Langkah Ketiga: Tambanglah, Tapi Pilih Cara Aman

Martabe Sumatera Utara
Foto: Dame Ambarita/Sumutpos.Co Produksi dore di Tambang Emas Martabe, Tapsel, Sumut. Dore ini akan dibawa ke PT Antam untuk dimurnikan menjadi emas dan perak.
Foto: Dame Ambarita/Sumutpos.Co
Produksi dore di Tambang Emas Martabe, Tapsel, Sumut. Dore ini akan dibawa ke PT Antam untuk dimurnikan menjadi emas dan perak.

Laporan: Dame Ambarita, Tapsel

Deposit emas bisa dibagi tiga tipe. Pertama tipe high sulfidation, yaitu tonase besar, kadarnya kecil. Kedua tipe low sulfidation, yaitu tonase kecil, kadar besar. Ketiga, porfiri yakni tonase besar, kadar besar. Batangtoru masuk tipe pertama:
tonase besar, kadar kecil.


Tambang emas Martabe di Batangtoru tergolong tipe high sulfidation. Perbandingannya 100.000:1 sampai 100.000:2,5. Artinya, dari 100.000 gram raw material, hanya 1 sampai 2,5 gram emas yang bisa diperoleh.

“Tapi tipe ini biasanya bisa ditambang sampai 10 tahun,” kata Mustika Rivay, geologist yang setahun terakhir bekerja di Tambang Emas Martabe. Tipe emas di Tambang Martabe ukurannya micron. Saking kecilnya, penambang liar pun ogah bersusah-susah cari rezeki di sana.

Bandingkan dengan tipe emas yang dicari penambang liar di Panyabungan Madina, yang diduga tergolong low sulfidation. Tipe ini biasanya mengikuti urat kuarsa. Kadar emasnya lebih banyak. Dan bijih emasnya lebih jelas.

“Hanya saja seheboh-hebohnya urat kuarsa paling dalam 2 meter, dengan kandungan 60 gram emas per 2 meter. Letaknya biasanya terpisah-pisah. Jika ditambang, umur penambangannya umumnya pendek, 5 tahun sudah habis,” kata Mustika.

Tipe porfiri dimiliki tambang emas Newmont di Nusa Tenggara Timur. Di sana, tonase materialnya besar, kadar emasnya juga besar. Ini jelas sangat menguntungkan.

Sedangkan tambang Freeport-Papua memiliki ketiga tipe emas ini. Ada yang high, low, dan porfiri.

Dalam melakukan penambangan emas tipe high sulfidation ini, PT Agincourt Resources tidak menggunakan zat mercuri, zat yang banyak dipakai penambang liar di Panyabungan-Madina untuk menangkap emas dari mineral lainnya.

“Tambang Martabe tidak menggunakan bahan kimia berbahaya seperti air raksa atau merkuri untuk menangkap partikel emas. Dan semua lokasi pemboran telah mendapat izin dari pemerintah dan masyarakat setempat,” kata Catarina Siburian.

Juanda, Bagian Processing Tambang Martabe menjelaskan, setelah raw material digiling menjadi seukuran debu, material dicampur dengan air di wadah pencampur berbentuk galon super besar, dan disaring dengan karbon (bukan air raksa). Karbon berfungsi untuk menangkap partikel-partikel emas berukuran micron.

Selanjutnya, air disalurkan ke bendungan penampung lumpur sisa tambang emas atau tailing storage facility (TSF). Menurut Agus Supriyanto, Deputy Mine Manager, dinding dan dasar bendungan terdiri dari tanah liat, sehingga air tidak merembes ke aliran air tanah.

Di bendungan sedalam 300-360 meter ini, ditampung 11-12 juta meter kubik air berisi ampas tambang yang sudah didetoksifikasi. Air ini terus menerus digunakan ulang untuk pencampuran material tambang.

“Kalau air hujan menambah debit air di bendungan sehingga meluap, ada dua bendungan lain lagi untuk menampung dan menyaring limbah, sebelum air yang sudah ‘bersih’ mengalir ke hilir Aek Pahu. Tapi sudah sejak Mei, air bendungan tidak pernah meluap, dan air yang sama kita gunakan berulang-ulang untuk campuran bahan tambang,” jelasnya. Adapun air itu sebelumnya diambil dari parit-parit yang mengalir di sekitar areal tambang.

Sedangkan aliran air dari hulu Aek Pahu yang ditutup sepanjang 3-4 km di areal bendungan, disalurkan langsung dari hulu menggunakan tiga pipa besar ke Aek Pahu hilir untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Tujuannya, agar air tetap asli tanpa menyentuh kawasan bendungan.

Agincourt mengatakan, pihaknya menerapkan standar tinggi dalam setiap upaya pengendalian dampak pada lingkungan serta kepatuhan pada peraturan keselamatan kerja. Luas bukaan lahan untuk keperluan lokasi pemboran dan landasan helikopter dibuat sesuai dengan kebutuhan. Ukuran standar untuk lokasi bor adalah 12 meter x 8 meter. Setelah kegiatan pemboran selesai, bukaan lahan ditanami kembali dengan bibit tanaman agar kembali menyerupai aslinya.

Bahan hidrokarbon atau bahan kurang ramah lingkungan digunakan sesuai standar prosedur penjagaan lingkungan. Bila terjadi tumpahan, maka tanah yang tercemar harus diangkat dan diproses ulang dengan metode bioremediasi (metode penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan) agar hidrokarbon yang ada dalam tanah tersebut terurai.

Selain bermain aman dalam penggunaan zat kimia, Tambang Martabe juga memilih untuk tetap menjaga lingkungan, dengan selalu melakukan rehabilitasi pada area bekas lokasi kegiatan pemboran.

“Kita memiliki nursery yang untuk pembibitan pohon local dan pohon lainnya, untuk perbaikan lingkungan. Ini sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial dan mendukung komitmen tambang hijau,” kata Catarina.

Selain rehabilitasi pada area bekas lokasi kegiatan pemboran dengan bibit pohon local dan bibit pohon lainnya, pihak tambang juga menyalurkan dana CSR (Corporate Social Responsibility) sebagai kompensasi bagi warga sekitar. Antara lain terlibat aktif dalam kegiatan kemanusiaan, termasuk menangani bocah gizi buruk dan mendukung pelaksanaan Posyandu di sekitar tambang. Mendukung perikanan air tawar di puluhan desa, memperbaiki sejumlah infrastruktur, pelatihan intensifikasi buddaya kakao dan karet, pelatihan pembuatan kompos, menumbuhkembangkan wirausaha lokal, dan sebagainya.

Komunikasi intensif juga dilakukan dengan masyarakat sekitar dan warga Tapsel umumnya. Rombongan warga yang ingin berkunjung selalu dilayani. Seperti belum lama ini, perusahaan menerima kunjungan ibu-ibu Bhayangkari dari Padangsidimpuan.

Dalam kunjungan itu, para ibu Bhayangkari bertanya, apakah benar informasi yang mereka terima bahwa beberapa gempa yang terjadi akibat pemboran di pertambangan?

Pihak Corporate Communications Agincourt pun menjelaskan, hal itu tidak mungkin terjadi. Karena alat bornya hanya berdiameter 7 cm, dan membor sekitar 200 meter ke bawah permukaan tanah. Mendapat penjelasan itu, para ibu pun berseru: “Ooooo… begitu. Kami pikir memang sungguhan bisa memicu gempa,” seru mereka seraya tertawa geli.

Pemahaman-pemahaman yang kurang tepat yang berkembang di masyarakat, sebisa mungkin dikomunikasikan pihak perusahaan. Brosur pun diterjemahkan ke bahasa daerah setempat.

“Saat ini, proyek Tambang Martabe telah menyerap lebih dari 4.000 tenaga kerja terserap, 40 persen di antaranya berasal dari lokal,” kata Catarina.

Sedangkan untuk saham, tahun 2008 lalu telah dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman yang mengatur pengalihan saham di PT Artha Nugraha Agung yang memiliki 5% saham di PT Agincourt Resources kepada Pemda, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara. Saham itu akan dibayar dari dividen dengan sistem 50:50, 50 persen untuk pembayaran saham, 50 persen lagi untuk daerah. (*/Habis)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *