Nekat Waktu SD, Ditolak SMP Negeri

Metropolis
Andrinof Chaniago
Andrinof Chaniago

SUMUTPOS.CO – Sosok Andrinof Chaniago menjadi perbincangan hangat di Sumbar. Ya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) ini menjadi satu-satunya menteri Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla kelahiran Padang. Bagaimana sosok Andrinof di mata keluarga dan sahabat?

Guslim, 51, adik Andrinof, spontan menyebut udanya keras kepala, pintar, idealis. ”Bila menginginkan sesuatu, pastilah dia berusaha keras mendapatkannya,” katanya ketika ditemui Padang Ekspres di rumah orangtuanya di Mataair, Kecamatan Padang Selatan, Senin (27/10).


Pernah suatu kali, sebut Guslim, sewaktu SD Andrinof nekat naik kereta api menuju Padangpanjang. Semata-mata karena penasarannya naik mak itam. Kontan saja ulah Andrinof kecil bikin orangtua dan keluarganya panik. Karena tidak punya uang sepersen pun, Andrinof pun telantar di Padangpanjang. Mujur, seorang sopir yang kasihan kepadanya, bersedia menumpangkan Andrinof ke Padang.

Yang membuat Guslim tak percaya, Andrinof pernah ditolak masuk SMP negeri. ”Sejak SD, Andrinof sudah menunjukkan kepintarannya. Setiap menerima rapor, dia selalu juara umum. Namun entah kenapa, ketika ingin melanjutkan ke SMP, dia tidak diterima di SMP negeri,” kenang Guslim.

Andrinof pun terpaksa mendaftar di MTsN Paraklaweh. Namun, hanya sampai kelas 1. Entah bagaimana ceritanya, Andrinof pun memutuskan merantau ke Jakarta. Keputusan itu membuat keluarganya kelabakan. Tak ada ongkos menuju tanah rantau. Maklum, orangtuanya hanya penjual kue.

”Tapi, ndak ada yang bisa menghalanginya. Akhirnya, mama menitipkan uda ke sepupu yang suaminya menjadi kapten di kapal Bogowonto. Kapal inilah yang mengantarkan uda ke Jakarta,” katanya. Di sini, Andrinof melanjutkan sekolah ke SMP Maarif di Grogol Jakarta.

Sejak itu, menurut Guslim, Andrinof jarang pulang ke Padang. Lagi-lagi keterbatasan biaya yang memaksanya memendam asa pulang kampung. Andrinof baru bisa pulang ketika memasuki kuliah. ”Itu pun bila organisasinya mengadakan kegiatan di Padang,” ujar Guslim.

Selama di rantau, diakui Guslim, sang kakak berusaha sendiri. Salah satunya menulis. ”Tulisannya sering dimuat majalah di Jakarta sejak SMA,” tutur Guslim sembari menyebut Andrinof penyuka lotek. Hampir setiap pulang ke Padang, lotek dan ketan yang dicari.

“Kalau ada acara di Padang dan tidak sempat singgah ke rumah, Andrinof tetap minta diantari lotek oleh keluarga,” ucapnya.

Lalu bagaimana di mata sahabat” ”Beliau pintar dan profesional,” ujar Arlis, 54, pemilik Toko Sinar Kaca yang sudah 35 tahun mengontrak di toko mertua Andrinof.

”Andrinof pandai berkawan. Setiap kali pulang ke Padang, dia hampir selalu menyempatkan diri berkumpul dengan kawan-kawannya,” ujar Miarni, 51, tetangga Andrinof.

Nilam Sari, 70, tetangga Andrinof lainnya, mengaku sangat senang Andrinof jadi menteri. ”Setiap datang, dia selalu bertegur sapa. Bahkan, sejak dulu dia tidak pernah memilih teman,” ujar Nilam.

Pesan mendalam juga dirasakan Eka Vidya Putra. Peneliti UNP ini mengaku kenal dengan Andrinof sejak 1998. Sejak itu, Eka sering diajak Andrinof magang di tempatnya. ”Dalam membina adik-adik atau juniornya, Uda Andrinof tidak pernah memberikan uang. Namun, selalu dalam bentuk pekerjaan dan kreativitas,” ujar Eka.

Awalnya, Eka sering disuruh mengumpulkan data dari koran. Selepas itu, barulah Eka diajak mengikuti penelitian. ”Dia fokus menekuni bidang kebijakan publik. Kalau dia disuruh berbicara di bidang lain, dia akan mendelegasikannya kepada yang lain,” jelas Eka.

 

Sertijab

Kemarin (27/10), Andrinof mulai menjalani aktivitasnya sebagai menteri. Dia sampai di kantornya, Jalan Taman Suropati Nomor 2 Jakarta Pusat sekitar pukul 16.55 menggunakan kendaraan dinas Toyota Crown dengan nomor polisi B 1809 RFS diiringi satu unit kendaraan pengawal menteri.

”Maaf, sedikit agak terlambat sampai di sini (gedung PPN/Bappenas), karena usai dilantik Presiden Joko Widodo langsung melakukan pertemuan dengan seluruh anggota Kabinet Kerja,” kata Andrinof kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas periode 2009-2014 Armida S Alisjahbana, didampingi seluruh eselon I dan II, di halaman utama gedung PPN/Bappenas, Jakarta, Senin (27/10).

Andrinof didampingi istrinya langsung diajak Armida ke ruang tunggu menteri untuk sejenak istirahat disuguhi minuman teh hangat. ”Pak Sekjen sudah menyiapkan sertijab berikut penyerahan memori kerja dan jabatan terkait dengan lembaga ini,” ungkap Armida.

Tepat pukul 17.14, Andrinof dan istri didampingi Armida dan seluruh jajaran eselon I dan II bergerak menuju lantai II gedung PPN untuk acara sertijab. ”Lembaga ini tidak asing lagi bagi saya, karena sudah sering ke sini. Tempat ini banyak enaknya, karena bertemu para ahli dari bermacam disiplin ilmu,” ujarnya waktu sertijab.

Menurut Andrinof, hampir semua eselon I dan II sudah dia kenal. ”Satu yang tidak enaknya, Menteri PPN/Bappenas juga disediakan kantor di lingkungan Istana Kepresidenan. Artinya, saya punya dua kantor, di Jalan Taman Suropati dan Istana Presiden. Tentunya saya sering akan meninggalkan kantor,” ungkap dosen Pascasarjana Universitas Indonesia itu.

Andrinof merasa tidak perlu lagi mengulangi visi dan misi Presiden Joko Widodo, sebab semua ahli di PPN Bappenas sudah memahaminya. ”Hanya satu hal yang harus saya sampaikan, pembangunan itu ditujukan untuk manusia dan masyarakat. Maksudnya, jangan biarkan pembangunan berhenti dan berputar-putar pada pembangunan fisik. Kita harus sampai pada akhir tujuan dari pembangunan itu, yakni memajukan kualitas hidup manusia dan masyarakat kita,” tegasnya.

Armida meminta semua aparatur PPN/ Bappenas mendukung kehadiran Andrinof. ”Berikan dukungan terbaik kepada Pak Andrinof. Jangan bedakan siapa pun yang memimpin lembaga ini. Kami juga ikut gembira karena bapak Presiden telah mereposisi peran strategis Bappenas ini, karena langsung di bawah presiden,” pungkasnya. (cr8/fas)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *