Lentera Doa Penuhi Langit Cemara Asri

Metropolis

Melihat Perayaan Cap Go Meh di Medan

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Imlek bagi komunitas kaum migran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama.  Saat itu juga merupakan bulan penuh pertama dalam Tahun Baru tersebut. Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan. Bagaimana dengan di Kota Medan?


Kesuma Ramadhan, Medan

Lagi-lagi, warga Thionghoa di Medan lebih banyak memilih memeriahkan malam Cap Go Me di Maha Vihara Maitreya, Jalan Boulevard Utara No 8, Komplek Cemara Asri Medan, Senin (6/2).

Saat wartawan koran ini menyambangi lokasi ini, sejak pukul 20.00 WIB, sedikitnya ribuan masyarakat dari seluruh lapisan menyaksikan atraksi barongsai sebagai pembuka acara perayaan Cap Go Meh.

Dalam perayaan itu juga digelar berbagai acara kesenian berupa persembahan nyanyian, tarian, senam kasih semesta, band performance, drama parodi, dan kuis di panggung acara serta puluhan stand bazar yang memenuhi nuansa kemeriahan acara. Bahkan, bertempat di Graha Sakyamuni juga diadakan kegiatan pelita doa. Di depan graha, ribuan lembar kertas bertuliskan doa melebatkan pohon harapan Maha Vihara.

Hampir sama perayaan Imlek, di malam Cap Go Meh juga menerbangkan ribuan lentera dengan harapan doa. Lentera itu menerangi langit di sekitar vihara. “Tidak ada doa bersama untuk perayaan Cap Go Me, hanya saja banyak yang melakukan doa secara pribadi persembahan pelita, penggantungan kertas doa di pohon harapan, penggantungan kertas di sebuah lentera atau disebut lentera berkah,” ujar Humas Maha Vihara Maitreya, Henny Suryanti (Yi Ling) didampingi Marisa (Li Sman) ketua informatika saat ditemui di lokasi perayaan Cap Go Meh.

Menurut Marisa, konsep perayaan Cap Go Me tahun ini lebih ditekankan kepada jam kebahagiaan dunia, dimana pada tahun sebelumnya waktu adalah uang namun tahun ini waktu adalah kebahagiaan. “Motivasi bagi diri sendiri, tidak hanya sebatas menunjukkan waktu, namun memberikan keadaan sesuai keterangan waktu yang diinovasi oleh sebuah organisasi yang sifatnya universal. Untuk jamnya sendiri dicetuskan oleh De Miao Guang (Taiwan) oleh Mr Wang yang tersedia dengan harga yang bervariasi dari 500 ribu hingga 20 juta sesuai bentuk dan tergantung negara produksinya” terangnya.
Kegiatan tradisi ini dirayakan oleh etnis Tionghoa dari berbagai kepercayaan. Tak pelak, kesan yang muncul adalah kesan yang begitu mewah dan penuh kekeluargaan. “Imlek dan Cap Go Meh tidak ada hubungannya dengan agama Budha tapi lebih kepada tradisi Tionghoa saja,” jelas Marisa.

Semua lapisan usia dan etnis dan agama cukup antusias menyaksikan perayaan tersebut meskipun harus berhimpitan dan berdesakan akibat banyaknya jumlah pengunjung.   Namun, tampak jelas di wajah mereka rona kebahagian dan penuh pengharapan memeriahkan malam Cap Go Meh. “Senang dan bahagia rasanya. Saya berdoa penuh harap agar semua impian saya bisa terwujud,” ujar Lie Acien, warga Perumahan Cemara Asri.

Tapi, kebahagian malam Cap Go Meh tidak dirasakan sejumlah masyarakat Tionghoa yang berada di Kawasan Jalan Sukaramai Gang Bakung. Ratusan warga Tionghoa yang berdomisili di kawasan tersebut harus merelakan melewati malam perayaan Cap Go Meh di atas puing-puing rumahnya yang hangus akibat kebakaran.

Tangisan pilu dan ratapan sedih terpancar dari sejumlah pemilik rumah yang tengah mencari puing-puing sisa rumah yang diharapkan bisa ditukar dengan uang.

Salah satu pengakuan disampaikan Devi (21) warga sekitar yang menjadi korban keberingasan si jago merah. “Aku dapat kabar dari orangtuaku kalau tempat tinggal kami kebakaran. Karena dapat berita itu aku langsung pulang dan kulihat rumah keluargaku udah hangus dan rata dengan tanah,” sebutnya dengan nada penuh haru sembari mengais barang sisa kebakaran di kediamannya.

Dari penuturan anak keempat dari enam bersaudara ini, sebelumnya mereka sekeluarga telah berencana untuk merayakan Cap Go Meh seperti tahun-tahun sebelumnya dengan melaksanakan ritual sembahyang di Vihara dan selanjutnya makan malam di luar bersama keluarganya. Namun apalah daya nasib berkata lain, atas kejadian yang telah menimpa keluarganya, Devi mengaku hanya berpikir bagaimana bisa bertahan untuk ke depannya.
Hal senada juga dirasakan Ayen. Pria dengan empat anak ini tak mampu berbuat apapun kecuali pasrah dengan keadaan yang telah menimpanya. “Seharusnya kami bahagia menyambut malam Cap Go Meh. Tapi apa daya, Tuhan punya rencana lain buat kami. Bukan kami saja yang merasakan pilu ini, tapi juga teman-teman yang rumahnya hangus terbakar,” ujarnya.

Beruntungnya wujud solidaritas yang tinggi sesama etnis Tionghoa ditunjukkan oleh Departemen Sosial Mapanbumi (Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia) yang secara khusus membuka poski bantuan di Maha Vihara Maitreya Cemara Asri. Selain itu Mapanbumi juga membuka posko bantuan dan dapur umum di dua tempat lainnya yakni Vihara Maha Maitreya Jalan Gandi dan Vihara Suttha Maitreya Jalan Industri. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *