Site icon SumutPos

Cacing Pita 2,8 Meter di Perut Warga Simalungun

Foto: Istimewa
Cacing pita sepanjang 2,8 meter yang ditemukan di perut seorang warga Simalungun, ditunjukkan seorang relawan penelitian.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) menemukan cacing pita sepanjang 2,8 meter dari tubuh seorang warga Desa Nagari Dolok, Silau Kahean, Simalungun, Kamis (21/9) lalu.

Sebelumnya, seorang perempuan dari Fukuoka, Jepang, Yukiko Kunitake (38), dilaporkan melahirkan cacing pita sepanjang 7,7 meter di Rumah Sakit Pusat Kyushu. Para medis mengatakan, jika cacing tersebut bahkan telah memvaksinasi tubuh Yukiko hingga 16 tahun.

Sebelumnya, cacing pita terbesar ditemukan di tubuh pria Meksiko pada 2006. Cacing tersebut mencapai 62 meter dan memiliki berat sekitar 83 kilogram.

Penemuan ini diungkapkan dr Umar Zein dalam seminar proposal penelitian Survei Epidemiologi dan Observasi Kasus Taeniasis di Desa Nagari Dolok, Silau Kahaean, Simalungun yang digelar di lantai 7 gedung FK UISU, Jalan STM, Medan Johor, Kamis (19/10) siang.

Dijelaskan Umar Zein, awalnya seorang warga Desa Nagari Dolok, Silau Kahaean, Simalungun datang kepadanya untuk berobat karena keluhan di perut. Setelah diperiksa, didiagnosa kalau orang tersebut menderita Taeniasis atau penyakit akibat parasit berupa cacing pita yang tergolong dalam genus Taenia yang dapat menular dari hewan ke manusia, maupun sebaliknya.

Mengingat 3 tahun lalu juga ada kasus serupa dari daerah yang sama, kata Umar Zein, dirinya membentuk tim untuk melakukan penelitian. Kemudian, mereka mengambil sampel 29 orang suspect Taeniasis dan diberikan obat Paraziquantel 1 tablet ukuran 600 Mg setiap orang. Selanjutnya, setiap orang diberikan obat pencahar.

“Kemudian semua orang itu BAB. Hasilnya, ada keluar proglotid yang keluar bersama tinja setelah pemberian obat  Praziquantel. Setelah itu Strobila atau skolek yang keluar, menandakan cacingnya sudah mati. Namun, ada kita temukan satu cacing sepanjang 2,8 Meter,” ujar Umar.

Menurut Umar, berdasarkan laporan yang diterimanya, faktor resiko yang menyebabkan itu karena kebiasaan mengkonsumsi hinasumba dan naihollat yang dagingnya dimasak tidak sempurna. Dijelaskan Umar, Taeniasis dapat disebabkan dari daging babi dan sapi, bila dimasak tidak sempurna.

Babi atau sapi memakan rumput yang mengandung telur. Kemudian telur itu berkembang menjadi kista di dalam daging babi atau sapi. Selanjutnya, daging babi atau sapi itu dimasak tidak sempurna lalu dikonsumsi sehingga berkembang hingga dewasa di dalam usus orang yang mengkonsumsinya. “Taeniasis adalah penyakit yang terabaikan karena hampir belum pernah ditemukan kasusnya. Selain itu, penyakit ini selalu dianggap sepele karena memang penderitanya tidak meneyebabkan kematian. Kalaupun kita tahu diagnosisnya, mengobatinya juga tidak mudah karena obatnya sulit didapat, “ jelas mantan Dirut RSU dr Pirngadi ini.

Sebelum mengakhiri, Umar Zein menegaskan, penemuan itu penting untuk ditidaklanjuti dengan melakukan penelitian. Dikatakannya, secara teori, penelitian itu untuk menemukan daerah endemig taeniasis di Sumatera Utara, melakukan survei epidemologi dan identifikasi. Dengan begitu, diharapnya bisa membuat program-program penanggulangan infeksi taeniasis di Sumatera Utara yang mungkin terpadu dengan program kecacingan pada umumnya. Secara konsep, dikatkannya, untuk melihat faktor resiko penularan di Desa Nagari Dolok, Silau Kahaean, Simalungun, karena mungkin ada kebiasaan masyarakat yang belum diketahui.

Dekan Fakultas Kedukoteran UISU, dr Abdul Haris Pane SpOG mengaku sangat mendukung dan sudah melaporkan rencana penelitian ini. Dikatakannya, itu merupakan tugas wajib institusi sebagai pengabdian kepada masyarakat. Bahkan, diakuinya untuk penelitian itu, pihaknya sudah menandatangani MoU dengan Dinas Kesehatan Simalungun. Namun diakuinya, jika saat ini pihaknya tidak memiliki peralatan laboratorium canggih karena milik mereka yang merupakan hadiah dari Kementerian Kesehatan, sedang rusak.

“Peralatan laboratoium standard kita ada. Namun untuk yang sifatnya lebih canggih, dulu kita ada, kebetulah itu hadiah dari Kementerian Kesehatan, namun kemarin rusak. Kita akan laporkan. Makanya kemarin, sampelnya kita kirim ke Udayana Bali,” ujarnya.

Kasi P2PM Dinkes Sumut, dr Yulia Mariani MKes yang hadir dalam seminar itu mengatakan, pihaknya juga mendukung penelitian itu karena dilakukan ahlinya. Untuk itu, pihaknya  harus kordinasi dengan pusat untuk pengobatan. Dikatakannya, selama ini tidak ada dianggarkan obat taeniasis ke Sumatera Utara karena tidak pernah ditemukan dan paling sering ditemukan di daerah Sulawesi.

“Sudah ada penemuan ini, sudah bisa kita menganggarkan dengan obat. Jadi tidak ada lagi terkendala untuk pengobatan untuk cacing pita. Selain itu, kita akan mintakan nanti Dinas Peternakan juga karena ini berkaitan dengan hewan, untuk ditinjau mulai dari kebersihan sampai layak atau tidak dikonsumsi,” ujar dr Yulia.

Selain itu, Yulia juga mengimbau masyarakat Desa Nagari Dolok, Silau Kahaean, Simalungun untuk menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan. Dikatakannya, hal itu juga untuk mengantisipasi penularan, mengingat penyakit itu berasal dari hewan yang dapat bergerak dan berpindah. Bahkan, dengan kondisi itu, dikatakannya bisa saja kasus itu akan meningkat di Sumatera Utara.

“Kalau kita sebut ini kejadian luar biasa atau KLB, saya tidak berani bilang. Itu yang boleh menyatakan bupati, walikota atau gubernur. Nggak sembarang untuk menetapkan KLB,” tandasnya.

Sementara Kasi Survelen dan Imunisasi Dinkes Simalungun, Jandre Perman Sipayung mengaku, pihaknya menunggu arahan Dinkes Sumut. Namun, dengan ditemukannya kasus ini, diakuinya pihaknya akan menggalakkan penyuluhan hidup bersih dan sehat.

Dijelaskannya, di Simalungun memang ada kebiasaan masyarakat mengkonsumsi Nani Holat semacam dari kulit kayu dibuat untuk pematangan daging atau daging tidak dimasak sempurna lalu dikonsumsi masyarakat. Begitu juga dengan mengkonsumsi Hinasumba yang menggunakan kulit kayu juga yang nama kulit kayunya Sikkam yang pemasakannya kurang sempurna juga lalu dikonsumsi masyarakat. Diakuinya, secara teoritis, hal itu  memang bisa menimbulkan penyakit.

“Kita sebatas mengimbau, karena itu kultur yang sudah melekat di masayarakat. Itu katanya terutama dari Babi. Jadi akan kita imbau agar babi dikandangkan, agar tidak menularkan, “ ujarnya singkat. (ain/adz)

Exit mobile version