Malam Renungan HIV/AIDS, Kenang yang Telah Pergi

Metropolis
AMINOER RASYID/SUMUT POS LILIN: Konsulat Jenderal Amerika Serikat Kathryn Crockrat memegang lilin dalam malam renungan HIV/AIDS. -Aids di gedung Omega Jalan Diponegoro Medan, Jumat (25/5) malam. Solidaritas untuk kaum Oda tersebut menjadikan kegiatan yang memotifasi semua penderita penyakit menular tersebut.
AMINOER RASYID/SUMUT POS
LILIN: Konsulat Jenderal Amerika Serikat Kathryn Crockrat memegang lilin dalam malam renungan HIV/AIDS.
-Aids di gedung Omega Jalan Diponegoro Medan, Jumat (25/5) malam. Solidaritas untuk kaum Oda tersebut menjadikan kegiatan yang memotifasi semua penderita penyakit menular tersebut.

Aku ingin hakku…
bersatu dalam masyarakat..
melantun merdu terbahak-bahak…
walau HIV menggantungi…
walau AIDS menghantui…
namun, aku ingin berkarya…
membanggakan Indonesi…
Bait terakhir puisi di atas berjudul ‘Adilkah Ini ?n
menyampaikan semua isi hati para ODHA. Puisi itu dibacakan Ria Siregar dan Wulandari dari Perempuan Peduli Perempuan yang Dilacurkan (Pedila) Medan (P3M) untuk mengisi acara malam renungan AIDS, Jumat (24/5) kemarin di Gedung Alfa Omega.

Dengan niat untuk mengenang kembali Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang telah pergi (meninggal), LSM Medan Plus bersama Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kota Medan dan beberapa lembaga peduli Odha melakukan kegiatan tersebut dalam malam renungan yang dipenuhi cahaya lilin diiringi puisi dan lantunan lagu.


Direktur Medan Plus Eban Totonta Kaban mengatakan, ini sebuah momen spesial untuk dikenang kembali. “Karena kami menggunakan acara ini untuk mengingat kembali teman-teman kami yang sudah pergi meninggalkan kami, setelah berjuang dengan HIV/AIDS selama hidupnya,” katanya.

Acara malam renungan AIDS ini, lanjutnya, menjadi malam renungan bagi pihaknya atau siapapun yang melakukan pendampingan kepada ODHA untuk lebih baik lagi. “Kita melakukan upaya-upaya yang lebih baik lagi, sehingga mutu hidup orang HIV dapat lebih ditingkatkan. Dan sesuai dengan tema, kita berharap rasa kepedulian bisa tertular dari acara ini melalui solidaritas,” kata Eban.
Dirinya berharap kepada semua yang hadir bisa memiliki rasa kepedulian dan mau mendukung apa yang telah mereka kerjakan. “Saya yakin kalau tujuan Medan Plus menghapuskan stigma dan diskriminasi itu bisa terealisasi,” ungkapnya.

Menurutnya, pelayanan kesehatan sebagai ujung tombak pemberian perawatan kepada ODHA harus lebih ditingkatkan. Sebab, selama ini dokter masih berjalan sendiri-sendiri. “Dokter spesialis ini tidak mau berkoordinasi dengan spesialis ini. Padahal kita tahu untuk menangani pasien ODHA itu perlu koordinasi antara rekan sejawat. Kemudian fasilitas dan juga kebijakan. Selama ini masih ada beberapa daerah masih acuh dan kurang peduli. Apakah karena tidak tahu, sudah tahu, tapi masih menganggap ini bukan menjadi prioritas. Ini yang masih menjadi kendala yang kami hadapi. Melalui malam renungan ini bisa menjadi masukan bagi semua pihak,” harap Eban.

Selain itu, Eban juga menyebutkan, dari data kasus yang dirilis dinas kesehatan, ada sebanyak 50 penderita yang terinfeksi dari transfusi darah. “Di antara 50 penderita itu, ada yang menjadi dampingan Medan Plus. Salah satunya kak Sri yang melakukan testimoni tadi,” ujarnya.

Menurutnya, Eban juga mengharapkan agar peralatan medis juga harus lebih diperhatikan. “Skrining darah itu masih ada yang lolos dan tidak melalui prosedur sebenarnya. Misalnya PMI. Bahkan kalau tidak salah saya, ada beberapa PMI cabang di kabupaten/kota yang belum memiliki alat pendeteksi (skrining) darah. Jadi, betapa bahayanya, ketika ada kebutuhan darah, tidak melalui proses skrining ini. Jadi sebaiknya pemerintah daerah menyediakan alat itu di daerahnya dan ini menjadi tanggung jawab daerah,” imbaunya.
Sementara Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS (PDPAI) Sumatera Utara Dr dr Umar Zein SpPD, KSPTI mengharapkan anggota PDPAI untuk lebih peduli menangani HIV/AIDS.

Menurutnya, masih ada yang kurang dalam menangani AIDS dari beberapa bidang atau spesialis seperti bagian anak, neurologi, bedah, mata dan penyakit dalam dan bagian gigi, kecuali yang bergabung di dalam Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).

Begitu juga dengan rumah sakit dan Pos Pelayanan Khusus (Posyansus) di rumah sakit seharusnya lebih banyak disiplin ilmu didalamnya. “Seperti kasus salah seorang anak yang AIDS yang mengalami problem di paru, mata dan juga mengalami diare. Maunya untuk menanganinya dibentuk tim dokter, karena AIDS kasusnya komplek,” ujar Umar.

Diakuinya, di Medan memang sulit untuk menyatukan berbagai disiplin ilmu untuk menangani HIV/AIDS. “Banyak faktor penyebabnya. Tujuan PDPAI membuat tim, tetapi kepedulian belum seperti yang diharapkan. Rumah sakit masih ada yang tidak mengajak dokter dari luar untuk peduli AIDS, paling tidak untuk menyumbangkan pemikiran. Kita tidak mungkin mengajukan diri. PDPAI juga tidak mudah mengajak berbagai disiplin ilmu membicarakan kasus ini,” kata Umar mengakhiri. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *