Mengenang Jejak Pahlawan Emansipasi

Opini

Arfan Adha Lubis

Tepatnya 21 April 1979 lalu lahir Srikandi Wanita di bumi Jepara. Seorang pahlawan emansipasi yang gigih membebaskan nasib kaumnya dari belenggu adat, tradisi, diskriminasi, penindasan serta eksploitasi.


Dialah Kartini, sumber inspirasi wanita-wanita Indonesia. Kartini menegaskan bahwa perempuan bukan the second human being (manusia kelas dua). Perempuan juga punya kualitas mumpuni, dengan catatan kaum hawa diberi pendidikan setinggi-tingginya.

Menurut Kartini perempuan memiliki peran strategis sebagai lokomotif pertama memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Beliau membuktikan tugas perempuan tidak sebatas di dapur, sumur dan kasur. Tetapi juga kaum perempuan mempunyai hak mengembangkan potensi diri plus meraih cita-cita tanpa melupakan kodratnya.

Hal ini selaras dengan tuntunan ajaran Islam yang tidak pernah mempertentangkan hak laki-laki dan perempuan. Terlebih Islam diturunkan untuk menegakkan syariat bagi seluruh kehidupan manusia. Sehingga laki-laki dan perempuan, sejatinya dapat meraih kemuliaan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam….” (Al-Isra’: 70).

Pengorbanan Kartini selayaknya diberi apresiasi tinggi di relung kalbu setiap anak bangsa. Walau Kartini tidak dapat melawan belenggu tradisi dimasanya, namun gaung semangat cita-cita beliau menjadi cikal bakal bangkitnya semangat emansipasi seluruh wanita-wanita Indonesia.
Realitas sekarang, jamak srikandi-srikandi pertiwi membanggakan prestasinya. Menduduki jabatan krusial di berbagai lembaga pemerintah. Memberikan sumbangsih plus kontribusi bagi bangsa. Perempuan di zaman ini semakin menunjukkan eksistensi diri bukan hanya di level domestik tetapi juga di ranah publik. Walau disadari pula belum semua wanita Indonesia mendapatkan hak-haknya.

Namun seiring itu, kita dikejutkan dengan fenomena Wanita Indonesia. Teraktual, kita masih ingat fakta empiris menggetarkan hati, aksi brutal sekumpulan preman menyerang Rumah Sakit Pusat TNI AD (RSPAD). Pembantaian berdarah yang merenggut 2 nyawa dan 4 korban terluka di RSPAD. Siapa sangka dibalik aksi sadis tersebut terdapat seorang wanita, yang mendapat julukan “Kill Bill dari kampung Ambon”. Dialah Irene Sophia Tupessy atau Renny Tupessy, yang ditangkap jajaran Polres Jakarta Pusat di tempat persembunyiannya di Indramayu, jawa Barat (Forum Keadilan, No. 45 Edisi 12-18 Maret 2012).

Sebelumnya srikandi wanita seperti Angelina Sondakh terjerat kasus dugaan korupsi pembangunan wisma atlit di Sea Games Palembang, dan Miranda S. Gultom serta Nunun Nurbaeti yang tersangkut cek pelawat, ketika pemilihan Miranda S. Gultom sebagai deputi senior Bank Indonesia. Fenomena ini sangat kontraproduktif dan kontroversi dari semangat plus cita-cita Kartini.

Sejatinya kaum wanita sekarang tidak terjerembab akibat modernisasi. Notabene menghilangkan identitas dan integritas kodrat kewanitaannya. Idealnya wanita Indonesia tidak kehilangan jati diri serta melupakan kodrat sebagai srikandi. Hal ini sangat urgensi dalam menghadapi dampak globalisasi yang merasuk seluruh sendi-sendi kehidupan.

Sementara di sisi lain belum semua kaum wanita Indonesia mendapatkan kesempatan emasnya. Masih banyak menjadi korban eksploitasi, kekerasan, diskriminasi bahkan pelecehan seksual. Fenomena terakhir dilihat pahlawan-pahlawan Visa Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri mendapat siksaan yang melampaui batas-batas kemanusiaan. Mereka disetrika, diperkosa, plus dianiaya serta tidak diberikan hak-hak sebagai manusia merdeka. Sebagian lagi menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga yang hampir terjadi dalam semua lapisan dan golongan masyarakat.

Data dan fakta tentang para korban menunjukkan dengan gamblang bahwa semua perempuan dari berbagai lapisan sosial, golongan pekerjaan, suku, bangsa, budaya, agama maupun rentang usia rentan tertimpa kekerasan (Farha Ciciek: 2005).

Perlakuan kejam plus tidak manusiawi dialami sebagian srikandi mengakibatkan berbagai macam penderitaan, rasa tidak berdaya, depresi, putus asa, bahkan berpotensi melakukan aksi bunuh diri.

Namun sebagian memilih tetap tegar, kembali menjalankan roda kehidupan. Tidak sedikit mutiara bangsa ini tulang punggung keluarga. Tetap setia, tak pernah mengeluh bergelut di denyut kehidupan yang begitu keras. Tegar mempunyai semangat baja menafkahi buah hati si belahan jiwa. Kisah heroik tersebut boleh jadi kerap terjadi di seantero negeri.

Kartini & Pendidikan

Pemikiran Kartini jauh melampaui zamannya. Kartini menyadari pendidikan bekal utama bagi wanita untuk mengerti hak dan tanggungjawabnya. Dengan berbekal ilmu pengetahuan kaum perempuan akan lebih mampu menentukan jalan hidup sendiri. Dengan pendidikan perempuan akan bangkit berjuang mematahkan belenggu peradaban.

Perjuangan tersebut akan menghasilkan buah yang disebut Kartini sebagai persamaan hak yang telah terbayang di udara (Y.B. Sudarmanto: 1996). Kartini berpendapat perempuan harus mengecap bangku pendidikan dan mendapatkan cakrawala pengetahuan seluas-luasnya.

Pemikiran srikandi mulia itu sangat mumpuni. Notabene di tengah kehidupan sekarang yang begitu kompetitif dalam segala lini kehidupan. Idealnya wanita Indonesia harus cerdas, memiliki pengetahuan dan tidak hanya cantik fisik semata.

Penutup

Habis gelap terbitlah terang merupakan kumpulan surat-surat Kartini yang dibukukan sahabat-sahabatnya. Seorang srikandi Pertiwi yang begitu besar jasanya untuk perempuan Indonesia. Walau Kartini tak sempat mengecap hasil perjuangannya, beliau merupakan mutiara bagi bangsa Indonesia. Terimakasih dan Hormat Ku kepada Mu Wahai Pahlawan Emansipasi.

Penulis adalah Alumni FH-UMSU,
Kandidat Magister Program Pascasarjana Ilmu Hukum UMSU

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *