Menggali Kembali Budaya yang Ada

Metropolis

Festival Band Indie Goes to Batak

Puluhan kelompok musik (band) indie menumpahkan ekspresinya pada Festival Band Indie Goes to Batak yang digelar Aliansi Perjuangan Mahasiswa (Alpamas) Universitas Sumatera Utara (USU) di Pendopo USU, Jumat (11/3). Seperti apa?


Indra Juli, Medan

Layaknya menemukan oase di padang gurun yang luas, puluhan band yang menjadi peserta kegiatan menampilkan aksi terbaiknya. Lewat musik yang diusung para remaja Kota Medan ini seolah ingin memperlihatkan karakter yang dipilih. Mengundang perhatian mahasiswa dan masyarakat yang kebetulan lewat.

Tidak seperti festival musik kebanyakan, Festival Band Indie Goes to Batak ini mengusung konsep yang berbeda. Seperti judul yang dipilih, panitia pun meminta para peserta untuk menampilkan lagu-lagu ciptaannya yang diselingi dengan lagu aransemen yang menyertakan unsur tradisi di dalamnya. Dalam hal ini panitia mengangkat tradisi Batak.

Tak heran, peserta yang berjumlah 30 band itu dituntut untuk lebih kreatif. Tantangan baru bagi musisi local yang ingin meramaikan belantika musik nasional. Seperti dilakukan Depretion Demon dalam mengaransemen ulang lugu berjudul Would ke lirik bahasa Batak dengan mengusung aliran grunge. Aliran yang pernah diusung band asal USA, Nirvana. Adapun dua lagu ciptaan yang dibawakan Here I Stay dan Nothing.
“Cukup bagus ya, mengingat budaya belakangan ini sudah mulai dilupakan generasi muda. Melalui kegiatan ini kita dirangsang menggali kembali budaya yang ada,” ucap vokalis Aga didampingi Dani (Bass), dan Rajab (Drum) usai penampilannya.

Ada lagi Komunitas Alam Raya yang membawakan lagu Anak Medan. Datang dari latar belakang pengamen, band yang mengusung irama raggea ini berhasil mengajak seluruh audiens bergoyang. Begitu juga Mata Kiri Band yang digawangi Junaidi (vocal), Saridin (bass), Senovian (gitar), Seli (drum), dan Daniel (gitar).

Ketua Panitia Ucok Haleluya mengatakan, bila Festival Band Indie Goes to Batak merupakan rangkaian dari Pesta Bona Taon yang digelar mulai, Kamis (10/3) dan berakhir, Sabtu (12/3) ini. “Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengajak generasi muda kembali mencari tahu akar budayanya sehingga bisa diangkat sebagai karya melalui musik. Pada kegiatan ini seluruh peserta tidak dipungut biaya,” ucap Ucok.

Selain penampilan grup band, kegiatan juga diramaikan dengan penjualan aksesoris dari bangsa Batak. Seperti kalender Batak, cecak yang merupakan filosofi Batak, dan kain khas Batak, Ulos. Ada juga game yang dipersembahkan oleh sponsor kegiatan dengan hadiah menarik.

Kegiatan sendiri mendapat apresiasi dari seluruh audiens. Rudolf Sitorus (31) mengaku respek terhadap ide panitia dalam mengemas kegiatan. “Sangat positif lah. Apalagi ide-ide seperti ini belakangan sudah mulai hilang dari kegiatan di kampus. Semua lebih condong ke arah industri. Kering,” ketus mantan vokalis Echnosick ini.

Antusias masyarakat juga terlihat di kegiatan Gondang Road to Campus yang digelar, Kamis (10/3). Kegiatan tersebut digelar di atas dua unit trailer yang menganggkut seperangkat instrument tradisional Batak seperti gondang sabangunan, suling, gong, juga ada saxophone dan keyboard. Sementara di trailer kedua ada rombongan Si Gale-Gale. Konvoi sendiri dimulai dari Fakultas Kesehatan Masyarakat USU berlanjut keliling kampus USU melalui Fakultas Hukum, Fisip, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Sastra, dan berakhir di Simpang Reformasi.

Konvoi sendiri diselingi dengan penampilan Si Gale-Gale yang mensosialisasikan mengenai kegiatan di kampus-kampus tersebut di atas. Untuk berikutnya beraksi di Simpang Reformasi hingga pukul 18.00 WIB. Puncak kegiatan akan digelar Sabtu (12/3) ini dengan Gondang Naposo yang dirangkai dengan Seni Pertunjukan Batak Toba. Di sini akan ditampilkan berbagai garapan tari dan musik tradisional Batak Toba. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *