Lahan Cadika Pramuka jadi Lahan Terbuka Hijau

Medan on Focus

Menteri Lingkungan Hidup Resmikan Pusat Informasi Ikan Hias dan Bank Sampah

Lahan Cadika Pramuka di Jalan Karya Wisata, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor diharapkan bisa dijadikan sebagai ruang terbuka hijau. Dengan kawasan seluas lebih kurang 25 hektar ini harus segera ditanami sejumlah pohon sehingga menjadi hutan kota. Langkah ini harus dilakukan sebagai upaya untuk memberikan udara dan lingkungan yang bersih serta sehat kepada masyarakat.


Harapan ini disampaikan langsung  Menteri Negara Lingkungan Hidup  (Meneg LH) RI, Prof  DR Balthasar Kambuaya MBA ketika meresmikan Pusat Informasi dan Pengembangan Ikan Hias sekaligus membuka Pekan Bursa Hasil Produksi Pertanian Unggulan Daerah bersama Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM di Lahan Cadika Pramuka, Sabtu (12/5) pagi kemarin.

“Mendapatkan lingkungan yang bersih adalah hak azasi manusia. Artinya, setiap orang berhak untuk mendapatkan udara yang bersih dan lingkungan yang sehat. Untuk itu pemerintah, termasuk setiap kepala daerah berhak untuk memberikannya. Jadi kepala daerah itu harus bisa menjamin udara yang dihirup warganya benar-benar bersih, begitu juga dengan air yang diminum harus benar-benar sehat,” kata Balthasar.

Dijelaskannya, even yang diisi dengan kegiatan penanaman pohon sekaligus penebaran benih ikan. Tentunya apa yang dilakukan dalam upaya melestarikan lingkungan sehingga lebih hijau, bersih dan sehat.

“Kita harapkan dalam beberapa tahun ke depan, Lahan Cadika Pramuka ini  sudah menjadi ruang terbuka hijau,” harapnya.
Selanjutnya, tugas yang diemban pemerintah, termasuk kepala daerah ke depan terkait masalah lingkungan hidup cukup berat. Hal ini tidak terlepas dari tema nasional dalam rangka menyambut peringatan Hari Lingkungan Hidup  Sedunia 2012 pada 5 Juni mendatang yakni, ‘Ekonomi Hijau: Ubah Prilaku, Tingkatkan Lingkungan’.

Mengacu dengan tema itu, Balthasar mengungkapkan ada tiga tugas utama yang harus dilaksanakan kepala daerah. Pertama, bagaimana caranya menyelesaikan seluruh persoalan-persoalan menyangkut lingkungan yang sudah terjadi. Kedua, merubah mindseat generasi muda untuk masa yang akan datang. Diharapkan, generasi muda mendatang harus care (ramah) dengan lingkungan.

“Untuk mejudkan generasi muda yang ramah lingkungan, tentunya diperlukan bantuan dari para guru. Artinya, guru harus bisa memberikan pemahaman kepada para muridnya untuk mencintai lingkungan,”  ungkapnya.

Sedangkan yang ketiga, lanjutnya, kepala daerah itu harus bisa memanfaatkan lingkungan untuk meningkatkan segi ekonomi masyarakat. Karenanya, Balthasar sangat mendukung langkah yang dilakukan Pemko Medan dengan peresmian pusat informasi dan pengembangan ikan hias. Langkah itu dinilainya mampu meningkatkan penghasilan masyarakat, terutama bagi mereka yang membudidayakan ikan hias.

Sebelumnya. Balthasar meresmikan pengoperasian Bank Sampah Mutiara di Jalan Pelajar Timur Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai. Selain untuk mendukung kebersihan lingkungan, kehadiran bank sampah ini diharapkan dapat membantu ekonomi masyarakat. Dengan demikian sampah tidak lagi dianggap sebagai lawan, melainkan kawan karena memiliki nilai guna dan manfaat.

“Dengan diresmikannya Bank Sampah Mutiara ini, maka jumlah seluruh bank sampah  yang ada di Indonesia kini menjadi 477 unit. Sebelumnya, bank sampah yang ada berjumlah 476 unit dan telah memberikan manfaat yang sangat besar sekali. Selain menciptakan lingkungan yang bersih, bank sampah juga membantu segi ekonomi masyarakat,” kata Balthasar.

Dikatakannya, 476 bank sampah yang telah beroperasi sebelumnya telah menghasilkan pendapatan sebesar Rp1,7 miliar. Selain itu, mampu  menyerap lebih dari 1 juta tenaga kerja. Karenanya, peresmian Bank Sampah Mutiara ini diharapkan semakin meningkatkan penghasilan bank sam pah sekaligus menyerap lebih banyak tenaga kerja, terutama lagi menjadikan lingkungan semakin bersih.

“Keberhasilan bank sampah ini tergantung dari kita, terutama masyarakat di sekitar tempat berdirinya bank sampah tersebut. Terus sosialisasikan bank sampah ini kepada seluruh masyarakat.  Dengan begitu masyarakat benar-benar memanfaatkan bank sampah ini,” ungkapnya.

Balthasar optimistis jika bank sampah berjalan seperti yang diharapkan, maka  seluruh sampah warga sekitarnya dipastikan bisa diatasi. Untuk itu, Balthasar mengingatkan untuk tidak memandang sebagai lawan tetapi jadikanlah sebagai kawan karena saat ini dapat digunakan dan dimanfaatkan. Dengan demikian sampah yang ada  tidak lagi  dibuang dengan percuma.

“Pelaksanaan bank sampah sesungguhnya mengandung potensi ekonomi kerakyatan yang cukup tinggi, sebab bank sampah dapat memberikan hasil nyata bagi masyarakat dalam bentuk peluang kerja, penghasil tambahan bagi pegawai bank sampah dan masyarakat penabung sampah,” jelasnya.
Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM dalam sambutannya dilakukannya penanaman pohon sekaligus penebaran bibit ikan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas ruang terbuka hijau. Sebab, lahan Cadika Pramuka merupakan salah satu tempat hijau di Kota Medan.

Selanjutnya, dalam rangka memaknai tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2012. Pemko Medan melaksanakan kegiatan pekan bursa hasil produksi pertanian unggulan daerah sekaligus peresmian pusat informasi dan pengembangan ikan hias. “Kegiatan ini dapat dikategorikan sebagai salah satu wujud ekonomi hijau yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan,” kata Rahudman.

Dijelaskannya, dengan memadukan konsep ekonomi dan lingkungan yang disertai dengan kesungguhan untuk bekerja keras dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk melalui pengembangbiakkan ikan hias. Budidaya ikan hias dapat menjadi komiditi ekspor yang bisa menambah devisa negara.

Apalagi budidaya ikan hias saat ini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, tercatat Indonesia amsuk lima besar pengekspor ikan hias dengan nilai ekspor US$ 13 juta (RP12 miliar) dalam dua tahun terakhir. “Ini mengindikasikasn tersedianya banyak peluang  untuk pengembangan ikzan hias bagi dunia usaha, khususnya masyarakat Kota Medan,” ujarnya.
Sedangkan Bank Sampah Mutiara, merupakan wujud dari pendekatan pengelolaan persampahan berbasis masyarakat. Saat ini sampah tidak dipandang sebagi musuh karena bisa menghasilkan rupiah. Namun bukan rupiah yang menjadi fokus mewlainkan adanya peningkatan kesadaran, kepedulian serta tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan persampahan.
“Untuk itu kita akan terus berupaya untuk menumbuhkan rasa butuh masyarakat akan lingkungan yang bersih, tertata dan sehat,” cetusnya.
Menurutnya, program bank sampah ini bukanlah sesuatu nyang asing bagi segenap warga Kota Medan. Selain Bank Sampah Mutiara, banyak bank-bank sampah lainnya yang dikelola secara rutin oleh masyarakat. Malah masyarakat sudah terampil memberdayakan sampah menjadi aneka produk yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi.
Diakuinya, pengelolaan sampah pada masa mendatang semakin berat jika mengacu pada target Millenium Development Goals. Pada 2015 mendatang, diharapkan 65 persen penduduk Indonesia harus memperoleh akses terhadap sanitgasi yang layak. Sedangkan di sisi lain, pingkatan jumlah sampah di perkotaan juga bergerak eksponesial seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.
Selain melalui program bank sampah, Rahudman juga melaporkan pengelolaan sampah juga digerakkan dengan program 3 R yakni Reduce, Reuse dan Recycle. Kemudian, memfasilitasi pelatihan di tingkat masyarakat sehingga melahirkan komunitas-komunitas peduli lingkungan. Hal ini dilakukan untuk mendesain bagaimana  program pengelolaan sampah yang tepat berbasis partisipasi masyarakat.
“Semua yang dilakukan ini dipengaruhi komitmen kami untuk mewujudkan Medan Bebas Sampah yang telah dicanangkan sejak 1 April 2011,” tuturnya.(adl)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *