Membentuk Karakter Bangsa Sejak Dini

Opini

Sadar atau tidak, kebiasaan yang dilakukan oleh para orang tua dalam memberikan pendidikan bagi anaknya sejak kecil, akan berdampak langsung bagi perkembangan daya fikir dan karakter sang anak kelak. Sebab setiap manusia pasti akan mengingat dan selalu melakukan hal-hal yang pertama kali ia kenal terutama apa-apa yang diajarkan oleh orang tuanya dirumah.

Keluarga merupakan lingkungan bagi manusia untuk pertama kali mengenal interaksi dengan manusia lain. Pendidikan informal ala keluarga senantiasa diberikan oleh orang tua kepada anaknya agar sang anak kelak memiliki bekal ketika menginjak pendidikan formal yang diajarkan di sekolah.


Banyak hal yang diberikan oleh orang tua kita tentang apa-apa yang wajar untuk kita ketahui dan lakukan semenjak kita kecil. Membaca doa, berhitung, mengenali benda-benda disekitar kita, hingga baca tulis juga kerap dikenalkan oleh orang tua kepada anaknya meskipun sang anak masih berusia belia.

Jika didikan dari kecil kepada anak diberikan dengan baik dan sesuai dengan apa yang seharusnya mereka dapatkan, niscaya hal itulah yang akan menjadi cerminan baginya kedepan dalam menjalani kehidupan ditengah-tengah masyarakat.

Sebaliknya jika didikan yang diberikan kepada orang tua kepada anaknya jauh dari noram-norma kesopanan, kesusilaan, bahkan norma agama, percayalah si anak kelak akan kurang terbiasa dalam menjalani kehidupan yang berorientasi pada kesopanan maupun nilai-nilai agama.

Apabila kita cermati lebih jauh lagi, sesungguhnya karakter yang selalu dimiliki oleh manusia merupakan cerminan bagaimana mereka dididik oleh orang tuanya jauh sebelum mereka menginjak bangku sekolahan.

Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa peran guru juga berpengaruh dalam memberikan pengetahuan kepada siswanya dalam menunjang kecerdasan dan membantuk karakter siswa, namun yang tidak boleh kita lupakan adalah pendidikan ala keluarga yang sebenarnya lebih dominan dalam membentuk karakter anak dimasa yang akan datang.

Ketika anak sewaktu kecil senantiasa dihadapkan pada keributan-keributan yang dilakukan oleh orang tuanya, maka mental pembangkang dan bengal akan terpatri dalam jiwanya karena ia kurang mengenal dunia kasih sayang akibat orang tuanya yang selalu bertengkar satu dengan lainnya. Baginya pertengkaran merupakan hal yang lumrah dan dibenarkan karena orang terdekatnya saja selalu melakukan hal itu bahkan dihadapannya.

Namun apabila orang tua selalu menunjukan sikap harmonis dan penuh kasih sayang dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, maka anak tersebut akan memiliki mental yang penuh dengan cinta kasih dalam menjalankan kehidupannya kerana ia menganggap hanya dengan kasih sayanglah kehidupan ini harus dilalui sebagaimana yang ia lihat kehidupan keluarganya dalam menjalankan kesehari-harian.

Sikap kejujuran yang ditanamkan oleh orang tua sejak si anak kecil juga akan berdampak panjang dalam hidupnya karena baginya melakukan kebohongan merupakan hal yang tabu karena tidak pernah diajarkan dan sangat takut pada sanksi yang akan didapat karena memang tidak pernah melakukan sebelumnya.

Menanamkan sikap jujur inilah yang sangat berat dilakukan oleh orang tua kepada anaknya karena orang tua sendiri terkadang masih suka silap sehingga harus melakukan kebohongan kepada anak yang akhirnya akan dilakukan juga oleh si anak karena mereka menganggap ternyata kebohongan juga sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh orang tuanya dan tidak ada sanksi yang besar yang akan didapat oleh orang yang melakukan kebohongan.

Disini memang kelihaian dari orang tua dalam mendidik anaknya benar-benar diuji. Apalagi jika orang tua tersebut tidak terbiasa dalam melakukan hal-hal positif dalam hidupnya, maka akan sangat berat untuk mananamkan karakter positif kepada anaknya.

Cerminan Masa Kecil
Dalam menjalani kehidupan, Kita pasti dihadapkan dengan lingkungan yang dihuni oleh manusia dengan beragam karakter. Karakter-karakter itu terbentuk sejak ia masih kecil dan merupakan cerminan dari didikan dalam lingkungan keluarga. Apabila seorang anak selalu diajak beribadah secara rutin oleh orang tuanya, sangat kecil kemungkinan anak tersebut akan menjadi manusia yang jauh dari nilai-nilai agama.

Namun apabila si anak tidak pernah diajak orang tua untuk mengingat Tuhannya dengan cara beribadah secara rutin, atau bahkan tidak pernah melihat orang tuanya beribadah, kelak anak tersebut akan menganggap bahwa beribadah kepada Tuhan bukanlah sesuatu kewajiban yang harus dilakukan secara mutlak meskipun telah dianjurkan sewaktu ia duduk di sekolah karena ia menganggap meninggalkan ibadah adalah hal yang wajar sebagaimana yang dilakukan orang tuanya dirumah.

Bahkan hal yang terkacil mengenai nilai-nilai kesopanan juga harus ditanamkan oleh keluarga dalam membentuk karakter anak. Memberikan salam kepada orang lain atau jika hendak masuk rumah hari ini sudah tidak lagi populer dilingkungan kita karena penanaman nilai-nilai kesopanan memang perlahan-lahan semakin minim diberikan oleh para orang tua masa kini.

Budaya miminta maaf juga semakin lama semakin hilang dilingkungan kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari karena sifat egois dan mau menang sendiri yang lebih dominan dimiliki oleh kebanyakan anak masa kini akibat kurangnya perhatian orang tua dalam mengenalkan budaya minta maaf apabila melakukan kesalahan. Ini merupakan contoh-contoh karakter yang dimiliki oleh manusia yang merupakan gambaran dari didikan informalnya dalam lingkungan keluarga.

Sangat urgen pengaruh dari pendidikan dalam lingkungan keluarga dalam membentuk karakter dan sifat anak dalam menjalankan kehidupannya. Terkadang kita sering sepele dengan apa yang kita lakukan terhadap anak yang masih belia dan bagaimana cara kita mendidik mereka. Kita tidak sadar bahwa didikan lingkungan keluarga sejak kecil itulah yang akan mendominasi pembentukan sikap dan karakter setiap manusia.

Kita masih ingat jika dahulu budaya mengaji masih sangat kental diterapkan kepada anak-anak. Maka wajar jika nilai-nilai agama sangat kuat tertanam hingga ketetaran pemerintahan karena sejak kecil mereka yang menjadi penerus peradaban memang sudah akrab dengan nilai agama.

Namun jika sekarang sangat banyak anak Indonesia yang berkarakter jauh dari nilai-nilai agama dan kesopanan, hal tersebut agaknya menjadi sesuatu yang wajar karena memang saat ini orang tua sudah mulai kurang peduli terhadap anaknya yang masih belia karena lebih disibukan dengan aktivitas diluar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dampak yang didapat adalah semakin merosotnya akhlak dan karakter anak-anak Indonesia masa kini.

Penulis: Eka Azwin Lubis
(Kabid PTKP HMI FIS dan Staf Pusham Unimed

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *