Musim Keseruan

Penalty

Oleh: Syaifullah

Tidak ada yang menduga bahwa persaingan musim ini di liga top Eropa bakal terdesain sedemikian rupa. La Liga salah satu yang berbeda sebab persaingan tak lagi hanya dua poros Madrid dan Barcelona. Ada Atletico yang tak diperkirakan bisa memuncaki klasemen. Di Liga Primer Inggris, sampai pekan ke-33 Liverpool, Chelsea, Manchester City hingga Arsenal masih mungkin juara.


SERIE A nyaris seru sebab ada tiga klub awalnya yang siap berebut scudetto. Juventus, Roma dan Napoli. Namun di paruh kompetisi, Roma dan Napoli habis gas sehingga kini hanya Juve yang digdaya di puncak. Jadi tak seru lagi.

Di Bundesliga, lebih tak seru lagi sebab Borrusia Dortmund yang finalis Liga Champions musim lalu itu juga kehabisan bensin di tengah jalan. Masalah kebijakan transfer yang payah (sering jual bintang ke rival Bayern Munchen) menjadi duri di dalam daging. Ujungnya musim ini pasukan Juergen Klopp melempem dan hanya maksimal finish di posisi dua. Bayern Leverkusen yang awalnya jago juga tercecer.

Di Prancis, Ligue 1 juga awalnya menawarkan keseruan sebab AS Monaco yang klub kaya baru itu jor-joran beli pemain bintang. Diharapkan klub yang semusim sebelumnya berada di Ligue 2 itu bisa menyaingi PSG. Makin ke ujung musim, ternyata Monaco tak lagi piawai menjaga konsistensi. Itu tak lepas dari cedera Radamel Falcao yang membuat lini depan loyo. Jadilah PSG diambang gelar kedua berturut musim ini.

Di Liga Champions juga terjadi keseruan. Setidaknya sampai perempat final yang sedang berjalan saat ini. Yang paling mencuri perhatian adalah ketika Bayern Munchen dihadapkan dengan Manchester United yang musim ini kacau balau. Semua yakin Munchen bakal menghujam United tanpa ampun.

Di leg pertama di Old Trafford, United tidak terluka parah sebab laga berakhir imbang 1-1. Namun di leg kedua lusa (10/4), bisa jadi United akan beradarah-darah. Atau malah David Moyes bisa menyaingi strategi Pep Guardiola dan pulang dari Allianz Arena dengan senyum bangga. Entahlah.

La Liga yang paling cetar membahana. Atletico Madrid, Barcelona dan Real Madrid saling intai posisi puncak. Salah satu diantaranya kalah maka kian terpeleset. Real mengalami kepedihan itu sebab kalah di el clasico dan kalah dari Sevilla sehingga wajarlah mereka di posisi tiga. Sedangkan Atleti sukses konsisten dan bercokol di puncak dengan margin satu angka dari Barca.

Yang menariknya lagi, Atleti juga masih melaju di Liga Champions dan bersua Barca di perempat final. Leg perdana, Atleti pulang dari Camp Nou dengan hasil imbang 1-1. potensi menang di kandang sendiri tentu terbuka dan kans melenggang ke semifinal juga masih ada. Menarik sekali kiprah Diego Simeone bersama ketajaman Diego Costa musim ini.

Di liga dalam negeri, ISL sejatinya menarik dibahas. Namun bersebab tak ada klub asal Medan bahkan Sumut di sana, lebih baik baik kita urung membahasnya. Mari turun ke Divisi Utama dan kita akan mendapati tiga klub asal Kota Medan siap bertarung. PSMS, Pro Duta, PS Kwarta.  Bahkan jika ditambah Bintang Jaya Asahan, maka empat klub siap mewakili nama Sumut. 15 April mendatang, Divisi Utama akan kick off. Siapa yang Anda jagokan melaju hingga babak 16 besar. Atau bahkan melaju ke ISL musim depan?

Tak lagi keseruan di liga papan atas Eropa yang kita saksikan lewat layar kaca. Divisi Utama musim ini juga bakal seru sebab ada di depan mata sendiri. Silakan datangi Stadion Teladan, di sana akan ada rivalitas menawan dari empat klub satu daerah. Sembari menanti Piala Dunia Juni mendatang, tentu nonton liga dalam negeri di bulan ini akan memacu adrenalinmu untuk menjagokan negara jago bola di Brasil. Sayangnya tidak ada Indonesia di sana. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *