Lesehan Membahas Sampah yang Menghasilkan Listrik

Metropolis

Ikrimah Hamidy kembali dipercayakan untuk menjadi wakil rakyat. Jika sebelumnya Ikrimah duduk di kursi DPRD Medan, pada Pemilu legislatif 2014, April lalu, politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu lolos ke DPRD Sumut. Ikrimah pun tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan masyarakat Sumut dan siap menggusung gagasan besar untuk kemajuan Sumut.

Pembicaraan itu terungkap saat tim Sumut Pos bersantap sahur bersama di kediamannya, Jalan Raya Cengkuk IV Gang Kemiri no 9 Kecamatan
Medan Denai, Jumat (18/7). Rumah bercat oranye itu tampak gelap awalnya. Namun saat tim datang, ternyata Ikrimah yang sudah menunggu. “Sebentar saya bangunkan anak-anak dulu. Maklum anak-anak kalau jam segini susah dibangunkan sahur,” kata Ikrimah sembari mempersilahkan kami masuk.


Tim pun masuk ke ruang tamu yang penuh dengan ukiran kaligrafi. Di ruangan tengah sudah terhampar hidangan di atas karpet dengan berbagai menu makanan. “Kita lesehan saja ya,” katanya.

Ikrimah tak lupa menanyakan apa headline Sumut Pos untuk edisi pagi harinya. Ikrimah memang merupakan pembaca setia Sumut Pos juga. Apalagi baru saja dia mendengar dua berita hangat malam itu. Jatuhnya pesawat Malaysia Airline, M17 yang ditembak rudal di perbatasan Ukraina-Rusia serta tertangkapnya lima pejabat oleh KPK. “Saya belum begitu jelas. Soalnya tadi lihat dari line teks saja di TV. Pasti besok (kemarin, Red) menarik ya berita di koran,” kata mantan ketua PKS Medan itu.

Anak pertamanya Faruqi (11) sudah menunggu di atas karpet dengan wajah yang masih sayu. Mungkin karena masih mengantuk. Tak lama kemudian anak keduanya Hilmy (9) dan Hanadia (8) pun turut bergabung disusul uminya, Dessy Irawaty,dan Ibu mertuanya, Nur Baini. Sementara dua anaknya yang lain Syifa (6 tahun) dan  Abdurrahman (5 tahun) tidak ikut serta. “Yang keempat masih kelas 1 SD yang paling kecil masih TK,” katanya.

Suasana akrab bersantap sahur pun dimulai. Waktu ketika itu menunjukkan pukul 04.30 WIB. Menu telur sambal, ikan nila, tempe dan tahu goreng lengkap dengan rebusan dan sambal asem. “Saya memang biasa melambatkan sahur jam setengah 5. Jadi setelah itu bisa langsung Subuh. Banyak juga orang yang sudah sahur dari jam 3. Takutnya ketiduran. Menu sahurnya juga tidak ada yang spesial karena saya biasanya menyantap apa yang disediakan istri,” kata Ikrimah.

Sumut Pos memang bukan kali pertama berkunjung ke rumah Ikrimah untuk bersantap sahur. Tahun sebelumnya rumahnya juga menjadi salah satu tempat yang kami kunjungi dalam program sahur bersama tokoh. Seperti biasa selalu penuh hangat dan canda serta pembicaraan yang serius menyoal politik dan kondisi kota Medan. Namun jika taghun depan tim berkunjung tentu tak lagi di rumah tersebut.  “Saya mau pindah ke Helvetia. Kemungkinan tanggal 11 sampai 17 nanti. Nanti Pak Asmuni yang menempati di sini. Tanggal 22 (Juli) nanti mungkin saya adakan wirit terakhir di sini. Sekalian pamit dan memperkenalkan penghuni baru rumah ini,” kata ayah lima anak itu. 

Pembicaraan mengalir sembari terus bersantap. Ikrimah juga menjadi sedikit bernostalgia saat tim menanyakan kisahnya hingga bisa bertemu dengan Dessy Irawaty yang kini menjadi teman hidupnya. “Kejadiannya sedikit lucu. Waktu itu saya jumpanya sewaktu orasi demo Israel di Konjen Malaysia. Sekitar tahun 2001 atau 2002. Kebetulan istri saya anggota Salimah (Persaudaraan Muslimah). Jadi waktu demo dia spontan berteriak ‘nikahkan Ikrimah’. Ternyata dia jadi istri saya sekarang,” kenangnya.

Obrolan berlanjut soal rancangan Perda rokok yang begitu sulit diterapkan. Semasa menjabat Wakil Ketua DPRD Medan, Ikrimah menjadi inisiator Perda Penanggulangan HIV/AIDS Kota Medan, inisiator Perda Pelestarian Cagar Budaya, pemakaian kekayaan daerah, perda pengembangan UKM dan lainnya.

Lalu apa perubahan yang bakal dibuat Ikrimah saat duduk di kursi DPRD Sumut nanti? Ikrimah melontarkan rencananya besarnya untuk membangun perusahaan daerah bersama sampah. “Jadi semacam pengolahan sampah bersama di Sumut. Tapi memang butuh investasi besar. Sekitar Rp1,7 triliun. Jadi masing-masing daerah menanamkan sahamnya di situ. Orientasinya juga besar. Kita bisa menghasilkan listrik. Memang tidak mudah karena tiap daerah harus punya kesepakatan bersama. Di situ yang agak sulit. Butuh waktu,” kata mantan Ketua KAMMI Sumut ini.

Menurutnya ini tidak bisa hanya dilakukan di Medan. Pasalnya, volume sampah di Medan sangat kecil. “Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan Pak Jaya Arjuna (pakar Lingkungan). Dia meneliti volume sampah Medan hanya 300-500 ton per hari. Sedangkan gagasan yang saya maksud itu harus 1.500 ton per hari minimalnya,” bebernya.
Ikrimah juga menyoroti rendahnya kepedulian masyarakat menyoal sampah. “Berbeda dengan di Jepang, sampah-sampah diklasifikasikan apakah itu sampah organik, basah, atau kering. Sementara di Indonesia, masyarakat mau buang sampah pada tempatnya aja syukur. Susah meyakinkan,” jelasnya.
Dan, azan sudah berkumandang. Tim pun melangkah bersama ke masjid untuk salat subuh berjamaah. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *