Memandang Islam Secara Utuh

Mimbar Jumat

Oleh:
Drs H Hasan Maksum Nasution, SH, S.PdI, MA

Bagaimana, jika seorang manusia dipotong tangannya, kakinya, telinganya, hidungnya, apakah masih utuh dan bisa melaksanakan tugas kemanusiaannya secara maksimal? Tentu tidak sama sekali.


Begitulah, jika Islam diamputasi; lihatlah Islam minus politik, minus ekonomi, minus budaya, minus sosial, minus pendidikan, minus zihad ataupun minus militer, pemerintahan amburadul, maka dia akan mewujudkan menjadi agama aneh dan tidak relevan dengan zamannya. Padahal, sejatinya Islam adalah agama samawi yag mampu, eksis dan survive, serta bergaya guna dalam segala sikon, ruang dan waktu atau lintas era dan negara.

Ketika Islam diamalkan secara utuh dalam tatanan individual dan lembaga sampai ke tingkat negara dan khalifah atau globalisasi, maka Islam dipastikan menjadi super power dan ketika Islam berkuasa, dia akan menggaransi agama lain dan peradaban lain tidak akan dipunahkan, dia hanya memastikan, bahwa dunia dan manusia diatur dengan penuh keadilan dan keselarasan. Modelnya adalah negara Madinah 14 abad silam di zaman Nabi SAW.

Sekedar bernostalgia kita temukan dalam lembar sejarah, bahwa faktanya, Islam pernah jaya selama 7 abad, dimana bangsa lain berdatangan ke Baghdad, Irak, Cardova di Spanyol untuk menuntut ilmu hukum dan sains. Para ahli dan profesornya adalah orang Islam, terkenallah nama Ibnu Sina atau Evicenna, Ibnu Rusydi atau Eviross, ada nama ilmu Aljabar kemudian dikenal ilmu kedokteran, dan demikian juga dikenal tokoh-tokoh lainnya di berbagai bidang. Itu adalah tempo doloe, sering kita ungkap hanya untuk menghibur diri dan lari kenyataan. Beberapa pejabat menyebut, prilaku ini, sebagai kompensasi bagi orang Islam yang telah berpenyakit dan lemah secara psikologi. Sebab mereka rendah diri dan dalam bawah sadarnya telah merasa kalah berhadapan dengan peradaban agama lain dan bangsa lain, karena kalah dari persaingan itulah, maka dia menghibur dirinya dengan menceritakan kejayaan masa lalu, padahal yang terpenting adalah masa mendatang (sekarang).

Mengapa Islam Mundur?

Sekarang Islam mundur dalam banyak hal. Adapun beberapa negara Islam ada yang kaya, itu hanyalah, karena SDA-nya yang melimpah seperti minyak, bukan karena SDM-nya yang handal, harus diakui, bahwa Barat lebih maju daripada Islam pada saat ini, Barat mengungguli Islam dalam bidang sains dan teknologi, ekonomi, informasi, media, politik, budaya, serta militer. Praktisi Islam (ummatnya) hanya menjadi peng-ekor belaka secara komunal. Ada juga yang unggul namun hanya sepintas/sebatas peran individual an sich.

Perlu diingat, bahwa jikapun Islam berkuasa di panggung dunia, dia tidak boleh imperialis, kolonialis dan menghisap negara lain. Dia hanya memastikan,bahwa dumia dipenuhi keadilan dan keamanan serta keselarasan dengan menjaga HAM (Human Right). Tidak ada cerita untuk memaksa orang untuk masuk Islam, tapi yang ada adalah memaksa orang untuk berlaku adil dan jangan zalim.

Islam Secara Utuh

Bicara mengenai tema ini, memang asih akan membuat orang lain tidak yakin dan skeptis, karena itu perlu kita carikan fakta akan keutuhan ajaran Islam, sehingga membuat dia berhak untuk mengatur dunia dan menjadi peradapan besar tanpa menindas. Namun, kerena ketiadaan model atau contoh konkrit tentang keutuhan Islam pada zaman sekarang, akhirnya membuat dunia meragukan ke-utuhan Islam tersebut sebagai ajaran yang comprehensive dan universal.

Walaupun hari ini jutaan pakar Islam dan pakar ketatanegaraan menyebut, bahwa tidak pernah ada negara Islam, maka sebenarnya negara Madinah di masa Nabi SAW. itu adalah model negara Islam. Di dalamnya ada heteroganitas suku, agama, etnis, bahasa serta budaya, namun mereka sepakat untuk bersama menjadi sebuah entitas negara yang saling membantu di bawah UUD Islam. Akhirnya berhasil gemilang. Buktinya, Madinah aman, damai dan sejahtera. Beberapa waktu setelah ini, keberhasilan itu diekspor ke negara lain dan benua lain sampai tujuh abad. Namun peradapan Islam kandas akibat ummatnya yang hanya mengaplikasikan Islam secara parsial atau sepotong saja, memang ada faktor eksternal, namun dalam peradaban apapun/dimanapun, penyebab keruntuhan itu lebih banyak karena faktor internalnya.

Kita lihatlah ahli zikir, hanya sibuk berzikir di majelisnya, mereka buta politik dan ekonomi, bahkan menafikan kedua bidang tersebut. Para ekonom muslim, hanya sibuk di bidangnya, dia sering menihilkan sayap lainnya dalam Islam, seperti militer dan teknologi. Lalu, apa yang terjadi? Islam terjajah sampai saat ini, bahkan harga bawang, cabe, beras, dan kedelainya pun diatur oleh orang lain. Ironis sekali. Beginilah jika gajah itu sedang tertidur, jika macan itu telah ompong.

Analoginya begini, ada seekor macan, tanpa kaki, tanpa gigi, tanpa kuku, apakah ia menakutkan? tidak, dengan keadaan itu anak kecilpun berani mempermainkannya/memegangnya. Beginilah Islam dan umatnya, jika hanya mengambil Islam dari satu dimensi saja, padahal dia harus utuh dan komplit.

Jika ingin maju, maka pilihannya adalah mengamalkan Islam secara kaffah dan utuh, mencontoh Nabi Muhammad SAW. secara paripurna, jangan Cuma mengadopsi sebagian karakteristik dan akhlaknya saja. Saat beliau shalat seakan dia bukanlah makhluk bumi, karena kekhusyukannya, matanya menangis sampai membasahi jenggot dan dadanya, ketika beliau perang, maka beliau bagaikan singa lapar yang ganas menerkam, ketika beliau mengatur negara, maka beliau melebihi negarawan manapun, saat beliau mengatur ekonomi, maka beliau melampaui Adam Smith, bahkan bukankah Muhammad SAW. menjadi pedagang semenjak usia delapan tahun sampai usia 40 tahun?

Nabi Muhammad SAW. Pendidik

Seorang pendidik terkemuka dan patut diteladani, Rasulullah sejak awal diangkatnya menjadi Rasul telah banyak mengajak umatnya untuk memperhatikan dan mendalami fungsi rumah atau tempat tinggal, karena masa awal kemunculan Islam, Rasul tidak segera mendirikan masjid, namun beliau memutuskan untuk menggunakan kediaman Al Arqam sebagai pusat aktivitas dan penyampaian ajaran Islam. Langkah yang diambil oleh Rasulullah sangat bijaksana, mengingat keadaan beliau waktu itu berada dalam tekanan yang dahsyat, sehingga demi menjaga keselamatan para sahabat, beliau melarang mereka menampakkkan keislamannya, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Pada periode Islam pertama, metode pendidikan yang dilakukan Rasulullah SAW. lebih kepada spiritual mentality building (pembangunan mentalitas spiritual), karena, jika pendidikan tidak dimulai dari dalam diri, maka apa pun manifestasi pendidikan tersebut, hanyalah manipulatif. Kebesaran nama Rasulullah SAW. sebagai seorang pendidik ini juga diakui para sarjana Barat kontemporer, misalnya Robert L., Gulliok Jr, dalam bukunya “Muhammad The Educator”.

Dan pada akhirnya, masyarakat Islam yang dibangun oleh Rasulullah  SAWmenjadi sebuah masyarakat besar yang religious yang memandang agama Islam sebagai elemen pokok di dalam memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan intelektual.(*)

Penulis Dosen STAI. SUMATERA, PTI AL HIKMAH, PGMI Hikmatul Fadhillah, STAI.RA. Batangkuis

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *