Longsor di PLTA Batangtoru, 13 Korban Tertimbun

Sumatera Utara

TAPSEL, SUMUTPOS.CO – Dari 13 korban yang tertimbun longsor di areal proyek PLTA Batangtoru, Desa Marancar Godang, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis (29/4) sekira pukul 06.30 WIB pekan lalu, masih lima jenazah yang ditemukan dan dievakuasi. Tiga jenazah ditemukan Jumat (30/4), disusul dua jenazah lagi hingga Minggu kemarin. Sementara 10 korban lainnya masih hilang.

TINJAU: Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, bersama Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra, Pangdam I/Bukit Barisan Myajen TNI Hassanudin, dan Kepala BIN Daerah Sumut, Brigjen TNI Asep Jauhari Puja Laksana meninjau lokasi longsor di kawasan PLTA Batangtoru, Desa Marancar Godang, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Minggu (2/5). Diskominfo Sumut.

GUBERNUR Sumatra Utara (Sumut) Edy Rahmayadi meninjau lokasi longsor di Tapsel bersama Kepala Kepolisian Daerah Sumut, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak, dan Pangdam I/BB Mayjen TNI Hassanuddin, Minggu (2/5). Turut serta dalam peninjauan tersebut yakni Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Sumut, Brigjen TNI Asep Jauhari Puja Laksana, dan Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, M Mahfullah Pratama Daulay.


Rombongan berangkat dari Mapolda Sumut naik helikopter bersama Danrem 023 / KS serta Dansat Brimob Poldasu. Rombongan berpatroli udara melihat situasi terkini areal longsor.

Usai patroli udara, rombongan menggelar rapat koordinasi dengan Kapolres Tapsel, Dandim 0212 / TS, Danyonif 123 / RJ, Dandenpom 1/2 Sibolga, Danyon C Brimobdasu, Bupati Tapsel, Kepala Basarnas Sumut, Kepala BPBD Sumut dan Proyek Manager PT NSHE di Posko Terpadu Bencana Alam Tapsel, di Kecamatan Marancar.

Pada rapat itu, Gubernur Edy Rahmayadi meminta upaya evakuasi korban dilakukan dengan mengerahkan seluruh potensi yang ada, dan melibatkan berbagai pihak yang terkait. Namun tetap memperhatikan keselamatan, karena kondisi lokasi bencana masih rawan.

“Evakuasi korban harus kita lakukan lebih optimal dan terpadu, dengan harapan seluruh korban hilang dapat segera ditemukan seluruhnya,” ujar Gubernur Edy Rahmayadi.

Gubernur juga meminta agar unsur terkait BPBD tetap bersinergi dalam melakukan penyelamatan, dengan menggunakan alat-alat pendukung yang ada secara maksimal.

Sementara Kapoldasu mengatakan, tim gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD, masyarakat, perusahaan dan pihak terkait lainnya terus berupaya mencari korban yang tertimbun longsor. “Tim bergerak cepat mengevakuasi para korban. Hingga sekarang, sudah lima korban yang ditemukan serta dievakuasi. Tiga di antaranya telah dimakamkan,” kata Kapoldasu melalui melalui Kabid Humas, Kombes Pol Hadi Wahyudi, Minggu (2/5).

Hadi mengatakan, tim gabungan dari Polres Tapsel, TNI, BPBD, Batalyon C Brimobdasu, Basarnas dan masyarakat, terus melakukan para korban tertimbun longsor. “Lebih kurang 200 personel gabungan dipimpin Kapolres Tapsel, AKBP Roman S Elhaj dan Dandim Tapsel, melakukan pencarian korban longsor,” kata Hadi.

Dalam rapat koordinasi itu, Kapolda Sumut Irjen Pol Panca meminta tim gabungan yang terdiri dari Polres Tapanuli Selatan, TNI, BPBD, Batalyon C Brimobdasu, dan Basarnas, agar menangani bencana alam tanah longsor di Batangtoru dengan cepat dan tepat.

“Kerahkan segala kemampuan kalian dengan baik, lakukan penanganan korban dengan tepat dan bekerja sama dalam melakukan SAR,” kata Panca.

Sementara itu, Plt Kepala BPBD Sumut M Mahfullah Pratama Daulay menyampaikan laporan kepada Gubernur Sumut terkait kondisi terkini proses evakuasi korban banjir dan longsor tersebut. “Kita akan terus melaporkan segala perkembangan yang terjadi kepada Bapak Gubernur. Dan terhadap korban yang ditemukan segera dilakukan identifikasi,” ujarnya.

Musibah longsor terjadi pada Kamis (29/4) sekira pukul 06.30 WIB, saat wilayah tersebut dilanda hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang sejak siang pukul 14.00 WIB. Sekitar pukul 18.00, terjadi banjir lumpur dan tanah longsor di kawasan proyek PLTA Batangtoru. Sebagian material longsor jatuh ke dasar Sungai Batangtoru, mengakibatkan 13 korban tertimbun longsor.

Keesokan harinya, Jumat (30/5), Tim Basarnas bersama Tim Gabungan berhasil mengevakuasi 3 jenazah dari areal longsor. Korban yang ditemukan terdiri dari satu wanita dewasa, satu anak perempuan, dan satu pria. Saat ditemukan, kondisi jenazah dalam keadaan tidak utuh.

“Wanita dewasa ditemukan dengan kondisi tubuh tidak utuh di bagian tangan 1. Anak laki-laki ditemukan tanpa kepala,” ujar Humas Kantor SAR Medan, Hariman Sitorus, Jumat (30/4).

Selanjutnya, pada pukul 13.10 WIB, tim menemukan potongan tubuh manusia. “Tangan kanan (diduga bagian tubuh wanita dewasa. Pada pukul 15.12 WIB, tim berhasil menemukan potongan tubuh korban, yaitu kepala diduga bagian tubuh korban anak laki-laki yang ditemukan sebelumnya,” ungkapnya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapsel, M Mahfullah P Daulay, mengatakan peristiwa ini terjadi diduga karena curah hujan tinggi yang terjadi terus-menerus tinggi.

Pekerja WNA Cina Ikut Tertimbun

Communication & External Affairs Director North Sumatera Hydro Energy, Firman Taufick mengatakan, seorang pekerja warga negara Cina ikut tertimbun. Namanya Long Quan.

Saat kejadian, karyawan K3 Sinohydro bernama Dolan Sitompul, menemani 2 orang karyawan Sinohydro, yakni Long Quan dan Xie, Kamis sekitar pukul 18.10 WIB. Mereka mengendarai sebuah mobil proyek double cabin. Tujuannya untuk mengecek dan mendokumentasikan terjadinya banjir lumpur setinggi 50 cm, yang terjadi pada pukul 16.30 WIB di Jalan R17 K4+100 Bridge 6. Saat itu hujan lebat mengguyur lokasi proyek sejak siang hari.

“Pihak Sinohydro mencurigai banjir lumpur di lokasi ini akan menyebabkan longsor. Karena itu, mereka perlu mengecek agar dapat menyiapkan alat berat untuk mengatasinya,” kata Firman dalam keterangan resminya Jumat (30/4).

Setelah melakukan pengecekan dan mengambil dokumentasi, sekitar pukul 18.20 WIB terjadi longsor yang langsung menimpa dan menggulung para karyawan Sinohydro tersebut.

Namun WNA Cina bernama Xie yang sempat melihat adanya longsoran, berhasil meloncat keluar dari mobil dan lari menyelamatkan diri.

“Sementara rekannya, Long Quan dan Dolan Sitompul tergulung tanah longsor. Longsoran tanah itu terus meluncur dan menyapu sebuah kedai kopi milik Anius Waruwu yang tepat berada di bawahnya,” papar Firman.

Saat ini tim teknis lapangan sedang menelusuri korban longsor yang berada di dalam kedai milik keluarga Anius. “Hingga sekarang kami masih menunggu informasi lebih lanjut dari tim teknis lapangan mengenai upaya pencarian maupun situasi di lokasi. Kami sampaikan juga, upaya pencarian korban oleh tim teknis lapangan dibantu Koramil Sipirok dan Polsek Sipirok,” tuturnya.

Sampai berita ini diturunkan, belum diketahui nasib Long Quan (tenaga kerja asing) dan Dolan Sitompul (warga lokal).

Tentang warung kopi di lokasi proyek, menurut Firman, warung kopi tersebut berada di luar lahan yang dibebaskan PT NSHE, namun dekat dengan Jalan Proyek (R17).

“Pihak perusahaan sudah melakukan negosiasi dan meminta mereka memindahkan warungnya, mengingat potensi bahaya yang ada selama pembangunan berlangsung. Seharusnya 3 hari lagi, perusahaan dan pihak pemilik warung akan membicarakan perpindahan lokasi,” katanya.

Sebagai wujud kepedulian dan simpati terhadap korban, menurut Firman, perusahaan akan bertanggung jawab terhadap keluarga korban sesuai prosedur yang berlaku serta berdasarkan kebijakan perusahaan yang akan diambil atas kejadian ini.

“Namun untuk korban yang bukan karyawan, perusahaan akan memberikan uang tali kasih sebagai wujud kepedulian kami,” pungkasnya.

Pemkab Tapsel: Murni Bencana Alam

Terpisah, Pemkab Tapsel memastikan peristiwa tanah longsor di areal PLTA Batangtoru murni bencana alam, bukan tindakan sabotase ataupun perbuatan manusia.

“Longsor terjadi akibat tingginya curah hujan di sekitar kawasan tersebut selama tiga hari berturut-turut. Tidak ada kaitannya dengan aktivitas pembangunan di PLTA Batangtoru,” ujar Kepala Bagian Humas Pemkab Tapsel Ismut Siregar, Jumat (30/4).

Dia menjelaskan, longsor terjadi pada tebing setinggi 50 meter di tanah milik warga bernama D Siregar. Di tanah itu ada pula bermukim penjaga tanah bermarga Waruwu. (mag-01/net/bbs)

loading...