Motivasi Santri Agar Tidak Malas

Pendidikan

Ponpes Mawaridussalam

BATANGKUIS- Sebenarnya tidak ada istilah anak bodoh dan anak pintar, tapi yang ada yakni anak malas dan anak yang sungguh-sungguh. Wakil Pimpinan Ponpes Mawaridussalam Junaidi menyampaikan, dengan kemalasan maka kita akan menjadi bodoh dan dengan kesungguhan membuat kita jadi pintar.


“Dalam memotivasi anak untuk bersungguh-sungguh dalam segala hal khususnya belajar, maka kita mengadakan pelatihan kepada mereka. Pada pelatihan yang dimaksudkan untuk memberi motivasi kepada anak-anak, kita mendatangkan Akbar Zainuddin yang merupakan Motivator Man Jadda Wajada (MJW) Achievement Jakarta,” terangnya, Selasa (26/7).

Dengan hadirnya motivator yang notabene merupakan Alumni Pondok Modern Gontor Jawa Timur ini diharapkan bisa memberikan keyakinan kepada santri-santri maupun alumni Ponpes agar mampu berkiprah di mana saja dengan profesi yang beragam. “Namun, ini tergantung kesungguhan para santri, maka para santri juga diharapkan jangan berkecil hati, terus asah dan latih kemampuan. Insya Allah nantinya bisa menjadi aktor-aktor perubahan bagi kehidupan masyarakat di masa depan,” ujarnya lagi.

Sementara itu, Akbar dalam pelatihan tersebut mengatakan, ‘Man Jadda Wajada’ yang artinya siapa bersungguh-sungguh maka dia pasti berhasil. “Siapa pun yang bersungguh-sungguh pasti menuai hasil yang maksimal. Tapi, kesungguhan ini diharapkan dalam batas-batas koridor untuk tetap menanamkan sifat kebaikan dalam diri,” katanya di depan 230 santri baru dan para guru Ponpes Mawaridussalam bertempat di Musala Ponpes, Minggu (24/7).

Pada pelatihan tersebut, para santri diberi wawasan dan pemahaman tentang filosofi ‘Man Jadda Wajada.’ Setelahnya, para santri diberikan tugas sederhana, yakni menuliskan keinginan serta cita-cita mereka untuk melanjutkan studi setelah tamat dari Ponpes tersebut. “Sungguh mengharukan, tak terpikir sebelumnya mereka akan menuliskan hal-hal dahsyat dan menakjubkan untuk ukuran santri yang baru tamat dari SD. Banyak dari mereka yang menyampaikannya di depan forum tapi tak satu pun ada yang sama,” terang Akbar.

Ali Syarif misalnya, santri asal Tapsel ini bercita-cita menjadi astronot untuk menemukan planet-planet baru. Untuk itu dia ingin melanjutkan studi ke Jepang. Dan jika berhasil, hal pertama yang ingin dia lakukan adalah ingin menghajikan kedua orang tuanya.

Santri asal Medan Andre menuturkan, bercita-cita ingin jadi pengusaha yang terus menyisihkan sebagian hartanya untuk membesarkan ponpes-ponpes di Sumatera. Dia ingin membahagiakan kedua orang tua dengan mengajari mereka ilmu agama. Karena keduanya hanyalah lulusan SD.

Lain lagi Dicky Zulkarnaen Tamy, santri dari Aceh Tamiang ini ingin menjadi seorang hafizh Al Qur’an. Untuk itu dia akan berusaha mencari beasiswa melanjutkan studi ke Madinah Islamic University. Ke depan dia bercita-cita mendirikan ponpes seperti Mawaridussalam.

Anwar santri asal Riau ini bercita-cita menjadi ahli dalam hubungan internasional, dia ingin melanjutkan studi di Australia, dan mengabdi kepada kedua orang tuanya seumur hidupnya.

Mendengar ungkapan dari para santri, Akbar memberikan kiat-kiat agar mreka dapat terus konsisten dalam menggapai cita-cita tersebut. “Bisa dengan hal yang paling sederhana. Seperti menempelkan peta negara di mana kita ingin melanjutkan studi di sana, sehingga kita terus semangat mencapainya. Karena ada tujuan yang harus kita wujudkan,” terangnya.

Sebelum mengakhiri pelatihan, Akbar memompa semangat para santri dengan filsafat hijrah untuk terus berbuat kebaikan. “Caranya dengan selalu mensyukuri setiap karunia Allah SWT, berpikir positif dan terus menempa diri,” ujarnya. Untuk itu, sambungnya, setiap santri diminta menuliskan sifat-sifat yang tak baik dalam dirinya. Dan mereka diminta berjanji untuk meninggalkannya. Kertas-kertas itu diremas seperti batu, untuk kemudian dilemparkan laksana para haji melempar jumrah, seraya bertakbir. (saz)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *