30.5 C
Medan
Thursday, July 18, 2024

Keluarga Anggoro Khawatir KPK Dendam

JAKARTA- Tertangkapnya Anggoro Widjojo di Shenzhen, Tiongkok pada Rabu (29/1), membuat keluarganya was-was. Bukan hanya soal kebiasaan KPK yang jarang gagal di pengadilan, tapi khawatir kalau komisi antirasuah itu menaruh dendam dan memperlakukan Anggoro tidak adil.

Kekhawatiran itu disampaikan keluarga Anggoro melalui kuasa hukumnya, Thompson Situmeang kemarin. Saat dihubungi, dia menyebut keluarga masih ingat betul soal tragedi Cicak vs Buaya (sebutan untuk perseteruan antara KPK dan Polri) yang disebut berpangkal dari ulah kakak beradik Anggoro dan Anggodo ini.

“Khawatir masih ada konflik kepentingan, kita berharap diperlakukan adil sesuai aturan. Jangan karena ada peristiwa dulu,” katanya. Dia lantas kembali mengingatkan kalau kasus yang menimpa kliennya berkaitan dengan mantan pimpinan KPK Antasari Azhar, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah.

Apalagi, sampai saat ini keluarga masih yakin betul kalau Anggoro tidak bersalah dan berhadap dibebaskan. Namun, melihat sepak terjang KPK yang hampir tidak pernah kalah di pengadilan, membuat keluarga pesimistis. Mereka hanya berharap kalau kasus itu sampai pengadilan, semua pihak bersikap profesional.

Bukan tanpa alasan dia menyebut adanya kekhawatiran itu, sebab aroma bahwa KPK berusaha kembali membangun opini publik sudah muncul. Dimulai dengan pernyataan pimpinan KPK saat press conference paska penangkapan yang menyebut Anggoro melarikan diri sehingga menjadi buron.

Versinya, pernyataan itu tidak benar karena kliennya memang tak pernah melarikan diri. Dia menyebut Anggoro sudah berada di luar negeri, tepatnya Singapura sejak Juli 2008. Ada jeda setahun dengan penetapan tersangka oleh KPK yang sprindiknya turun pada Juni 2009.

“Pak Anggoro ke luar negeri bukan sejak ditetapkan menjadi tersangka seperti apa yang disampaikan KPK,” tuturnya. Kliennya bimbang mau pulang ke Indonesia setelah kantornya, PT Masaro digeledah. Padahal, saat itu KPK sedang mengusut dugaan korupsi alih fungsi hutan lindung menjadi Pelabuhan Tanjung Api-api, Sumatera.

Anggoro makin kaget karena penggeledahan yang tidak ada kaitannya dengan proyek Tanjung Api-api berujung pada penetapan dirinya menjadi tersangka. Menurutnya, wajar bila saat itu Anggoro tidak mencoba mengklarifikasi karena ketakutan. “Siapa yang tidak takut dengan KPK. Digeledah saja sudah syok,” katanya.

Anggoro akhirnya memantapkan diri untuk tidak pulang dan mengurus bisnisnya di luar negeri. Dia mengaku sudah menangkap kejanggalan dalam kasusnya karena mencuat setelah ada testimoni Antasari Azhar. Janggal karena setelah penggeledahan PT Masaro, ada jeda setahun sebelum dirinya ditetapkan jadi tersangka.

“Kenapa dari Juli 2008 hingga Mei 2009 tidak ada tindak lanjut dari penggeledahan PT Masaro. Lalu, ada testimoni Antasari yang membuat Pak Anggoro menjadi tersangka. Kalau nggak ada testimoni itu, nggak ada seperti ini,” urai Thompson.

Meningatkan kembali, testimoni itu mengatakan kalau Anggoro menyatakan telah memberikan sekitar Rp 6 miliar kepada seseorang yang mengaku sebagai anggota KPK. Tujuannya, untuk membereskan kasusnya. Versi Thompson, Aggoro di Singapura untuk menunggu perkembangan, tetapi malah masuk daftar pencarian orang.(dim/jpnn/ije)

Kronologi Penangkapan Anggoro Widjojo

17 Juli 2009

Anggoro resmi ditetapkan sebagai DPO setelah dua kali mangkir dari panggilan pemeriksaan KPK.

26 Juli 2009

Anggoro diketahui melakukan perjalanan ke Singapura. Setelah itu dia diketahui berpindah-pindah tempat di China

27 Januari 2014

Anggoro melakukan perjalanan dari Shenzhen, China ke Hongkong. Dia disebut datang ke Hongkong untuk berjalan-jalan.

29 Januari 2014

Anggoro dalam perjalanan kembali ke Shenzhen dari Hongkong. Namun, sesampainya di check point perbatasan Hongkong dan Cina, petugas imigrasi mencurigai jika Anggoro adalah buronan yang selama ini dicari. Anggoro akhirnya ditangkap oleh PBS.

29 Januari 2014

Anggoro dibawa dari Shenzhen ke Guangzhou, China. Di Ghuangzhou, buronan yang dikenal ‘licin’ ini diserahkan ke pihak imigrasi Indonesia.

30 Januari 2014

Pihak KPK tiba di Guangzhou untuk membawa pulang Anggoro ke Indonesia.

30 Januari 2014

Anggoro tiba di Indonesia. Dia langsung digelandag ke KPK dan langsung menjalani pemeriksaan. Usai pemeriksaan, Anggoro akan ditahan di Rutan Guntur.

JAKARTA- Tertangkapnya Anggoro Widjojo di Shenzhen, Tiongkok pada Rabu (29/1), membuat keluarganya was-was. Bukan hanya soal kebiasaan KPK yang jarang gagal di pengadilan, tapi khawatir kalau komisi antirasuah itu menaruh dendam dan memperlakukan Anggoro tidak adil.

Kekhawatiran itu disampaikan keluarga Anggoro melalui kuasa hukumnya, Thompson Situmeang kemarin. Saat dihubungi, dia menyebut keluarga masih ingat betul soal tragedi Cicak vs Buaya (sebutan untuk perseteruan antara KPK dan Polri) yang disebut berpangkal dari ulah kakak beradik Anggoro dan Anggodo ini.

“Khawatir masih ada konflik kepentingan, kita berharap diperlakukan adil sesuai aturan. Jangan karena ada peristiwa dulu,” katanya. Dia lantas kembali mengingatkan kalau kasus yang menimpa kliennya berkaitan dengan mantan pimpinan KPK Antasari Azhar, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah.

Apalagi, sampai saat ini keluarga masih yakin betul kalau Anggoro tidak bersalah dan berhadap dibebaskan. Namun, melihat sepak terjang KPK yang hampir tidak pernah kalah di pengadilan, membuat keluarga pesimistis. Mereka hanya berharap kalau kasus itu sampai pengadilan, semua pihak bersikap profesional.

Bukan tanpa alasan dia menyebut adanya kekhawatiran itu, sebab aroma bahwa KPK berusaha kembali membangun opini publik sudah muncul. Dimulai dengan pernyataan pimpinan KPK saat press conference paska penangkapan yang menyebut Anggoro melarikan diri sehingga menjadi buron.

Versinya, pernyataan itu tidak benar karena kliennya memang tak pernah melarikan diri. Dia menyebut Anggoro sudah berada di luar negeri, tepatnya Singapura sejak Juli 2008. Ada jeda setahun dengan penetapan tersangka oleh KPK yang sprindiknya turun pada Juni 2009.

“Pak Anggoro ke luar negeri bukan sejak ditetapkan menjadi tersangka seperti apa yang disampaikan KPK,” tuturnya. Kliennya bimbang mau pulang ke Indonesia setelah kantornya, PT Masaro digeledah. Padahal, saat itu KPK sedang mengusut dugaan korupsi alih fungsi hutan lindung menjadi Pelabuhan Tanjung Api-api, Sumatera.

Anggoro makin kaget karena penggeledahan yang tidak ada kaitannya dengan proyek Tanjung Api-api berujung pada penetapan dirinya menjadi tersangka. Menurutnya, wajar bila saat itu Anggoro tidak mencoba mengklarifikasi karena ketakutan. “Siapa yang tidak takut dengan KPK. Digeledah saja sudah syok,” katanya.

Anggoro akhirnya memantapkan diri untuk tidak pulang dan mengurus bisnisnya di luar negeri. Dia mengaku sudah menangkap kejanggalan dalam kasusnya karena mencuat setelah ada testimoni Antasari Azhar. Janggal karena setelah penggeledahan PT Masaro, ada jeda setahun sebelum dirinya ditetapkan jadi tersangka.

“Kenapa dari Juli 2008 hingga Mei 2009 tidak ada tindak lanjut dari penggeledahan PT Masaro. Lalu, ada testimoni Antasari yang membuat Pak Anggoro menjadi tersangka. Kalau nggak ada testimoni itu, nggak ada seperti ini,” urai Thompson.

Meningatkan kembali, testimoni itu mengatakan kalau Anggoro menyatakan telah memberikan sekitar Rp 6 miliar kepada seseorang yang mengaku sebagai anggota KPK. Tujuannya, untuk membereskan kasusnya. Versi Thompson, Aggoro di Singapura untuk menunggu perkembangan, tetapi malah masuk daftar pencarian orang.(dim/jpnn/ije)

Kronologi Penangkapan Anggoro Widjojo

17 Juli 2009

Anggoro resmi ditetapkan sebagai DPO setelah dua kali mangkir dari panggilan pemeriksaan KPK.

26 Juli 2009

Anggoro diketahui melakukan perjalanan ke Singapura. Setelah itu dia diketahui berpindah-pindah tempat di China

27 Januari 2014

Anggoro melakukan perjalanan dari Shenzhen, China ke Hongkong. Dia disebut datang ke Hongkong untuk berjalan-jalan.

29 Januari 2014

Anggoro dalam perjalanan kembali ke Shenzhen dari Hongkong. Namun, sesampainya di check point perbatasan Hongkong dan Cina, petugas imigrasi mencurigai jika Anggoro adalah buronan yang selama ini dicari. Anggoro akhirnya ditangkap oleh PBS.

29 Januari 2014

Anggoro dibawa dari Shenzhen ke Guangzhou, China. Di Ghuangzhou, buronan yang dikenal ‘licin’ ini diserahkan ke pihak imigrasi Indonesia.

30 Januari 2014

Pihak KPK tiba di Guangzhou untuk membawa pulang Anggoro ke Indonesia.

30 Januari 2014

Anggoro tiba di Indonesia. Dia langsung digelandag ke KPK dan langsung menjalani pemeriksaan. Usai pemeriksaan, Anggoro akan ditahan di Rutan Guntur.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/