Merah Putih Berkibar dari Monas hingga Perbatasan

Nasional

Sanggar Trikora dari Papua Barat menyatakan siap untuk ikut pawai memeriahkan peringatan proklamasi kemerdekaan RI ke-68 di Istana Negara, Jakarta Pusat hari ini (17/8).

“Untuk menyambut HUT RI ke 68, kami akan mempersembahkan tarian Afu Rafe yang merupakan tarian kemnangan,” terang Emkonjol selaku pemimpin Sanggar Trikora saat ditemui usai latihan di Silang Monas, Jakarta Pusat, Jumat (16/8).


Tarian Afu Refe sendiri menceritakan tentang pemujaan dan kemenanganan. Selain kontingen dari Papua Barat, ada pula kontingen dari daerah lain seperti Padang, Lampung, DI Yogyakarta dan DKI Jakarta juga ikut melakukan latihan bersama di Silang Monas.

Masing-masing kontingen unjuk kebolehan. Misal dari Provinsi Lampung dengan pawai bertema Kemilau Budaya. Sementara kontingen Sumatera Barat mempersembahkan tarian Alek Nagari.

“Yogyakarta mempersembahkan Golong Gilik yang menggambarkan khasanah dari Yogyakarta seperti Kraton, Tugu Yogyakarta, Gunung berapi, Laut selatan, dan potensi yang ada di daerah ini untuk menuju suatu tekat membangun negara ini,” papar koordinator kontingen DIY, Yata di lokasi.
Sedangkan arak-arakan Karnaval Topeng dan None Tugu dari DKI Jakarta akan disuguhkan sebagai pembuka HUT RI yang dikolaborasikan dengan tari Topeng Betawi.

Upacara peringatan kemerdekaan RI hari ini juga dilakukan di berbagai pos terluar Indonesia. Walaupun dalam kondisi sederhana, bendera merah putih tetap dikibarkan. “Petugas pos-pos kita tetap ada pengibaran bendera oleh satuan masing-masing,” jelas Kasubdispenum TNI AL Kolonel Julius Widjojono kemarin.

Beberapa pos yang dijaga satuan marinir TNI AL diantaranya Miangas, Marampit, Marore, dan Dana Rote di kawasan timur Indonesia. Juga ada pulau Nipah di Batam. “Kita juga patroli khusus menyambut HUT  kemerdekaan di perbatasan Malaysia,” jelasnya. Julius menjelaskan, walau jauh dari keluarga, prajurit-prajurit itu tetap semangat. “Rotasi kita lakukan enam bulan sekali ,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Lembaga Studi Pertahanan dan Strategi Indonesia Rizal Darmaputera mendesak Mabes TNI dan Kementerian Pertahanan member perhatian khusus bagi penjaga pulau terluar. “Mereka itu pahlawan Indonesia sebenarnya,” kata Rizal kemarin. Dia menambahkan, prajurit pulau terluar selama ini terkendala akses transportasi dan komunikasi.  Itu berakibat pada sering terlambatnya gaji dan tunjangan. “Itu keluhan riil prajurit,” ujar alumnus IDSS Jenewa Swiss itu.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen Sisriadi memastikan prajurit pulau terluar mendapatkan tunjangan khusus. “Itu sudah berjalan,” katanya.

Besarnya tunjangan prajurit bervariasi antara 50 sampai 150 persen dari gaji pokok, tergantung tingkat kesulitannya seperti sarana transportasi, komunikasi, akomodasi dan fasilitas dasar lainnya.

Bagi prajurit yang ditempatkan di pulau kecil terluar dan tidak ada penduduknya diberikan tunjangan 150 persen, prajurit yang ditepatkan di pulau kecil terluar dan ada penduduknya diberi 100 persen, dan 75 persen tunjangan khusus diberikan bagi prajurit yang ditugaskan diperbatasan, serta tunjangan khusus sebesar 50 persen diberikan kepada prajurit yang bertugas secara temporer dengan cara berpatroli di laut dan udara,Sampai saat ini jumlah prajurit yang bertugas di perbatasan dan pulau-pulau terluar Indonesia mencapai 9.000 prajurit. “Kebijakan pemberian tunjangan khusus ini merupakan kebijakan pertahanan yang pro kesejahteraan,” jelasnya.(wid/rdl/kim/jpnn)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *