Site icon SumutPos

Premium Turun Rp300, Solar Naik Rp600

Foto: Dok SUMUT POS Seorang operator mengisikan BBM Solar bersubsidi ke tangki mobil pelanggan, di SPBU Jalan Putri Hijau Medan, beberapa waktu lalu. Oktober nanti, harga premium turun dan harga solar naik.
Foto: Dok SUMUT POS
Seorang operator mengisikan BBM Solar bersubsidi ke tangki mobil pelanggan, di SPBU Jalan Putri Hijau Medan, beberapa waktu lalu. Oktober nanti, harga premium turun dan harga solar naik.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Dalam waktu dekat, pemerintah melalui Kementerian ESDM akan mengumumkan harga baru bahan bakar minyak (BBM). Untuk premium, sudah diproyeksikan untuk turun sesuai dengan kondisi harga minyak dunia. Sedangkan solar, kecenderungannya tetap naik cukup tinggi.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Wiratmaja Puja menjelaskan, saat ini pihaknya melakukan kajian final sebelum pengumuman harga BBM. Ada dua hal yang menjadi acuan pemerintah dalam menetapkan harga baru yang berlaku pada 1 Oktober itu.

’’Berdasar data dan pertimbangan stabilitas,’’ ujarnya saat dihubungi Jawa Pos (grup Sumut Pos).

Jika berdasar data, Ditjen Migas sudah memiliki kisaran harga baru untuk premium dan solar. Untuk bensin dengan oktan 88 alias premium, dia menyebut bisa turun sampai Rp300 per liter. Itu artinya, di Jawa, Madura, dan Bali harga premium turun dari Rp6.550 menjadi Rp6.250 per liter.

’’Kalau solar, naik sampai Rp600 per liter,’’ jelasnya.

Saat ini, solar dijual Rp5.150 per liter. Jika tidak ada perubahan sampai akhir bulan ini, berarti harganya jadi Rp5.750 per liter. Solar naik karena MoPS (Mean of Platts) sebagai pembentuk harga juga naik.

Selain itu, subsidi solar yang dikepras dari Rp1.000 menjadi Rp500 per liter ikut mempengaruhi. Kenaikan itu bisa jadi terasa langsung tinggi karena harga BBM dipertahankan selama enam bulan sejak April. Itu dilakukan pemerintah karena ingin ada stabilitas ekonomi menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Lebih lanjut Wirat menjelaskan, harga baru berdasar data bisa saja tidak sama dengan pengumuman nanti. Sebab, pemerintah masih perlu mempertimbangkan dampak dari harga baru itu ke masyarakat. ’’Penetapan finalnya nanti, sedang dibahas mempertimbangkan stabilitas ekonomi, sosial, dan lainnya,’’ imbuhnya.

Meski pemerintah sempat menahan harga BBM selama enam bulan, Wirat memastikan pola yang digunakan untuk menghitung harga baru tetap tiga bulan. Menurutnya, itu sesuai dengan komitmen pemerintah yang ingin membiasakan ada perubahan harga tiap tiga bulan. Kecuali ada momen khusus.

Terpisah, popularitas bahan bakar minyak (BBM) jenis premium terus menurun. Data dari PT Pertamina (Persero), penjualan bensin dengan oktan 88 itu terus menurun hampir 50 persen dibanding tahun lalu. Itu membuat stok premium di dalam negeri menjadi lebih banyak.

VP Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menyebut pada semester pertama 2016, rata-rata penjualan premium masih 70 ribu KL per hari. Namun, pada Agustus turun 55 ribu KL per hari, dan di 20 hari pertama September menjadi 50 ribu KL per hari.

’’Tapi, Pertamina tetap menjaga ketersediaan Premium di tengah pelemahan permintaan,’’ katanya kemarin. Akibat turunnya permintaan, stok premium jadi membengkak. Dari yang sebelumnya 18 hari, sekarang menjadi 22 hari. Lantas, kemana perginya konsumen premium? Wianda menjawab pindah ke Pertalite atau Pertamax.

Namun, paling besar pindah ke Pertalite yang memiliki RON 90. Kata Wianda, konsumen tahu bahan bakar mana yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan saat ini. Selain itu, harga pertalite tidak terpaut jauh dengan premium karena dijual Rp6.900 per liter.

’’Pertamina akan mencoba adaptif terhadap tren konsumsi masyarakat yang lebih memilih pertamax series dan pertalite,’’ jelasnya.

Dia lantas menunjukkan fakta lain mengenai perpindahan konsumen ke bahan bakar khusus (BBK) itu. Dari 91 ribu KL penjualan bensin non subsidi, 45 persen adalah pengguna pertalite dan pertamax.

Naiknya lebih dari dua kali lipat. Sebab, pada semester I 2016, pemakai pertamax dan pertalite hanya membeli 15 ribu KL atau setara 20 persen penjualan bensin. Tapi, angka itu meningkat drastic pada 20 hari pertama September 2016 karena konsumsinya menembus 40,837 KL per hari.

’’Statistiknya, lonjakan paling tinggi adalah pertalite. September ini sudah 25 ribu KL per hari,’’ ungkapnya. Padahal, lanjut Wianda, pada semester I 2016 lalu rata-rata konsumsi pertalite masih sekitar 6.500 KL per hari. Untuk pertamax, juga meningkat tajam dari 10 ribu KL per hari menjadi sekitar 15 ribu KL per hari. Fakta itu membuat Pertamina memperbanyak pasokan pertamax series dan pertalite di SPBU. (dim/jpg)

Exit mobile version