Kepada Yth Bapak Wali Kota Medan. Kami warga Pasar 1 Kelurahan Tanjung Sari Kecamatan Medan Selayang, memohon agar kiranya aspal di sepanjang jalan Pasar 1 diperbaiki. Karena sudah banyak yang rusak dan berlubang. Selain menjadi kebutuhan warga sekitar, jalan ini juga menjadi jalan alternatif bagi pengendara yang ingin mengambil jalan pintas dari Jalan Setia Budi Medan ke Jalan Ringroad/Gagak Hitam Medan. Terima kasih.
Segera Ditindaklanjuti
Terima kasih atas informasinya. Untuk keluhan mengenai jalan rusak dan berlubang akan kami teruskan ke dinas terkait dalam hal ini Dinas PU Kota Medan agar segera dilakukan tindak lanjut.
Kepada Bapak Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Yth. Saya penduduk Medan yang sempat merantau ke Surabaya, namun saat saya kembali ke Medan saya lupa mengambil surat pindah saya dari kantor camat saat saya di Surabaya. Bagaimana ya Pak agar saya bisa menjadi penduduk Medan lagi? Kalau saya harus kembali ke Surabaya untuk mengambil surat pindah, saya tidak memiliki uang untuk ongkos. Mohon petunjuknya Pak, agar saya tidak menjadi penduduk gelap di Medan. Surat-surat saya lengkap semuanya Pak. Terima kasih.
Sebaiknya Tetap Urus Surat Pindah
Terima kasih atas laporannya. Mengenai hal ini, jika masih ada keluarga yang berdomisili di Medan hal tersebut masih bisa diusahakan. Karena bisa dijaminkan oleh orangtua yang bersangkutan melalui kartu keluarga yang ada. Namun, jika tidak ada keluarga di Medan sebaiknya tetap diurus surat pindahnya.
Muslim,
Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Medan
MEDAN-Posisi Wakil Direktur Reserse Narkoba (Ditres Narkoba) Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) masih kosong, sepeninggal AKBP Apriyanto Basuki Rahmat, yang divonis 8 bulan penjara karena tersandung kasus kepemilikan 8 butir pil happy five.
Kepala Biro Sumber Daya Manusia (Karo SDM) Poldasu, Kombes Pol Cahyono Prawoto mengatakan, bukan kewenangan Poldasu yang menentukan pengganti Apriyanto.
“Mabes Polri yang menentukannya. Bukan kewenangan Poldasu,” ujar Cahyono, Jumat (20/7).
Cahyono mengatakan, tidak ada batas waktu kekosongan posisi Wakil Direktur di setiap Direktorat di Polda manapun.
“Nggak ada batas waktunya, semua tergantung Mabes Polri, kapan mereka mengirimkan pengganti Apriyanto,” sebutnya.
Disebutkan Cahyono, bahkan Kapoldasu sekalipun, tidak dapat menetapkan siapa yang akan menggantikan posisi Apriyanto.
“Jadi sekali lagi saya jelaskan, Mabes lah yang menentukannya. Kapan mereka mau mengeluarkan Surat Telegram Rahasia itu,” sebut Cahyono.
Sekadar mengingatkan, mantan Wakil Direktur (Wadir) Narkoba Poldasun AKBP Apriyanto Basuki Rahmat, divonis kurungan 8 bulan penjara, dalam sidang pembacaan putusan yang digelar di Ruang Utama Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (10/7) lalu.
Dalam sidang putusan itu, Apriyanto disebutkan telah melanggar Pasal 60 ayat 5 jo Pasal 71 UU No 5/1997, tentang Psikotropika. Selain hukuman 8 bulan penjara, Apriyanto juga dikenakan pidana denda Rp5 juta subsider 1 bulan penjara.
Sebagaimana diketahui, Apriyanto tersandung kasus psikotropika setelah petugas Direktorat Narkoba Poldasu merazia tempat hiburan malam D’Core di Jalan Putri Merak Jingga, Medan, Sabtu (11/2) malam. Ketika itu, petugas menangkap Sri Agustina dan Jhonson Jingga dengan barang bukti 8 butir pil happy five.
Didasarkan pada pengakuan Sri Agustina dan Jhonson Jingga, polisi menangkap Ade Hendrawan, kapten pelayan D’Core, keesokan harinya, Apriyanto dituduh sebagai pemasok pil itu.
Berdasarkan pengakuan itu, Apriyanto pun dicopot dari jabatannya demi netralitas penanganan kasus. Selanjutnya, dia diperiksa sebelum dinyatakan sebagai tersangka.
Apriyanto kemudian menjadi tahanan setelah Polda Sumut melimpahkannya kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan, Kamis (12/4). Sejak itu, dia terus ditahan dan hingga kini jabatan Wadir Reserse Narkoba Poldasu masih kosong.
Sementara, Kasubdit Pengolahan Informasi dan Data (PID) Poldasu AKBP MP Nainggolan memastikan, Apriyanto bakal kehilangan jabatan wadir yang sebelumnya pernah dijabatnya.
“Dia pasti tidak menjabat lagi sebagai wadir,” ujar Nainggolan.
Saat disinggung apakah Apriyanto bakal dipecat sebagai personel polisi, karena sudah divonis 8 bulan penjara, Nainggolan membantahnya.
“Yang menentukan dia (Apriyanto, Red) dipecat dari Polisi itu adalah hasil sidang kode etik yang dilakukan di Bidang Profesi dan Keamanan (Bid Propam) Poldasu,” sebut Nainggolan.
Ditegaskannya, untuk sidang kode etik Apriyanto hingga hari ini belum digelar.
“Sidang kode etik digelar setelah Apriyanto menjalani masa hukuman pidana umum. Masa hukuman 8 bulan yang yang diputuskan pengadilan itukan belum final. Pengacara Apriyanto masih naik banding,” pungkas Nainggolan. (mag-12)
Di awal bulan puasa ini, Nuri Maulida diguncang isu tak sedap. Artis langganan sinetron ini dikabarkan pernah menikah siri dengan Muhammad Susilo Wibowo alias Ustad Guntur Bumi, suami bekas penyanyi cilik Puput Melati.
Nuri MaulidaDugaan menguat manakala Nuri dan Guntur belakangan sering tampil bareng. Secara penampilan, Nuri kini pun memakai jilbab.
Sumber Rakyat Merdeka (grup Sumut Pos) mengungkap, kedekatan Guntur dan Nuri bermula saat Nuri jadi model video klip lagu Guntur Bumi. Momen itu pas karena Nuri baru putusn
sama pacarnya. Saat ditanyai wartawan, Nuri tampak kaget. Dengan kikuk ia langsung mengelak.
“Aku baru aja dengar dari teman-teman. Aku aja kaget. Nggak ada apa-apa, jadi nggak ada yang perlu diklarifikasi,” ujar Nuri, Kamis (19/7) sore.
Namun Guntur Bumi diakui Nuri bukan orang asing. Beberapa kali mereka terlibat kerjasama. Namun itu hanya sebatas pekerjaan.
“Saya bekerjasama memang jauh-jauh hari sebelum ini. Kami terlibat syuting dan bikin video klip bareng,” kata Kayla di sinetron Cinta Fitri ini.
Lebih lanjut, Nuri mengaku kenal baik dengan Puput Melati karena sama-sama tergabung dalam komunitas religius tertentu. Dia pastikan hubungannya dengan Puput tak terganggu pasca berita nikah siri tersebar luas.
“Kami memang satu tim, namanya rukiyah dzikir tausiyah. Saya terlibat di situ bareng, sama teman-teman yang lain,” terangnya
Menyinggung dirinya yang sekarang berjilbab, Nuri berkilah itu bukan karena Guntur Bumi yang disebut suami sirinya. Tapi murni keputusannya sendiri pasca pulang umrah.
“10 Juli, aku pulang dari Tanah Suci. Sejak itu aku pakai jilbab. Aku merasakan kenyamanan ya. Tidak ada alasan khusus sih,” aku bintang film Liar ini.
Kemarin, Guntur Bumi dan Puput Melati gelar jumpa pers di kediaman, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Berbeda dengan Guntur, Puput yang baru saja melahirkan, irit bicara.
“Sebenarnya nggak ada yang perlu diklarifikasi, saya juga bingung,” kata Guntur.
Dia berharap isu nikah siri ini tidak terus bergulir dan akhirnya mengganggu ketenangan rumah tangganya dengan Puput. Terlebih mereka baru saja dikaruniai seorang anak.
“Semoga ini klarifikasi yang baik, tidak ada pemicu lagi. Semoga yang mancing-mancing, saya doakan rezekinya lancar,” tandas ustad yang akan launching lagu religi ini.
Sedangkan Puput tak mau ambil pusing. Dia tak percaya Guntur suami sirinya Nuri.
“Saya tahu kabar itu dan saya tidak ada komentar,” ucap Puput.
Sebelumnya, sepupu Puput, Delia, mengungkapkan bahwa Puput sudah cukup lama dengan gosip ini. Dan dia merasa tidak tenang.
“Iya dia sudah tahu kok kabar itu,” kata Delia saat ditemui usai mengisi acara Hitam Putih, Kamis (19/7).
“Dia sudah curhat sama aku masalah itu, aku sebagai orang terdekat Puput hanya bisa menguatkan dia saja. Aku belum bisa ngomong apapun masalah itu karena Puput dan Mas Gunturnya pun belum mau ngomong kan jadi biar dari langsung dia saja,” jelas eks personel Ecoutez ini sambil mengusap air matanya.
Soal percintaan, Nuri sepertinya selalu kurang beruntung. Pada 2009, rencana pernikahannya dengan Ferry Setiawan batal digelar karena pria tersebut diduga terlibat kasus penipuan. Setelah itu, Nuri sempat pacaran sama Dimas Andrean dan Ferry Ardiansyah. Kandas, dia jatuh di pelukan lawan mainnya di Cinta Fitri, Lian Firman. Terakhir, Nuri alami hubungan putus nyambung dengan drummer band Govinda, Jeje. (bcg/jpnn)
Siapa sangka barang-barang bekas bisa mendatangkan rezeki dan meningkatkan pendapatan warga miskin yang selama ini menganggur serta kesulitan ekonomi.
Kreasi pot hidroponik anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Mandiri Kelurahan Gundaling I Kecamatan Brastagi, Karo ini buktinya. Kini kerajinan mereka dinikmati turis yang datang dari dalam negeri maupun mancanegara.
Pot hidroponik adalah salah satu jenis pot yang memiliki banyak keistimewaan yaitu tidak berat, ada kontrol air yang digunakan, tidak tembus air dan mudah diproduksi. Dalam pembuatan pot tersebut jasa pemulung dapat digunakan sehingga meningkatkan pendapatan mereka.
Semenjak Intervensi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-MP) di Kelurahan Gundaling I Kecamatan Berastagi tahun 2009 hingga saat ini, telah terbentuk satu wadah/lembaga masyarakat yang dibentuk dan didirikan oleh masyarakat di Kelurahan Gundaling I yang bernama Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) Gundaling Simalem.
Secara geografis, Kelurahan Gundaling terletak di dataran tinggi dengan suhu yang lumayan dingin dan berkabut. Mata pencaharian sebagian besar penduduk umumnya bertani dan bercocok tanam sayuran. Namun demikian, angka kemiskinan di Gundaling cukup karena banyaknya pendatang.
BKM Gundaling Simalem hingga saat ini telah memiliki beberapa Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) binaan, yang melakukan pembangunan di Kelurahan Gundaling I baik pembangunan di bidang infrastruktur, sosial maupun ekonomi.
Salah satunya adalah KSM Mandiri beranggotakan 5 orang yang mengelola kegiatan sosial produktif yaitu Pembuatan Pot Hidroponik.
Kegiatan pembuatan pot hidroponik yang dilakukan KSM Mandiri ini karena bahan dalam pembuatan pot tersebut cukup mudah didapat, murah dan masih jarang diproduksi khususnya di Kecamatan Berastagi sehingga peluang pasarnya lebih besar.
Menurut penuturan Ketua KSM Mandiri, Anton (37) bahan dasar dalam pembuatan pot hidroponik ini berasal dari steroform atau gabus, plastik, kertas bahkan bahan-bahan bekas yang diolah sedemikian rupa hingga dapat digunakan sebagai media pembuatan pot hidroponik. Media dalam pot berasal dari sekam padi yang telah digongseng terlebih dahulu.
Dalam pelaksanaan kegiatan Pembuatan Pot Hidroponik KSM Mandiri mendapatkan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang dikelola oleh LKM Gundaling Simalem sebesar 30 Juta Rupiah. Dana tersebut digunakan oleh KSM Mandiri untuk persiapan lahan produksi, pembelian alat dan bahan – bahan yang diperlukan untuk pembuatan pot hidroponik.
Pemasaran pot hidroponik dijual dengan harga kisaran Rp30.000 hingga Rp80.000 sesuai dengan jenis yang diinginkan oleh para konsumen.
Walaupun omset penjualan setiap bulannya baru mencapai sekitar 30 buah namun peluang pasar barang kerajinan ini sangat menjanjikan. (*/des)
FOTO BERSAMA: Seluruh penerima Platinum Award pada malam penganugerahan Info Bank Award berfoto bersama di Pelataran Utama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.PT Bank Sumut berhasil mewujudkan impiannya merebut Platinum Award dari Info Bank, sebuah majalah analisis strategi perbankan dan keuangan ternama di Indonesia.
Penghargaan itu diberikan atas reputasi Bank Sumut yang mampu mempertahankan kinerja sangat bagus selama 10 tahun berturut-turut. Bank Sumut meraih predikat ‘Sangat Bagus’ untuk kelompok bank dengan aset di atas Rp10 triliun hingga Rp50 triliun.
Award bergengsi itu diserahkan oleh Direktur Info Bank Benny Handhoni kepada Direktur Pemasaran dan Syariah Bank Sumut Zenilhar di Pesanggrahan Kesultanan Jogjakarta, Jumat (13/6) malam.
Wakil Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Majalah Info Bank Eko B Supriyanto menggatakan, tim riset Info Bank sebelumnya telah melakukan rating terhadap 120 bank berdasarkan laporan keuangan 2010-2011 dengan menggunakan lima kriteria utama yang terbagi ke dalam tujuh rasio keuangan dan empat rasio pertumbuhan. Indikator dimaksud antara lain rasio permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas, efisiensi, pertumbuhan modal, dana, kredit dan laba.
“Nah, sebagian besar bank yang dirating meraih pertumbuhan kredit dan laba yang signifikan, termasuk Bank Sumut yang setiap tahun selalu menunjukkan kinerja sangat baik” jelas Eko.
Keberhasilan Bank Sumut meraih Platinum Award, menurut Eko merupakan pembuktian reputasi Bank Sumut atas fondasi fundamentalnya yang kuat baik dari aspek permodalan, aset, manajemen kinerja dan pertumbuhan volume usaha.
Direktur Pemasaran dan Syariah Bank Sumut Zenilhar mengatakan keberhasilan itu tidak terlepas dari kerja keras, kerja cerdas dan kebersungguhan segenap jajaran direksi periode 2000-2004, 2004-2008 dan 2008-2012 serta seluruh staf karyawan Bank Sumut untuk bekerja secara profesional, yang juga didukung oleh seluruh pemegang saham dan masyarakat Sumatera Utara khususnya nasabah Bank Sumut.
“Kepercayaan besar yang diberikan oleh pemegang saham dan seluruh nasabah Bank Sumut merupakan hutang bagi kami yang harus dibayar dengan kebersungguhan manajemen untuk meningkatkan kinerja dan memberikan pelayanan perbankan secara profesional,” tutur Zenilhar.
Bank Sumut sampai akhir 2011 telah memiliki aset Rp18,95 triliun atau meningkat 48,48 persen dibanding aset 2010 yang mencapai Rp12,76 triliun. Pertumbuhan laba juga terus meningkat setuap tahun. Menutup Tahun Buku 2011, perolehan laba mencapai Rp426 milyar. Sedangkan rasio keuangan 2011 antara lain CAR 14,66 persen, NPL 2,56 persen, LDR 78,56 persen dan ROE 30,68 persen.
Bank Sumut juga sebelumnya meraih predikat BUMD of The Year 2010 sebagai BUMD terbaik dari lebih 2000 BUMD se-Indonesia. Penghargaan itu diterima pada Januari 2011 yang diberikan oleh Badan Kerjasama BUMD seluruh Indonesia bekerjasama dengan Majalah Business Review. (*)
Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (5/Habis)
Setelah hancur mendaki dua puncak tinggi, program Tour de France seharusnya dapat jadwal santai. Sete-lah asyik nonton start etape di Pau, kami sempat kebut-kebutan melawan matahari musim panas Prancis. Dua hari, dua puncak tinggi telah dihadapi rombongan Jawa Pos Cycling di Prancis. Rabu lalu (18/7) seharusnya jadi hari santai.
Catatan: AZRUL ANANDA
BELAJAR TERTIB RAPI: Berseragam jersey batik, rombongan putar-putar 42 kilometer keliling pedesaan di kawasan Pyrenees. Suhu udara mencapai 41 derajat Celcius.//Boy Slamet/Jawa Pos/jpnn
Program awal: menikmati suasana dan menonton start etape 16 Tour de France 2012. Lalu, makan siang dan bersepeda mengelilingi desa-desa di sekitar Kota Pau.
Setelah menjajal Col de Marie-Blanque (1.035 m) dan Col d’Aubisque (1.709 m), kami sudah meminta dengan amat sangat kepada pemandu-pemandu kami agar rute berikutnya santai dan flat (datar).
Francois Bernard, salah satu pemandu kami, bilang oke. “Total sekitar 40 km, hanya mendaki sekitar 500 meter. Kurang lebih seperempat kemarin (Col d’Aubisque, Red),” ucapnya.
Hari itu, sebelum bersepeda, kami lebih dulu dapat jadwal istimewa. Berangkat pukul 08.30 dari hotel, kami menuju pusat Kota Pau. Di sana kami bisa merasakan atmosfer start etape 16 Tour de France 2012.
Dan etape itu merupakan yang paling berat. Panjang totalnya 197 km. Melintasi empat puncak terberat. Yang pertama adalah Col d’Aubisque, yang sehari sebelumnya dijajal rombongan Jawa Pos Cycling. Lalu, puncak yang lebih tinggi lagi, Col du Tourmalet (2.115 m). Setelah itu, Col d’Aspin (1.489 m) dan Col de Pyresourde (1.569 m). Sebelum akhirnya finis di Bagneres-de-Luchon.
Start dijadwalkan berlangsung pukul 11.00. Kami sudah tiba sekitar pukul 09.00. Begitu tiba, kami langsung heboh bingung sendiri. Antara ingin foto-foto atau menyerbu stan-stan merchandise yang ada. Apalagi, karena ikut program resmi Tour de France, kami dapat fasilitas diskon 25 persen. Lumayan!
Foto-foto memang menarik. Sebab, sebelum start, suasana tidak tenang. Pukul 09.20, terlebih dulu dimulai karnaval para sponsor. Setiap partner pendukung menurunkan mobil/caravan hebohnya dengan staf yang siap melempar-lempar suvenir kepada para penonton di pinggir jalan. Seperti pawai kereta bunga, tapi bukan bunga.
Hadiahnya lumayan-lumayan. Bukan hanya yang kecil-kecil seperti gantungan kunci, tapi juga topi atau kaus-kaus tim yang bermerek.
Fotografer Jawa Pos Boy Slamet sempat dapat hoki lumayan waktu memotret suasana finis etape 15 di Pau Senin lalu (16/7). Dia dapat kaus tim Movistar merek Santini.
Karena itu balap sepeda di jalanan kota, tidak ada tiket yang harus dibayar. Siapa saja boleh datang dan dulu-duluan berdiri menonton di pinggir jalan.
Stan merchandise resmi Tour de France menawarkan banyak macam produk. Yang paling populer adalah bidon (botol minum) berlogo even 2012. Harganya relatif murah, 5 euro per buah. Replika yellow jersey, green jersey, dan polkadot merek Le Coq Sportif “sponsor resmi” juga tersedia. Harganya 75 euro per lembar.
Tapi, yang diburu tentu stan yang menyediakan merchandise resmi tim-tim World Tour. Tentu saja semua asli dan banyak variasinya yang tidak bisa ditemukan di Indonesia. Walaupun di stan itu tidak ada fasilitas diskon, tetap saja membuat orang bernafsu memborong.
Yang menarik, secara tidak resmi para penjaganya menjual sejumlah jersey yang ditandatangani pembalap. Ada yang terang-terangan, ada yang tidak.
Jersey asli (bukan replika) milik Frank Schleck dari tim RadioShack-Nissan dijual 600 euro (sekitar Rp7 juta). Mahal karena ditandatangani sembilan pembalap tim. Termasuk Schleck, Fabian Cancellara, Jens Voigt, dan beberapa personel inti lain. Jersey replika RadioShack yang diteken Cancellara sendirian dijual 250 euro.
Yang dimaksud dijual diam-diam adalah di stan resmi Tour de France. Rupanya, ada petugasnya yang menyisihkan salah satu yellow jersey, lalu memburu tanda tangan beberapa bintang. Yang sempat ditawarkan kepada kami adalah yang ditandatangani para bintang tim Europcar.
Termasuk dua bintang utamanya, Thomas Voeckler dan Pierre Roland. Harga yang diminta? Sebesar 350 euro boleh ditawar. Waktu itu kami agak kurang pengen, jadi tidak memburu. Eh, sore hari, ternyata jersey itu jadi menarik. Sebab, etape 16 itu dimenangi Voeckler!
***
Makan siang kami lumayan seru. Bukan karena lokasinya di tepi danau indah, tapi karena kami makan pas saat televisi (Eurosport) menayangkan langsung etape 16 Tour de France 2012. Bahkan, pas saat para pembalap melintasi Col d’Aubisque, yang sehari sebelumnya telah menyiksa kami habis-habisan.
Kami jadi kagum terhadap para pembalap. Bayangkan, dalam waktu hanya satu jam, mereka sudah mencapai kaki Col d’Aubisque. Padahal, itu sekitar 50 km dari Pau!
Lebih kagum lagi ketika melihat mereka dengan mudah melahap dakian sepanjang 16 km menuju ketinggian 1.709 m tersebut.
Kami ingat bagaimana dakian itu sama sekali tidak memiliki permukaan datar. Selalu naik, rata-rata di atas 7 persen. Para pembalap mampu menuntaskannya dalam waktu tak sampai satu jam. Berarti, total tak sampai dua jam dari Pau.
Kami? Butuh waktu enam jam!
Saat menonton, kami heboh mengingat setiap tikungan yang mereka lewati.
“Kita disengat lebah di sana,” kata seorang anggota.
“Lho, itu spanduk yang kita lihat kemarin,” kata yang lain.
“Di sana kita berhenti, istirahat,” sahut lainnya lagi.
Sepanjang 2 kilometer terakhir Col d’Aubisque, yang kami lintasi dengan kecepatan sangat rendah atau jalan kaki, justru dijadikan ajang adu sprint oleh para pembalap.
“Edan. Masih bisa sprint. Mereka bukan manusia normal,” komentar Sony Hendarto, peserta dari Madiun.
“Dari sini kita bisa menyimpulkan, kekuatan mereka itu sepuluh kali lebih hebat dari kita,” timpal Hengky ‘Dming’ Kantono dari Surabaya.
Kesimpulannya memang jelas: Para pembalap sepeda tingkat dunia itu memang manusia-manusia luar biasa. Benar bila salah satu majalah balap sepeda mengklaim sport itu sebagai yang paling berat di dunia!
Saya butuh 5 jam 53 menit untuk menempuh 50 km perjalanan menuju puncak Col d’Aubisque. Hari itu Thomas Voeckler hanya butuh 5 jam 35 menit untuk menyelesaikan etape sepanjang 197 km, yang terdiri atas empat gunung maut!
Bagi yang heran lihat tayangan balap sepeda di televisi, memang sulit untuk memberikan apresiasi terhadap kehebatan para atlet tersebut. Baru setelah merasakan sendiri rute dan membandingkannya dengan para bintang dunia, kita belajar untuk memberikan apresiasi yang jauh lebih tinggi kepada para atlet balap sepeda.
***
Selesai makan siang, jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Kami butuh sekitar 30 menit lagi untuk menyiapkan sepeda dan lain-lain, untuk kembali putar-putar di kawasan Pyrenees. Khusus untuk hari ‘santai’ itu, kami kompak pakai jersey bercorak batik.
Rencananya ya itu tadi. Hanya sekitar 40 km dengan ketinggian maksimal 500 m.
Kenyataannya, recovery ride itu menjadi ajang penyiksaan lanjutan tur VIP Tour de France. Karena sudah siang menuju sore, matahari sedang terik-teriknya. Temperatur menunjukkan angka di atas 40 derajat Celsius. Angin pun terasa panas karena kami tidak di pegunungan.
Malamnya, rombongan pecah dua. Ada yang cari makanan Asia setelah berhari-hari dapat makanan Eropa. Saya dan beberapa orang memilih bersepeda lagi ke tengah kota, cari makan di sana. Sekalian keliling downtown, termasuk melintasi sirkuit jalanan tempat digelarnya balap Formula 3 setiap tahun.
Dan malam itu kami harus benar-benar beristirahat. Sebab, hari selanjutnya (Kamis, 19 Juli), punya tanda-tanda kembali jadi hari penyiksaan. Kami dijadwalkan berangkat pagi-pagi ke arah finis etape 17 di puncak Peyragudes (1.605 m). Nah, kami tidak naik mobil sepenuhnya ke puncak itu. Kami juga dijadwalkan untuk mendaki lagi puncak sebelum Peyragudes, yaitu puncak Col de Peyresourde dengan ketinggian setara (1.603 m).
Aduh, aduh, ke puncak gunung. Tinggi, tinggi sekali. (*)
Kesehatan merupakan perioritas utama pembangunan Pemko Medan yang tujuannya untuk mendapatkan kesehatan yang paripurna baik fisik, mental dan sosial ekonomi. Untuk keberhasilan visi perlu didukung semua pihak warga Kota Medan. Harapan itu bisa terwujud jika warga Kota Medan ikut berperan menjaga kesehatan. Di samping program, pembenahan sarana atau fasilitas di bidang kesehatan.
POSKO KESEHATAN: Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, dr Edwin Effendi MSc (dua kiri) mendampingi Wali Kota Medan, Drs Rahudman Harahap (empat kiri) saat memantau posko kesehatan untuk masyarakat Kota Medan beberapa waktu lalu. //Rediyanto/sumut pos
“Medan Sehat Harapan Kita Bersama. Diharapkan kita dapat berpartisipasi aktif mulai dari upaya kesehatan perorangan yang mandiri sampai kepada keluarga dan lingkungan keluarga. Sehingga semuanya mempunyai kontribusi dan tanggungjawab. Karena itu kesehatan itu bukan tanggung jawab pemerintah kota semata. Inilah yang diharapkan dari seluruh mitra kerja yang peduli terhadap upaya pembangunan kesehatan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, dr Edwin Effendi MSc.
Menurut Edwin, apa yang telah dilakukan merupakan garis kebijakan Wali Kota Medan Rahudman Harahap untuk dilaksanakan sepenuhnya oleh jajaran kesehatan baik pemerintah maupun swasta.
“Ini sejalan dengan komitmen jajaran kesehatan untuk siap memberikan pelayanan kesehatan terbaik yang menjadi hak masyarakat untuk mendapatkannya,” kata pria yang yang hobi menyanyi itu.
Karena itu, pihaknya selalu meningkatkan upaya-upaya di bidang kesehatan. Bahkan Dinas Kesehatan Kota Medan telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk mensosialisasikan pola hidup sehat di masyarakat. Dinas Kesehatan Medan juga terus berupaya menggalang kemitraan dalam pembangunan yang berwawasan kesehatan, yang melibatkan kader relawan kesehatan, tokoh masyarakat, tim penggerak PKK, lembaga peduli kesehatan dan dunia usaha.
“Semua kita upayakan agar pemahaman wawasan kesehatan yang benar bisa sampai ke masyarakat. Caranya seperti sosialisasi melalui penyuluhan, perluasan informasi melalui media massa dan lainnya,” kata Edwin.
Menurutnya, perlunya pengertian pemahaman tentang kesehatan sehingga jangan sampai mendapatkan gangguan kesehatan baru merasakan pentingnya tentang kesehatan.
Dinas Kesehatan, katanya, terus melalukan sosialisasi dan inovasi untuk mengajak masyarakat mau merubah perilaku yang sebelumnya hidup jorok menjadi hidup bersih.
Sosialisasi hidup sehat, katanya, dilakukan melalui puskesmas-puskesmas yang ada di Kota Medan dan melalui kader-kader Pos Yandu maupun melalui staf dan dokter di Dinas Kesehatan Kota Medan.
“Ini harus kita mulai bersama. Karena untuk membangun Medan Sehat Harapan Kita Bersama dapat terwujud dengan kebersamaan. Kebersamaan ini dapat dimulai dari berbagai kerjasama yang kuat antara tenaga kesehatan, kepala lingkungan, kelurahan, kecamatan dan warga agar persoalan di lapangan dapat diatasi dengan cepat dan sigap,” ujarnya.
Peningkatan tersebut, lanjutnya, berdampak langsung pada masyarakat termasuk pola masyarakat Kota Medan untuk menjaga kebersihan lingkungannya yang tidak hanya dilakukan perangkat kecamatan.
“Banyak masalah kesehatan dan gangguan penyakit yang dapat terhindar dengan penataan kebersihan lingkungan. Contohnya penyakit-penyakit yang berbasis lingkungan seperti DBD,” kata Edwin.
Edwin Effendi mengatakan, penghargaan Piala Adipura yang diraih Kota Medan kategori Kota Metropolitan sangat berdampak mengurangi penyakit berbasis lingkungan.
Dia menjelaskan, dengan lingkungan yang bersih dan terbebas dari sampah tentunya mewujudkan lingkungan yang sehat dan akhirnya penyakit-penyakit berbasis lingkungan seperti demam berdarah, diare dan alergi terhadap kulit yang merupakan dampak dari sampah bisa berkurang.
“Jadi, dengan adanya penghargaan Piala Adipura yang ditegaskan wali kota sebagai motivasi dan pemicu hidup lebih bersih diharapkan mampu merubah prilaku hidup bersih di masyarakat,”ujarnya.
Dengan perilaku hidup bersih, katanya diharapkan peningkatan kesehatan makin terjamin.
Untuk itu, lanjutnya, masyarakat diminta terus menjaga kebersihan dan kesehatan.
“Jadi, ternyata hidup bersih dan sehat itu sangat penting. Kita berharap hidup bersih ini dilestarikan masyarakat Kota Medan karena memang mampu membasmi dan mengurangi penyakit-penyakit berbasis lingkungan,” katanya.
Menurut Edwin, khusus masyarakat miskin atau tidak mampu Pemko Medan memberikan jaminan pelayanan kesehatan sebagai pendamping Jamkesmas yang dikenal dengan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Medan Sehat (JPKMS).
“Diharapkan dengan JPKMS sesuai dengan tujuannya untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan semaksimalnya kepada setiap masyarakat miskin yang membutuhkannya,” kata Edwin. (fal)
Empat Upaya Dinas Kesehatan
Menurut dr Edwin Effendi MSc ada empat tahapan yang harus dilakukan Dinas Kesehatan Kota Medan untuk mewujudkan hidup sehat. Yang pertama ‘Promotif’ yakni melakukan sosialisasi, penyuluhan serta memberikan pemahaman kepada masyarakat. Contohnya memberikan penyadaran kepada maysrakat soal pentingnya hidup sehat, memberikan pengertian keuntungan menjaga kesehatan, melalui promosi atau penyebarluasan informasi.
Yang kedua, kata Edwin, ‘Preventif’ yakni melakukan tindakan pencegahan seperti membersihkan lingkungan, imunisasi, membudidayakan hidup sehat. Contohnya, jangan biarkan wadah genangan air terlantar di lingkungan masing-masing.
“Kita selalu berupaya agar kedua tahapan ini baik ‘Promotif’ dan ‘Preventif’ ini efektif sehingga masyarakat tidak sempat sakit,” kata Edwin.
Nah, selanjutnya ‘Kuratif’ yakni pelayanan kesehatan. Hal ini biasanya menjadi tanggungjawab petugas kesehatan. Selanjutnya, ‘Rehabilitatif’ yakni pemulihan kesehatan misalnya orang yang sudah menderita penyakit harus dipulihkan. Cara pemulihannnya berbagai macam cara ada memakai alat bantu ada juga melalui perbaikan gizi seperti gizi buruk.
“Jadi masyarakat hendaknya jangan sampai kepada tindakan ‘Kuratif’ dan ‘Rehabilitatif’, karena harus butuh tenaga, waktu serta biaya yang besar untuk pemulihan. Jadi, untuk mencegahnya perlu pemahaman bahwa hidup sehat itu menekan timbulnya penyakit yang berbuntut kepada tindakan ‘Kuratif’ dan ‘Rehabilitatif’,” kata Edwin.
Edwin Effendi juga menekan pentingnya kesehatan di masyarakat serta membudidayakan perilaku hidup bersih dan sehat. Tujuannya tak lain untuk mencegah datangnya penyakit. Selain itu, juga pola makan, olahraga dan hidup teratur. “Kalau sudah sehat diharapkan dapat bekerja maksimal yang produktif,” katanya. (fal)
Yth Bapak Wali Kota Medan. Saya mohon dengan sangat agar program e-KPT cepat diselesaikan. Karena banyak yang mau diurus, tanpa KTP tidak bisa. Terima kasih.
KTP Lama Bisa Dipergunakan
Terima kasih atas laporannya. E-KTP bakal didistribusikan secara bertahap, menunggu pengiriman dari Kemendagri.
Namun, sebelum e-KTP selesai, selama itu pula KTP regular atau KTP yang lama masih bisa digunakan seperti biasa dan sebagaimana mestinya. Silahkan gunakan KTP tersebut untuk mengurus berbagai kepentingan surat-menyurat warga.
MEDAN- Pimpinan Pusat Gerakan Muslim Indonesia Raya (Gemira) bersilaturahmi dengan Pengurus Daerah Gemira se-Sumatera Utara di Restoran Avia Samudra Bandara Polonia Medan, Selasa (17/7) kemarin. Rombongan Gemira Pusat dipimpin Ketua Umum Habib Mahdy Alatas dan Sekjen M Perkasa Alam.
Sedangkan pengurus Gemira se-Sumut yang hadir diantaranya Ketua Gemira Sumut H Zainal Abidin, Sekjen Tones Syahputra Gultom, Wakil Ketua Thomas Harahap, Wakil Sekretaris Ramdhy AB Tambunan dan unsur pimpinan pengurus PD Gemira Sumut.
Turut hadir pula pengurus Gemira Medan Radiansya Putra, pengurus Gemira Langkat Syahril Sembiring, Gemira Labura Said M Sofyan, Gemira Pakpak Bharat Rasyid Nasution dan lainnya.
Acara siraturahmi ini juga bagian dari agenda kerja dari Pengurus PD Gemira Sumut, dalam mengembangkan organisasi di Sumut, baik dalam kesiapan para pengurus PD Gemira Sumut, maupun dalam rangka menghidupkan organisasi sampai ke tingkat kabupaten/kota di Sumut.
Ketum DPP Gemira Habib Mahdy Alatas yang hadir bersama istri juga didampingi Sekjen DPP Gemira M Perkasa Alam dan rombongan pimpinan Gemira Pusat tampak akrab dan sangat bersahaja.
Acara Siraturahmi ini juga dibarengi pemamaparan program kerja Gemira dalam mengembangkan organisasi di masyarakat. Dalam arahannya, Habib Mahdy Alatas menyampaikan pentingnya siraturahmi, komunikasi dalam membangun organisasi dan melaksanakan perogram kerja.
“Siapa tetanggamu, perhatikan dia, rangkul dan ajaklah, kita harus peduli dan perhatian dengan jiran tetangga kita, itu sangat penting dalam bermasyrakat dan membangun organisasi,” ujar Habib.
“Gemira merupakan sayap partai resmi Partai Gerindra dan mempunyai basis masa sangat besar, dan memberikan kontribusi besar pada Partai Gerindra, namun mempunyai metode sendiri dalam mengembangkan organisasinya,” imbuh Zanial Abidin.
PD Gemira Sumut memang masih baru, dan pelantikan pengurusnya juga baru akan dilaksanakan pada Agustus nanti atau setelah Lebaran. Namun Pengurus Daerah Gemira Sumut dan pengurus daerah tingkat kabupaen/kota se-Sumut sangat antusias dengan hadirnya ormas dari Partai Gerindra ini.
“Ini momen besar dan sangat istimewa bagi kita semua, khususnya para Pengurus Gemira Sumut dan pengurus-pengurus Gemira se-kabupaten/kota di Sumut. Siraturahmi ini sekaligus menyambut Ramdan 1433 H,” ungkapnya. (*/ade)
saling mempererat hubungan dan sekaligus melaksanakan program kerja, dan mungkin tidak akan kita dapat di bulan lain,” tambah Tones Syaputra.
Dijelaskan juga, PD Gemira Sumut juga akan melaksanaknkan program kerja jangka pendek dan jangka panjang di antaranya persiapan Diklat Hambalang, KTA-nisasi di tingkat daerah dan cabang, Lembaga Amil Zakat Indonesia Raya (LAZIRA), dan lainnya.(ade)