Misteri 100 Tahun Kematian Zainab

Sumatera Utara
Foto: Hulman/PM paranormal Ibnu, memegang batang pohon durian untuk mencari tahu dugaan arwah yang menangis di pohon itu.
Foto: Hulman/PM
paranormal Ibnu, memegang batang pohon durian untuk mencari tahu dugaan arwah yang menangis di pohon itu.

SUMUTPOS.CO – Santernya kabar pohon durian menangis di Desa Denai Kuala Kecamatan Pantai Labu mengundang rasa penasaran Ibnu (34), seorang paranormal. Kemunculannya pun semakin mengundang kehebohan warga.

Tiba di lokasi sekira pukul 12.00 wib, pria lajang anak kesembilan dari 11 bersaudara ini langsung medekati pohon durian yang telah dipagari pelepah sawit. Paranormal asal Dusun I Desa Ramunia I Kecamatan Pantai Labu itu langsung duduk sambil memegang akar dan batang pohon durian itu.


Selama 15 menit, pria yang mengaku memiliki indera keenam sejak berusia 19 tahun itu tampak serius untuk mencari tahu sosok wanita yang mengeluarkan suara tangisan itu.

Usai menggelar ritualnya, Ibnu kepada wartawan menceritakan, yang menangis itu mengaku bernama Siti Marlina Zainab yang sudah 100 tahun berdiam di lokasi tumbuhnya pohon durian itu. Kondisi Zainab diterangkan Ibnu dengan kondisi pinggang hingga dadanya terjepit kayu dan sudah membatu.

Masih cerita Ibnu, Siti Marlina Zainab meminta agar membawa pelaku yang membunuhnya 100 tahun silam ke lokasi tempatnya dikuburkan dan melepaskan kayu yang telah membatu yang menjepit tubuhnya.

“Kalau kejadiannya 100 tahun silam, pelakunya pun sudah mati. Masa itu ’kan masih masa penjajahan. Bisa jadi dia dibunuh saat penjajahan dulu dan dikuburkan begitu saja disitu,” sebut Ibnu.

Lantas kenapa suara tangisan itu baru muncul setelah 100 tahun berlalu? Berdasarkan pengakuan Zainab kepada Ibnu, selama ini Zainab mencari orang untuk menyelamatkannya dari himpitan kayu yang sudah membatu di pinggang dan dadanya. Namun karena orang yang dicari tidak ditemukan, Siti pun menangis dengan harapan ada orang yang bisa menyelamatkannya.

Saat berkomunikasi, kata Ibnu, Siti duduk, tangan terjepit, rambut panjang tapi belum beruban.

Saat melakukan komunikasi dengan arwah Siti itu, lanjut Ibnu, ada seekor ular mirip ular cobra di samping kanannya. Bahkan saat tangannya memegang pohon durian itu, di samping kanannya ada seorang laki-laki tua, kurus, putih, berjenggot dan pakai peci hitam yang merupakan penguasa di sekitar lokasi itu. Tapi si pria tua itu tidak bicara apa-apa.

“Saat saya pertama sekali melihat Siti Marlina Zainab, wajahnya seperti anak-anak, rambut tidak begitu lebat tapi acak-acakan dan jidatnya agak lebar. Pokoknya Siti Marlina Zainab itu sering berubah wajah. Kalau menurut cerita warga, dulunya ada anak bayi lahir belum waktunya dan dikubur di lokasi itu. Bisa jadi matinya ditembak penjajah atau diperkosa,” pungkas Ibnu.

Sementara itu Kepala Desa Denai Kuala, Mahmurat, saat dikonfirmasi ini membenarkan jika warganya mendengar suara tangisan dari pohon durian tersebut. “Kita masih melakukan pertemuan dengan tokoh agama dan tokoh adat untuk mencari orang yang bisa memindahkan arwah yang berdiam di pohon durian itu,” bilangnya. (man/bd)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *