Mau Kaya atau Mampu Memberi ?

Mimbar Jumat

Sebagian orang ada yang memiliki cita-cita ingin jadi orang kaya. Jika dari harta yang halal, mengapa harus takut jadi orang kaya. Apalagi kekayaan yang diperoleh dipergunakan buat menyenangi orang lain. Hanya saja orang yang merasa kaya setelah memiliki sekian banyak harta  akan selalu merasa kurang sebab kaya itu relatif. Rasulullah bersabda, “bukanlah orang kaya, mereka yang banyak harta, tapi orang kaya adalah orang yang merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah Swt kepadanya”.

Sebagai orang Islam, pedoman kita adalah Kitabullah Al Qur’an dan Sunah Nabi. Insya Allah, Al Qur’an itu Haq dan nabi itu maksum terjaga dari dosa dan kesalahan. Ada pun manusia biasa termasuk ulama tidak lepas dari salah dan lupa. Dari berbagai ayat Al Qur’an dan Hadis dapat mengambil kesimpulan bahwa Islam menganjurkan umatnya untuk memberi. Bukan untuk menjadi kaya. Contohnya, membayar zakat dan juga bersedekah. Mungkin ada yang bertanya, “Apa bedanya memberi dengan menjadi kaya? Bukankah untuk memberi kita harus kaya?”


Meski sekilas memberi sama dengan menjadi kaya, tapi tidak serupa. Banyak orang yang kaya tapi tidak mau bayar zakat atau bersedekah. Sebaliknya banyak orang miskin yang hidupnya biasa-biasa saja justru rajin berzakat dan sedekah. Banyak orang yang kaya tapi tidak berhaji. Sebaliknya banyak orang yang pas-pasan seperti TKI dan TKW malah bisa naik haji.

Mungkin ada yang bertanya, “Apa iya orang miskin atau pas-pasan bisa sedekah atau bayar zakat?” Jawabnya bisa
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya: Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: “Sedekah orang yang tak punya, dan mulailah memberi sedekah atas orang yang banyak tanggungannya. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim.

Bukan cuma dari hadis, ini pengalaman penulis sendiri.
Sebagai Ketua sebuah organisasi, beberapa orang menyumbang melalui dirinya. Ternyata penyumbang terbesar itu bukanlah orang yang kaya harta. Luas rumahnya paling tidak lebih kurang 30 m2, mobil dan motor dia tidak punya.
Namun dia menyumbang untuk umat laptop dan kamera (paling tidak nilainya Rp3 juta) plus uang cash lagi Rp200.000,- . Yang lain yang punya mobil dan rumah bagus belum tentu bisa begitu.

Di Indonesia banyak orang miskin. Menurut media VHR, 50.000 rakyat Indonesia bunuh diri karena kemiskinan dalam 3 tahun terakhir. Bahkan di media Surya Online diberitakan ada anak SD usia 11 tahun yang bunuh diri karena tidak kuat menahan lapar dan sakit maag yang diderita karena dia hanya sanggup makan sekali sehari. Tidak sepantasnya ummat Islam hidup bermewah-mewah sementara mayoritas rakyat hidup miskin karena ini tanda dari kurangnya iman. Wallahu A’lam bishowab…

Saat ini bermunculan motivator Islam. Ini bagus. Tapi jangan sampai kita mengikuti motivator Barat sehingga akhirnya tenggelam pada materialisme/duniawi. Meski Islam melarang kita melupakan dunia, namun Islam mengajarkan kita mengutamakan akhirat:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi” [Al Qashash:77]

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia, maka Kami segerakan baginya di dunia dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir” [Al Israa’:18]
Allah mengingatkan kita bahwa akhirat lebih baik dan kekal dari dunia karena manusia memang cenderung pada dunia hingga banyak yang lupa akan akhirat:

“Sungguh hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada dunia” [Adh Dhuhaa:4]
“Akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” [Al A’laa:17]

Oleh : H. Mara Jaksa Harahap, S.Ag

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *