Site icon SumutPos

Sarankan Ubah Huruf G-J-Y agar Klien Tidak Boros

Foto: WS Hendro/Jawa Pos Yosandy Lip San (kanan) saat menjelaskan hasil analisis grafologi tulisan tangan kliennya, Meydian, di Surabaya pekan lalu.
Foto: WS Hendro/Jawa Pos
Yosandy Lip San (kanan) saat menjelaskan hasil analisis grafologi tulisan tangan kliennya, Meydian, di Surabaya pekan lalu.

ANDINA SETYANING RAHAYU, Surabaya

“Anda termasuk tipe orang yang susah mendapat motivasi dari dalam diri sendiri. Jadi, perlu motivasi dari orang lain,” kata Yosandy Lip San saat membaca tulisan tangan Meydian, salah seorang kliennya, di sebuah rumah makan di Surabaya Jumat (3/4).

Bukan hanya itu. Lip San juga membeberkan analisisnya tentang kondisi keuangan, asmara, dan kepribadian Meydian. Sang klien pun hanya senyum-senyum saat mendengar “jati dirinya” dipaparkan semua.

Keahlian Lip San membaca karakter tulisan tangan seseorang tidak datang begitu saja atau bawaan lahir. Dia mempelajarinya cukup lama meski secara otodidak. Ditambah ilmu psikologi yang dia pelajari sebelumnya. Pekerjaan yang pernah dia tekuni di sejumlah perusahaan besar sebagai general affair manager dan human resources manager selama 20 tahun ikut memperkaya ilmu grafologi pria 41 tahun itu. Terutama terkait dengan karakter para pegawai di kantor tempat Lip San bekerja.

“Saya memang tertarik mempelajari sifat dan karakter manusia. Dari situ saya sedikit banyak jadi tahu karakter calon pegawai saat proses rekrutmen,” ujarnya.

Menurut Lip San, karakter seseorang tidak hanya dapat dilihat dari wajah, mata, dan bahasa tubuh. Tetapi, tulisan tangan juga bisa. Karena itulah, Lip San lalu mempelajari grafologi pada 1993 secara otodidak dan dari buku-buku referensi. Dia menggunakan tulisan diri sendiri, keluarga, dan teman-teman sebagai objek penelitian.

Setelah ilmunya makin banyak, pria asal Bangka Belitung tersebut melakukan riset untuk mengetahui apakah orang-orang kaya nan sukses memiliki tulisan tangan yang sama. Dia kemudian mengumpulkan tanda tangan dan tulisan tangan para pebisnis, baik dari dalam maupun luar negeri. Hasilnya, ribuan tanda tangan dan tulisan tangan didapatnya.

Salah seorang di antaranya adalah Aidil Akbar, financial planner dan pengusaha sukses. Bahkan, setelah tulisan tangannya dianalisis, Aidil tertarik untuk berkolaborasi dengan Lip San guna melakukan riset. Keduanya lalu menerbitkan buku Handwriting Analysis tentang grafologi.

Di Indonesia, grafologi belum begitu dikenal. Selama ini grafologi sering dimanfaatkan human resource development (HRD) di sebuah perusahaan untuk mengetahui karakter karyawan atau calon karyawan dalam proses seleksi. Tetapi, dalam perkembangannya, ilmu itu juga dipakai untuk memperbaiki masalah hidup.

“Saya ingin mengenalkan grafologi tidak hanya untuk keperluan HRD. Tetapi, juga untuk kepentingan bisnis, marketing, sales, untuk meningkatkan penjualan,” tutur praktisi grafologi yang biasa disebut grapho-coach itu.

Menurut Lip San, gaya tulisan seseorang berasal dari pikiran bawah sadar. Tulisan tangan juga dapat disebut tulisan otak (brain writing). Karena itu, masalah yang sedang dihadapi seseorang bisa diatasi dengan mengubah tulisan, termasuk tanda tangannya.

“Maka, bisa dikatakan tulisan bisa mengungkapkan berbagai perasaan emosi si penulisnya,” imbuh dia.

Pengubahan tulisan hingga stabil biasanya memerlukan waktu 30 hari. Tujuannya, antara lain, membentuk sel di otak yang membutuhkan waktu 21 hari. Hal tersebut tentu saja akan memengaruhi susunan saraf di kanan dan kiri otak seseorang sehingga bisa meningkatkan pola pikirnya.

“Secara teori bisa sampai 90 hari, bahkan lebih. Tapi, sekian tahun saya menjadi grafolog hanya ketemu dua klien yang 60 hari baru terasa efeknya. Selebihnya di bawah 30 hari,” jelas laki-laki kelahiran 14 Oktober 1973 itu.

Lip San lalu mencontohkan kliennya, Meydian. Berdasar analisis tulisan tangannya, Meydian termasuk tipe konsumtif. Banyak pendapatan, tapi banyak pula pengeluarannya. Karena itu, agar bisa berhemat, Meydian disarankan untuk mengubah tiga huruf dalam tulisan tangannya. Yakni, huruf G, J, dan Y.

“Pengubahan bentuk tulisan itu agar Anda memiliki kantong uang,” tutur Lip San kepada Meydian.

Menurut Lip San, yang ada di otak dan hati akan keluar melalui tulisan tangan. Karena itu, dia tahu kondisi klien yang saat itu tulisan tangannya tengah “diterawang”. Kondisi hati yang rapuh pun bisa dia tebak dengan tepat walau sang klien sudah setengah mati menutupinya dan terkesan baik-baik saja.

Penghobi film bergenre horor tersebut mengungkapkan, banyak pengusaha yang berkonsultasi kepada dirinya untuk mengubah tulisan tangan agar bisnis mereka semakin maju dan berkembang. Ada juga yang mengubah tanda tangannya dengan harapan keuangannya membaik.

Di antara sekian banyak klien yang ditanganinya sejak sepuluh tahun lalu, rata-rata tidak segera melakukan perubahan sesuai sarannya.

“Percuma saja, harusnya setelah tahu dan saya sadarkan apa-apa kelemahan dan kekurangannya, ya segera memperbaiki diri dong,” tegasnya.

Itu sama halnya dengan seseorang yang berniat hendak rutin berolahraga, namun tak pernah dilakukan. “Padahal, terapi itu tak hanya mengubah tulisan, tapi bisa mengubah masa depan yang bersangkutan,” imbuh penulis buku You Are The Real Success, Rahasia Kaya Raya, Sehat Itu Kaya,”dan Kaya dengan GraphoSelling tersebut.”

Bagaimana akurasi terapi grafologi” Menurut penelitian para psikolog dan psikiater Harvard University, 85 persen analisis grafologi akurat. Tapi, Lip San mengaku tak peduli benar atau salah analisisnya.

“Jika benar, seseorang tersebut dapat melakukan improvement. Kalau salah, ya abaikan,” ucapnya.

Apa saja yang dilihat dari sebuah tulisan tangan” Kata Lip San, bukan bagus atau jelek. Tapi, ada margin, tekanan, spasi, ukuran, garis dasar, bentuk abjad, dan sebagainya. Secara teori, tulisan tangan dan tanda tangan harus dibaca. Setelah itu, seorang grafolog dapat memprediksi pola pikir, keuangan, dan bisnis kliennya.

Selama sepuluh tahun menjadi grapho-coach, banyak suka duka yang dirasakan Lip San. Yang pasti, dia semakin punya banyak pengalaman setelah mengetahui bermacam-macam karakter klien. Tak jarang dia bersedih saat mengetahui kasus yang menimpa kliennya. Misalnya, perselingkuhan. “Sampai ada klien saya yang menangis lama di depan saya. Saya jadi bingung,” terangnya. (*/c10/ari)

Exit mobile version