Membalas Kebaikan Tuhan

Mimbar Minggu

Oleh: Ev MT Sinaga DipTh 

“Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku.” (Mazmur 116:12) BAPA/IBU, Saudara/I yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Jika kita renungkan betapa baiknya Tuhan kita itu kepada kita manusia berdosa ini dari awal penciptaanNya kepada kita sampai sekarang, wajarlah jika pemazmur dan kita juga, berkata: “Bagaimanakah akan kubalas semua akan kebaikan Tuhan itu?” (“How i can render to the Lord for all His Benefits?”) dengan air mata yang berlinang. Dan karena itu pulalah ada seorang Kristiani yang menggubah lagu: “dengan apakah kubalas Tuhan selain Puji dan Sembah Kau…dst.


Dalam ayat Firman Tuhan tersebut, ada kata yang mengatakan “membalas”. Pada hakekatnya “membalas” itu adalah reaksi karena sebelumnya ada “sebab” dalam hal ini ialah seperti yang tertulis dalam ayat 1 dan 2 Mamur 116 tersebut. Jika kita ingat pula betapa Putra Tunggal Allah itu dikorbankan untuk menebus dosa-dosa kita manusia ini patutlah jika kita setiap saat berusaha membalas kebaikan Tuhan itu. Yohanes 3:16.

Tetapi timbul pertanyaan apakah memang sepenuhnya demikian? Jawabannya mari kita kembali sejenak kepada: Kitab Perjanjian Lama. Keluaran 21:2+4 dan banyak lagi penderitaan lahir dan batin mereka selama dalam Perbudakan dan Tuhan berbelaskasihan maka Tuhan mengeluarkan/membebaskan orang Israel dari perbudakan itu secara heran dan luar biasa tetapi apakah mereka mengucap syukur atas kebaikan Tuhan itu??? Nyatanya tidak. Mereka bersungut-sungut dan beberapa tingkah yang tidak disenangi oleh Tuhan (misalnya berzinah, mereka lakukan dan akhirnya mereka pulalah yang menyiksa dan menyalibkan Putra Allah di kayu salib.

Di Kitab Perjanjian Baru: Injil Lukas 17:11-19. Diceritakan bahwa Yesus menyembuhkan 10 orang yang berpenyakit Kusta (penyakit yang sangat mengerikan pada waktu itu), tetapi yang kembali untuk mengucapkan terima kasih hanya 1 orang saja sampai-sampai Yesus bertanya: “Bukankah ke sepuluh orang tadi sudah SEMBUH? Dimana yang Sembilan lagi?” (“Where are the nine?”) Nah kini tibalah kita kepada manusia yang hidup dalam zaman akhir ini. Bagaimana pula kenyataannya? Apakah kita sudah (sering) mengucap syukur kepada Tuhan atas kebaikanNya yang tak terbilang itu, bukan hanya dengan nyanyian belaka tetapi juga dengan perbuatan? Marilah sama-sama menjawab sendiri secara jujur. Demikian akhir dari tulisan saya kali ini dan saya akhiri: Kiranya Tuhan Yesus memeteraikan FirmanNya ke hari kita. Amen. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *