Mahasiswa Indonesia Hanya Satu, Berminat Ikut Campus Expo

Metropolis
Boks-Abu Hasan Ashari
 BUTUH TEMAN: Abu Hasan Ashari (kanan) menyapa dua teman kuliahnya di asrama mahasiswa asing di kampus Ningxia University, Jumat (5/9). (Foto: Frizal Kurniawan/Jawa Pos)

Laporan: Bayu Putra, Yin Chuan, M. Frizal

Jalur sutra baru yang digagas Tiongkok diharapkan membentang hingga negara-negara Timur Tengah. Untuk memenuhi ambisi itu, Tiongkok mencari sumber daya manusia terbaik dari negara-negara muslim, khususnya mahasiswa asal Indonesia.


TUJUAN studi luar negeri para pelajar Indonesia tidak sulit ditebak. Harvard, Oxford, SNU, Tokyo University, atau universitas-universitas terkemuka lain. Bagaimana dengan Ningxia University di Tiongkok” Jangankan lokasi universitas itu, nama Ningxia University saja, belum banyak orang Indonesia yang mendengar.

Provinsi Ningxia memang tidak sepopuler Beijing, Shanghai, Guangzhou, atau Nanjing. Namun, dalam ambisi besar Presiden Tiongkok Xi Jinping, Ningxia jauh lebih berharga jika dibandingkan dengan kota-kota megapolitan itu. Posisi Ningxia yang menjadi pintu gerbang barat Tiongkok akan membuka jalur perdagangan legendaris yang populer disebut jalur sutra baru ke negara-negara Timur Tengah.

Karena lokasi Ningxia yang strategis, pemerintah Tiongkok menganugerahi status otonomi khusus. Dengan berbagai keleluasaan dalam menjalin hubungan dengan pihak luar negeri, provinsi di bagian barat Tiongkok tersebut sangat gencar membangun pusat-pusat bisnis, industri, dan teknologi informasi.

Gedung-gedung menjulang terus berdiri. Kawasan industri bertebaran di mana-mana. Nah, jika “hardware”-nya sudah siap, tahap berikutnya tentu menyiapkan “software” berupa tenaga ahli untuk menghidupkan kawasan terpadu yang direncanakan selesai pada 2018 itu.

Ningxia University digadang-gadang menjadi salah satu pemasok inovator dan tenaga ahli untuk pusat bisnis yang akan diisi banyak investor asal Timur Tengah. Tidak heran bila pemerintah Tiongkok kini gencar mempromosikan kampus tersebut demi mencetak para ilmuwan dan tenaga ahli yang diinginkan.

Berkat bantuan Konsulat Jenderal Tiongkok di Surabaya, delegasi Jawa Pos Group berkesempatan mengunjungi Ningxia University akhir pekan lalu. Rombongan yang terdiri atas Wapemred Jawa Pos Abdul Rokhim, Direktur Pemberitaan JTV Imam Syafii, Pemred Pontianak Post Salman Busrah, Pemred Kaltim Post Muhammad Rizal Juraid, Wapemred Sumatera Ekspres Nurseri Marwah, dan Pemred Riau TV Bambang Suwarno itu langsung disambut suasana sejuk saat turun dari bus yang membawa mereka ke kampus di pinggiran Kota Yin Chuan, ibu kota Provinsi Ningxia.

Kampus Ningxia University memang dipenuhi pepohonan rindang yang ditata apik. Nyaris tidak ada lahan kosong yang menganggur. Hampir semua jengkal ditanami pepohonan. Pemandangan itu pula yang tampak di sekitar fakultas pendidikan internasional yang menjadi tempat pertemuan delegasi Jawa Pos Group dan rektorat Ningxia University.

Dosen Fakultas Pendidikan Internasional Ma Xia yang membuka diskusi menuturkan, salah satu hal yang diunggulkan kampus tersebut adalah keberadaannya di Provinsi Ningxia. Dengan populasi umat muslim yang mencapai 2,5 juta jiwa atau 35 persen dari total 6,4 juta penduduk Ningxia, universitas tersebut banyak ditawarkan ke negara-negara berpenduduk muslim, terutama Timur Tengah.

“Mahasiswa muslim lebih nyaman kuliah di sini daripada kota lain di Tiongkok,” tutur Ma Xia.

Banyaknya kemudahan bagi umat Islam di Ningxia membuat para pelajar asal Timur Tengah tidak ragu untuk melanjutkan studi di kampus tersebut. Salah satunya, tentu kemudahan untuk mendapatkan pergaulan dan makanan yang halal.

Kampus yang berdiri sejak 1958 itu kini memiliki hampir 37 ribu mahasiswa. Terdiri atas 33.500 mahasiswa S-1, 3.090 mahasiswa pascasarjana, dan 400 mahasiswa internasional dari 57 negara. Mereka dibimbing sekitar 1.500 dosen yang 912 di antaranya sudah bergelar profesor.

Ningxia University memiliki 23 fakultas dengan 76 program studi untuk jalur S-1. Termasuk program studi konfusianisme yang cuma disediakan kampus di Tiongkok. Selain itu, kampus yang menjadi bagian program nasional pengembangan pendidikan Tiongkok itu memiliki 159 program studi master dan 27 program doktoral. Ditambah lagi, tiga pusat penelitian khusus untuk mencetak calon-calon profesor.

Wakil Dekan Fakultas Pendidikan Internasional Zhang Yongqun menambahkan, salah satu target kampusnya adalah menjadi pusat studi bagi mahasiswa asing yang hendak belajar di Tiongkok. Karena itu, saat ini program kursus bahasa Mandarin bagi para calon mahasiswa diperbanyak. Dengan demikian, begitu kuliah, mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa Mandarin.

Cara tersebut sekaligus bertujuan memperbanyak jumlah penutur bahasa Mandarin.

“Universitas ini dengan sendirinya akan menjadi pusat penyebaran kebudayaan Tiongkok ke seluruh dunia,” tutur Zhang. Pihaknya berharap bisa menjalin kerja sama dengan berbagai kampus di seluruh dunia, termasuk dengan kampus Indonesia.

Pelajar Indonesia, lanjut Zhang, bisa menjadikan Ningxia University sebagai salah satu alternatif studi. Dengan kualitas Ningxia yang diyakini hampir sama dengan universitas terkemuka lain, mahasiswa Indonesia akan lebih nyaman dan mudah beradaptasi. Dari segi makanan saja, banyak kesamaan antara Ningxia dan Indonesia. Misalnya, umbi-umbian yang di Jawa dikenal dengan nama polo pendem yang selalu disediakan saat jam makan.

Pihaknya memastikan akan berpromosi di Indonesia tahun depan. Ningxia University bakal memanfaatkan ajang Jawa Pos Campus Expo yang diselenggarakan setiap tahun di Surabaya. Dia yakin mahasiswa Indonesia, terutama yang beragama Islam, akan merasa seperti di rumah sendiri saat menempuh studi di kampus tersebut.

Kenapa membidik Indonesia” Alasan paling masuk akal adalah Ningxia University saat ini hanya memiliki satu mahasiswa asal Indonesia, yakni Abu Hasan Ashari. Abu, begitu pemuda asal Jakarta itu biasa disapa, merupakan mahasiswa kedua yang kuliah di kampus tersebut. Mahasiswa pertama asal Indonesia saat ini telah lulus sehingga tinggal Abu yang tersisa.

Alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Jogjakarta itu saat ini sedang menempuh studi master di bidang antropologi. Dia ingin meneliti Islam di Tiongkok.

“Saya juga punya nama Tionghoa, yaitu Sun Yun Yang,” tutur pemuda 26 tahun itu. Nama tersebut dia pilih karena memiliki arti yang baik. Sun merupakan nama marga, Yun berarti awan, dan Yang bermakna matahari.

Abu sudah dua tahun tinggal di Tiongkok dan setahun di antaranya dihabiskan untuk kuliah di Kota Nan Chang, Tiongkok Selatan. Setelah setahun studi, Abu melihat penawaran beasiswa dari Ningxia University di website kampus tersebut. Dia pun tertarik untuk pindah ke Ningxia karena ingin merasakan kawasan Tiongkok Barat. Ditambah lagi, banyak populasi muslim yang berasal dari suku Hui di Ningxia.

“Saya ambil antropologi karena tertarik dengan Laksamana Cheng Hoo. Dia diceritakan dari suku Hui. Jadi, saya semakin semangat belajar di Ningxia, tempat hidup suku Hui,” ungkap Abu yang kini mengambil master pada semester pertama.

Putra pasangan Bahruddin dan Sulastri itu menghabiskan setahun terakhir di Ningxia dengan tinggal di asrama mahasiswa empat lantai yang terletak sekitar 300 meter dari fakultasnya. Dia menghuni kamar berukuran 6 x 5 meter persegi bersama seorang rekannya asal Mesir, Ahmad. Asrama tersebut berisi mahasiswa asing dari 32 negara.

Soal makan, Abu tidak pernah khawatir. Dia bisa memasak beberapa jenis masakan Indonesia di asramanya. Jika tidak sempat memasak, Kota Yin Chuan menyediakan banyak penjual makanan halal yang cocok dengan lidah orang Indonesia. “Yang kurang di sini hanya sambal,” ucapnya seraya tertawa.

Selain fasilitas belajar yang baik, Abu mendapat banyak kemudahan lewat statusnya sebagai mahasiswa muslim. Misalnya, kesempatan untuk menunaikan salat Jumat. “Di Yin Chuan banyak masjid, jadi tidak susah saat hendak salat berjamaah,” tutur pengagum tokoh besar Tiongkok Mao Tse Tung dan Sun Yat Sen itu.

Kemudahan lainnya adalah saat hari raya. Abu mencontohkan, saat Idul Adha, Ningxia University meliburkan aktivitas kampus selama seminggu untuk menghormati mahasiswa muslim yang kuliah di situ. Liburan tersebut malah tidak lazim dan terlampau panjang untuk ukuran Indonesia karena liburan panjang di tanah air hanya berlaku saat Idul Fitri.

Di Ningxia University Abu mendapat beasiswa penuh selama setahun. Jika tanpa beasiswa, mahasiswa harus merogoh kocek 16 ribu sampai 22 ribu yuan (setara Rp 32 juta”Rp 44 juta) per tahun. Karena mendapat beasiswa, Abu tinggal mengeluarkan biaya untuk asrama sebesar 600 yuan (Rp 1,2 juta) per bulan dan makan.

“Untuk makan, saya dikirimi 1.000 yuan (Rp 2 juta) setiap bulan oleh orang tua saya. Itu sudah sangat cukup,” ucapnya.

Uang tersebut berasal dari tabungan miliknya yang dikumpulkan hasil kerja pascalulus dari UIN Jogjakarta. Agar tidak boros, Abu meminta orang tuanya untuk mengirimkan uang tersebut secara terbatas setiap bulan.

Dia menuturkan, untuk bisa kuliah di Tiongkok, mahasiswa tidak harus fasih berbahasa Mandarin. Sulung di antara tiga bersaudara itu mengaku berangkat ke Tiongkok tanpa modal bahasa Mandarin sama sekali.

“Saya hanya mengandalkan bahasa Inggris, itu pun pasif,” ungkapnya.

Dia baru belajar bahasa Mandarin setiba di Tiongkok. Setelah enam bulan belajar bahasa, dia mengikuti tes HSK, sejenis tes TOEFL untuk bahasa Mandarin.

Abu menambahkan, selama belajar di Ningxia, dirinya belum pernah pulang. Begitu juga kedua orang tuanya yang sama sekali belum ke Ningxia. Meski begitu, dia tetap aktif berkomunikasi dengan orang tuanya di tanah air. “Paling tidak sebulan sekali saya sempatkan menelepon,” tandasnya.

Saat mendapat kabar ada kunjungan delegasi Jawa Pos Group, Abu mengaku sangat senang. Meskipun tidak ada kendala komunikasi dengan warga sekitar dan teman-temannya dari mancanegara, Abu kadang merasa sangat kangen bertemu dan bercakap-cakap dengan orang Indonesia. “Jika sudah begitu, saya lampiaskan dengan menelepon teman atau keluarga di tanah air,” ungkapnya.

Dia tambah bergembira lagi saat mengikuti pertemuan di rektorat dan mendengar bahwa Ningxia University berniat mengikuti Jawa Pos Campus Expo tahun depan.

“Saya tentu semakin bersemangat kuliah, saya siap membantu sepenuhnya atas program tersebut dan menolong mahasiswa baru asal Indonesia dalam beradaptasi,” kata penghobi traveling itu. (*/c5/c10/kim/bersambung)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *