Minta Uang Belanja, Istri Dianiaya

Hukum & Kriminal
Foto: Tuntun/PM Yusriana saat melaporkan perbuatan suaminya ke Polsek Sunggal.
Foto: Tuntun/PM
Yusriana saat melaporkan perbuatan suaminya ke Polsek Sunggal.

SUMUTPOS.CO – Dengan deraian air mata, Yusriana (29) mendatangi Polsek Sunggal, Minggu (29/6). Wanita yang tinggal di Desa Banyurit Sawit Seberang, Kab. Langkat itu mengaku, baru saja dianiaya oleh suaminya Denang (32), di depan Terminal Pinang Baris, Jalan TB. Simatupang, Kec. Medan Sunggal.

Kejadian tersebut bermula saat Yusriani baru saja pulang dari tempat saudaranya di daerah Marelan. Kebetulan Yusriani menunggu bus di Terminal Pinang Baris Medan, hendak pulang ke rumahnya.


Tak sengaja, wanita yang telah memiliki dua orang anak itu melihat suaminya di terminal. Kebetulan suaminya bekerja di terminal sebagai calo. Dia pun menemuinya untuk meminta uang belanja. Dia meminta uang lantaran sang suami sudah 2 minggu tak pulang ke rumah.

Namum, bukanlah menerima yang diharapkannya. Melainkan mendapatkan perbuatan kasar. Suaminya menganiaya Yus. Dia memukuli wajahnya hingga memar di bagian kening dan pipi.

Bukan hanya sakit yang dirasakan Yus. Melainkan rasa malu karena dilihat orang banyak terutama teman-teman suaminya. Tak terima dengan perlakuan kasar tersebut, akhirnya Yus mendatangi Polsek Sunggal untuk membuat laporan.

“Sudah dua minggu dia (suami) tidak pulang ke rumah, bang. Kebetulan aku baru pulang dari tempat saudara di Marelan mau pulang ke rumah. Pas mau nunggu bus, aku melihat dia. Kujumpailah mau minta uang belanja, tapi dia malah memukul wajahku,” ujar perempuan yang mengenakan kaos oblong warna merah jambu tersebut.

Pengakuan Yus, suami yang sudah menikahinya sejak empat tahun silam itu terakhir memberinya uang 7 Juni 2014 yang lalu Rp300 ribu.

“Udah dua minggu tak pulang sama kasi uang belanja. Terakhir tanggal 7 kemarin. Manalah cukup karena ada juga utang yang dibayar. Biasanya dua kali seminggu dia pulang ngasi uang belanja Rp150 ribu. Tapi ini tidak datang lagi. Pas kuminta malah dianiaya,” tambahnya.

Sementara saat ditanya apakah dia kerap dipukuli oleh suami, Yus membenarkannya dan mengatakan sudah sering. Persoalannya hanya masalah ekonomi, dan penganiayaan itu sudah dia terima sejak menikah dengan suaminya.

Akibat perbuatan tersebut, dia pun mengaku sudah tidak tahan lagi hidup bersama sang suami. Dia sudah ikhlas untuk bercerai. “Sudah tidak tahan lagi, bang. Lebih baik bercerai. Dari dulu dia selalu begitu. Kemarin-kemarin aku tahankan karena dia minta maaf. Dia selalu nelepon aku. Tapi mengulah lagi,” kesalnya.

Ketidak sabaran korban pun barakhir lantaran tak pernah adak kepastian hidup dari sang suami. Di awal pernikahan mereka tahun 2010 lalu, mereka sempat mengontrak rumah di daerah Sunggal. Tapi karena tidak cukup uang untuk menyewa rumah kontrakan, akhirnya Yus pun memilih pulang ke rumah orangtuanya.

Yus juga tidak tahu suaminya tinggal di mana selama bekerja di terminal. Oleh karena itu, dia pun sudah membulatkan tekad untuk mengakhiri semuanya. “Seharusnya dia bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga. Sampai anak kami dua tetap tidak ada kepastian. Kemarin ngontrak tapi tak sanggup bayar. Makanya aku pulang kampung,” pungkasnya.

Dikisahkan Yus, mereka bertemu sekitar empat tahun lalu di daerah Terminal Pinang Baris. Saat itu, suaminya bekerja di sebuah toko roti di seputaran Jalan TB Simatupang. Karena sering bertemu, mereka pun akhirnya pacaran dan beberapa bulan kemudian menikah.

“Dulu jumpa di daerah situ juga, saat itu aku kerja. Karena sering jumpa kami pun pacaran,” kenangnya. (tun)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *