu biasanya dikirim kalau sudah selesai. Tinggal menunggu itu (hasil outopsi), apakah betul dia dicabuli atau tidak,” tandas Robert.

Sebelumnya diketahui, korban F tewas setelah menenggak racun rumput. Itu dilakukannya diduga karena depresi. Pasalnya, mahkota milik korban telah direnggut oleh pria yang dikenalnya. 14 Juni 2016, kejadian memilukan itu menimpa korban F.

Saat itu, korbang tengah bersama ibunya. Entah bagaimana, korban langsung berlari ke belakang dengan membawa sebotol racun jenis Gramoxon.

Korban yang masih duduk di bangku kelas dua ini langsung menenggak racun tanpa dilihat oleh seorang pun. Tapi, sang ibu mengetahui kalau putrinya kejang-kejang yang hingga akhirnya ibu korban langsung mengejarnya.

Disebut-sebut, pelaku berinisial AG yang tak lain adalah tetangga korban. Korban juga sempat berusaha diselamatkan dengan diberi susu kental guna mengeluarkan cairan beracun itu. Kendati korban sempat diselamatkan, anak kedua dari empat bersaudara itu akhirnya meninggal dunia setelah dirawat di Rumah Sakit Umum Sembiring, Delitua. (ted/azw)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *