Site icon SumutPos

Tak Punya Biaya, Hanya Mampu Berobat Urut

Foto: Parlindungan Harahap/Sumut Pos
Muhammad Syakir Ramadhan (3 tahun), menangis di gendongan ibunya Eni (32), di kedianmnnya Griya Martubung II, Medan Labuhan.

SUMUTPOS.CO – Muhammad Syakir Ramadhan (3 tahun), Griya Martubung II, Medan Labuhan, sejak usia 8 bulan menderita penyakit tulang kaki lemah sehingga nyaris lumpuh. Anak pasangan Tomi Syahputra (35) dan Eni (32) ini hanya mampu dibawa berobat ke tukang urut karena ketiadaan biaya.

Ditemui di kediamannya, Eni, ibunda Muhammad Sayakir Ramadhan mengisahkan, anaknya tersebut dilahirkan secara normal di kediaman mereka dengan dibantu seorang Bidan.

Sejalan bertambahnya usia, Muhammad Syakir Ramadhan juga mendapatkan imunisasi lengkap. Sehingga, Muhammad Syakir Ramadhan tumbuh menjadi anak yang sehat. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Saat usia 8 bulan, Muhammad Syakir Ramadhan tak mampu berdiri untuk belajar jalan.

“Waktu usianya 8 bulan, saat mau saya bedirikan, kok lemas kakinya. Begitu juga tangannya payah diangkat. Bahkan, bila telungkup, tidak bisa dia mengangkat kepalanya,” ujar Eni.

Dari situlah, kata Eni, awal mula anaknya tersebut menderita. Eni bersama suami lantas membawa anak mereka ke pengobatan alternatif dengan tukang urut. Sebab, untuk membawa ke dokter mereka tak mampu. Maklum saja, orangtua Muhammad Syakir Ramadhan hanya seorang buruh pabrik. “Sebelum diurut, tulang belakang Syakir begitu menonjol keluar. Setelah diurut, lalu bisa mengangkat kepala dan juga bergerak dengan mengesot. Sampai sekarang kami bawa ke tukang urut,” ungkap Eni.

Akibat belum pernah diperiksakan ke rumah sakit, mereka belum mengetahui pasti penyakit yang diderita anaknya. Namun, berdasar keterangan tukang urut, penyakit anaknya karena aliran darahnya tidak lancar, sehingga pertumbuhan Syakir menjadi lambat. “Kawan-kawan dan saudara memang juga sarankan ke rumah sakit. Namun saya pernah bawa anak pertama saya berobat ke rumah sakit, banyak sekali biayanya. Jadi saya khawatir,” ujar Tomi.

Disinggung soal BPJS Kesehatan, Tomi mengaku memang mendapat BPJS dari pabrik tempatnya bekerja. Namun khawatir BPJS tersebut tidak turut menanggung anaknya. Sebab, karena kartu BPJS miliknya hanya berupa kertas putih yang dilaminating. Sementara untuk isterinya, tidak ada BPJS Kesehatan.

Terpisah, Anggota komisi B DPRD Medan Bahrumsyah yang dihubungi wartawan via telepon mengatakan, sebelum dengan BPJS Kesehatan, masyarakat miskin yang dicover PBI berjumlah 355 ribu. Sementara saat ini, masyarakat miskin yang menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) Pemko Medan hanya 253 ribu orang. Bahrum meyakini masih banyak warga miskin belum tercover PBI.

Disinggung mengenai anggaran Penerima Bantuan Iuran (PBI) tahun ini, Ketua fraksi PAN DPRD Medan ini menerangkan, Rp70 milir digunakan untuk PBI 253 ribu orang dan Rp3 milair untuk pasien anregister Mr X dan juga Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang direkomendasi dinas sosial.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, drg Usma Polita Nasution mengatakan anggaran PBI tahun 2017, Rp73 miliar. “Anggaran PBI terus mengalami peningkatan sejak tahun 2014. Hal ini diharap agar dapat mengcover masyarakat yang tidak mampu, sehingga memiliki jaminan kesehatan,” pungkasnya. (ain/ila)

 

Exit mobile version