Site icon SumutPos

Pelabuhan Belawan Ditambah 4 Kali Lipat

Dahlan Iskan Beberkan Rencana BUMN di Sumatera

BARU: Deretan Container Crane yang baru didatangkan dari China di Pelabuhan BICT Belawan.//ANDRI GINTING/SUMUT POS
PEKANBARU- Berbagai megaproyek BUMN membangun Pulau Sumatera akan segera dikerjakan. Termasuk soal peningkatan kapasitas Pelabuhan Belawan yang sebelumnya hanya menampung kapal yang membawa 800 kontainer menjadi pelabuhan yang menampung kapal yang membawa 3.000 kontainer. Artinya, daya tampung menjadi 26 kali lipat dari yang ada selama ini.

Proyeksi itu disampaikan Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan  saat tampil sebagai keynote speaker dalam ‘Rapat Kerja Nasional Serikat Penerbitan Surat Kabar (SPS)’ yang diselenggarakan di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Jumat (13/7). Dahlan, yang juga Ketua Umum SPS, memaparkan rencana kerja BUMN membangun Pulau Sumatera dari berbagai sisi.

Di Sumatera Utara segera dibangun stasiun baru, jalan tol, dan kompleks industri di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangke.  ‘’Pelabuhan Belawan harus ditingkatkan dari hanya pelabuhan yang mampu menampung kapal yang membawa 800 kontainer menjadi pelabuhan yang lebih besar lagi yaitu pelabuhan yang menampung kapal yang membawa 3.000 kontainer, dan itu tentunya tidak memakai uang negara,’’ ungkapnya.

Menurut Dahlan, akan ada pendapatan negara dari dana yang diperoleh dari biaya masuk ke pelabuhan tersebut dari kapal-kapal yang membawa muatan.
Gas yang ada di Medan yang akan digunakan oleh PLN, juga diserahkan untuk menghidupi industri di Medan yang memerlukan gas sehingga bisa menghidupi pelabuhan Belawan. Selain pelabuhan Belawan, BUMN juga akan membangun pelabuhan khusus untuk kelapa sawit di Kuala Tanjung dan harus pelabuhan yang besar.

‘’Ekspor kelapa sawit di Indonesia kalah dengan Singapura, jadi kita harus buat pelabuhan besar yang mampu menampung produksi kelapa sawit dari seluruh Sumatera,’’ dia meyakinkan.

Rencana Dahlan tersebut akan terus berhubungan dari koridor laut dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa. ‘’Kami akan mewujudkan koridor laut, semua pelabuhan mulai dari Belawan, Batam, Jakarta, dan Surabaya termasuk Makassar dan Sorong akan memiliki pelabuhan yang mampu menampung kapal yang bermuatan 3.000 kontainer,’’ tukasnya.

Hal itu akan menjadi satu-kesatuan yang membuat Indonesia sebagai kekuatan terbesar di Asia. ‘’Kalau Pelindo I, II,III dan IV bergabung maka Indonesia bisa menjadi pelabuhan kontainer terbesar nomor empat di dunia,’’ ucapnya.

Dimintai tanggapannya soal paparan Meneg BUMN Dahlan Iskan di Pekanbaru, Humas PT Pelindo I Muhammad Eriansyah, mengungkapkan, Pelabuhan Belawan, terutama Belawan International Container Terminal (BICT), segera diperluas untuk menampung volume pelayanan yang semakin besar. Dermaga akan ditambah panjangnya sekitar 700 meter, dan pembangunannya dibagi dalam dua tahapan.

‘’Di atas kertas sudah ada dua tahap pembangunan. Tahap awal 350 meter, dan tahap akhir juga 350 meter,’’ katanya, kemarin.

Eriansyah meyakinkan penambahan panjang dermaga itu diproyeksikan akan meningkatkan volume muat kontainer yang menunjukkan tren kenaikan. Sementara untuk pelabuhan Kualatanjung disiapkan menjadi tempat pusat konsolidasi minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) untuk mendukung program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang menetapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangke sebagai pusat produksi CPO dan turunannya.

‘’Seluruh arah pengembangan dua pelabuhan itu memang ke sana, mendukung KEK Sei Mangke,’’ ujar Eriansyah.

Kapal Antre hingga 14 Hari

Apa yang dibeberkan Dahlan Iskan pun langsung disambut baik pengusaha di Medan. Menurut Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Laksamana Adyaksa, perluasan itu bila dilakukan lebih cepat akan lebih baik.

Dia menjelaskan, selama ini dengan luas Pelabuhan Belawan dan tingginya kegiatan di sana, membuat kapal lebih sering menunggu atau mengantre. Dan ini menimbulkan kerugian bagi pengusaha. “Pada umumnya, kapal akan menunggu minimal 10 hingga 14 hari untuk dapat berlabuh. Dan ini yang menimbulkan kerugian karena ada denda dengan keterlambatan berlabuh, hingga bongkar muat,” tambahnya.

Pada umumnya akan ada perjanjian dengan agen atau pemilik kapal terkait denda keterlambatan. “Biasanya USD 0,4 hingga USD 0,5 per ton per hari. Jadi, bayangkan bila kapal tersebut menampung 10 ton, berarti USD 5 ribu per hari yang harus dibayar bukan?” lanjutnya.

Perluasan ini juga akan memberikan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. “Kalau sudah pasti seperti ini, akan mudah bagi kita untuk memastikan kepada klien waktu pengiriman dan keterlambatan, dan lainnya,” tambahnya.

Bukan hanya Pelabuhan Belawan, pelabuhan Kuala Tanjung yang terletak di Kabupaten Batubara juga kan lebih difokuskan untuk kegiatan ekspor sawit. “Kalau ini memang terjadi, tidak tahu lagi saya mau bilang apa, bagus sekali dan akan sangat hangat kita sambut. Karena selama ini kita tidak fokus, sehingga semua bercampur aduk secara tidak merata,” paparnya.

Sementara itu,  Sekretaris Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Sumut, Sofyan Subang menyatakan bahwa ide untuk perluasan Belawan sudah didegungkan sejak beberapa bulan yang lalu. Tetapi, bila dilaksanakan karena beberapa kendala. Seperti modal dan perizinan. “Ide ini mutlak harus dilaksanakan, mengingat kegiatan Belawan yang terus meningkat, sesuai dengan pertumbuhan ekonomi Sumut pula,” jelasnya. (rul/rpg/ram)

Exit mobile version