Home Blog Page 13235

Gatot: Saya Sudah Ingatkan JR Saragih

Soal Perubahan HGU Sei Mangkei ke HPL

MEDAN- Persoalan lahan di areal Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, di Kabupaten Simalungun, akan dicabut izin peruntukannya jika persoalan lahan di kawasan tersebut tidak kunjung terselesaikan. Kebenaran itu diakui oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu, Gatot Pujo Nugroho.
“Iya, jadi begini. Pak Hatta (Rajasa) telepon.

Kemudian menyampaikan, Unilever baru menghadap dan akan menarik investasi di Sei Mangkei. Kemudian Unilever belum ada kepastian, karena dianggap belum clear-nya masalah tanah,” jelasnya usai menghadiri rapat persiapan menyambut Ramadan bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) di Rumah Dinas Gubsu, Jalan Sudirman, Medan, Kamis (19/7).

“Lalu, Pak Hatta Rajasa juga mengingatkan, kalau ini tidak selesai, maka akan dievaluasi secara keseluruhan dengan KEK-nya. Bisa dicabut,” tambah Gatot.

Karena hal itu, Gatot, meminta izin kepada Menko Perekonomian agar Pemprovsu menyelesaikan persoalan tersebut. “Terus saya sampaikan kepada Pak Menko (Hatta Rajasa). Mohon izin dulu kami. Karena kita sudah berkali-kali mengingatkan kepada Bupati Simalungun, JR Saragih. Jadi beri kesempatan kami waktu. Kami akan fasilitasi pertemuan Bupati Simalungun, PTPN III, dan Pemprovsu,” jelasnya.

Gatot juga mengaku, jika dirinya telah sepakat dengan Direktur Utama (Dirut) PTPN III, Megananda untuk segera menggelar pertemuan tersebut. Bahkan, Megananda telah menyurati Hatta Rajasa, meminta agar ada percepatan penyelesaian persoalan lahan Sei Mangkei tersebut.
“Kebetulan tadi pagi, saya ketemu di Lounge Garuda dengan Pak Dirut PTPN III (Megananda),” paparnya.

Pada kesempatan itu, Gatot sempat mengeluh, soal perubahan lahan di Sei Mangkei, dari Hak Guna Usaha (HGU) menjadi Hak Pengelolaan Lahan (HPL). “Artinya, hanya perubahan dari HGU ke HPL saja, lamanya kok ga ketolongan. Kita atas nama Pemprovsu, sudah dua kali menjamin. Bahwa lahan itu, diperuntukkan untuk itu (KEK). Jadi kenapa belum ada titik temu. Nah, jadi dalam jangka waktu dekat, kita bertemu bertiga. Saya, PTPN III, dan Bupati Simalungun,” terangnya.

Sikap PTPN juga ‘Menghambat’

Sementara itu, Menurut Ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, persoalan Sei Mangkei tidak hanya soal lahan, belum sesuainya kawasan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), dan pemda yang punya kepentingan sendiri. Menurutnya masih ada persoalan lain yang di luar urusan teknis yakni sikap PTPN yang selama ini dinilainya tidak merangkul pengusaha-pengusaha sawit di Sumut, juga akan menjadi persoalan tersendiri.

“Saya sudah tanya teman-teman pengusaha di Sumut, katanya PTPN tak mau merangkul mereka. Ini tidak baik,” ujar Sofyan Wanandi kepada Sumut Pos di Jakarta, kemarin.

Apa dampak yang dimaksud Sofyan Wanandi? Ambil contoh PT Unilever Indonesia Tbk yang melalui PT Unilever Oleochemical Indonesia, siap membangun pabrik pengolahan minyak sawit (palm oil fractionation plant) di Sei Mangkei.

Sudah pasti, PT Unilever Oleochemical Indonesia nantinya membutuhkan pasokan bahan baku, berupa kelapa sawit, yang akan diolah menjadi bahan jadi. Lantaran para pengusaha sawit raksasa yang berkiprah di Sumut merasa tidak pernah dirangkul PTPN, maka mereka akan malas untuk memasok bahan baku yang dibutuhkan perusahaan asing tersebut.

“Raja-raja sawit belum tentu mau memasok ke Unilever. Saya tahu pemain-pemain besar sawit di Sumut,” ujar Sofyan Wanandi.

Nah, mengapa pengusaha-pengusaha “raksasa” tidak mau memasok bahan baku itu? Selain karena merasa tidak pernah dirangkul PTPN, para pengusaha sawit kelas raksasa itu sendiri sudah mencoba menjajaki untuk ikut masuk ke Sei Mangkei, yang lahannya milik PTNP III.

“Tapi, PTPN menjual tanahnya dengan harga sangat mahal. Mestinya PTPN jangan jual tanah mahal-mahal, jangan cari untung besar dengan menjual lahan,” ujar Sofyan.

Dia juga tidak begitu yakin, Unilever bakal dipastikan jadi menanamkan investasinya sebesar 110 juta EURO yang setara dengan sekitar Rp1,276 triliun. Bila masih banyak persoalan, niat Unilever bisa saja dibatalkan.

“Mereka pasti juga punya hitung-hitungan bisnis. Kalau teman-teman pengusaha sawit di Sumut, katanya, daripada banyak hambatan, kepentingan pemda juga besar, mereka lebih memilih Riau,” terangnya.

Sofyan mengaku mengikuti terus rencana pembangunan KEK Sei Mangkei ini. Dari awal, Sofyan menyatakan sudah pesimis. Selain sejumlah kendala yang disebutkan di atas, masalah infrastruktur juga belum memadai. “Nyatanya, sudah enam bulan ini tak jalan-jalan,” imbuhnya.
Dia juga menilai, ada ketidaksinkronan niat pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Pusat, katanya, sampai mendorong-dorong pengusaha agar mau berinvestasi ke Sei Mangkei. “Pusat mau, tapi pemda banyak kepentingan, bagaimana?” ucapnya. (ari/sam)

Darwinsyah, Kencing Darah di rutan Tanjunggusta

MEDAN-Darwinsyah, Mantan Kepala Badan Kesejahteraan Pembangunan dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang Linmas) Sumut mengalami kencing darah saat ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Tanjunggusta. Tersangka kasus dugaan korupsi Kesbang Linmas Sumut Rp2,9 miliar itu kini dirawat di klinik Rutan Tanjung Gusta Medan.

Hal ini dikabarkan oleh Kasi Pidsus Kejari Medan, Robinson Sitorus. Menurut Robinson, Darwinsyah memang memiliki riwayat penyakit prostat. “Berdasarkan informasi yang saya peroleh, penyakit yang bersangkutan kembali kambuh. Dia mengalami kencing darah. Tapi dia dirawat di klinik Rutan Tanjung Gusta Medan,” jelasnya, kemarin.

Robinson menjelaskan jika keadaan makin runyam, Darwinsyah bisa dibantarkan. “Memang sebelum ditahan secara resmi, Darwinsyah sempat mangkir dari pemeriksaan karena sakit. Untuk itu yang bersangkutan dirawat di RS Columbia Asia Medan. Tapi bila nantinya penyakitnya semakin parah, mungkin akan dibantarkan,” sebutnya.

Begitupun, lanjut Robinson, berkas Darwinsyah akan diusahakan tuntas hingga 80 persen. Setelah itu akan masuk ke pemberkasan tersangka Syahri Muda Hasibuan selaku mantan Bendahara Kesbangpol & Linmas Sumut. “Jadi berkasnya terpisah supaya kita tidak kelabakan. Nantinya yang bersangkutan akan menjalani pemeriksaan kembali. Untuk saat ini dia belum ditahan karena kooperatif selama menjalani pemeriksaan dan banyak memberikan informasi kepada kita,” terangnya.

Untuk kasus korupsi anggaran Kesbang Linmas Sumut tahun anggaran 2010 yang telah merugikan negara sedikitnya Rp2,9 miliar, mulai memasuki tahap akhir penyidikan. Dalam waktu dekat tim penyidik Kejari akan melakukan pemeriksaan terhadap dua pejabat Kesbang Linmas Sumut dan keterangan dari ahli BPKP Sumut.

“Proses penyidikan mulai masuk tahap akhir dan penyempurnaan BAP. Nantinya masih ada dua pejabat lagi yang akan kita panggil dari Kesbang Linmas Sumut. Di antaranya Sekretaris Kesbang Linmas Sumut, Kabag Penerimaan Pemprov Sumut, serta keterangan ahli BPKP Sumut,” urai Robinson.
Menurut Robinson, sebelumnya penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap Kabid III Sosial dan Politik Kesbang Linmas Sumut terkait tupoksi yang bersangkutan selama menjabat serta aliran dana di Kesbang Linmas Sumut saat itu. (far) “Jadi yang bersangkutan telah diperiksa,” pungkasnya. (far)

Enam Jam Menanjak Lawan Lebah dan Panas 38 Derajat Celsius

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (4)

Hari kedua bersepeda di Prancis, siksaan lebih panjang dan berat menyambut. Mencoba menaklukkan Col d’Aubisque, yang masuk top ten tanjakan terberat dalam sejarah Tour de France.

Catatan: AZRUL ANANDA

PEMANDANGAN INDAH: Liem Tjong San dari Makassar bersama Azrul Ananda hanya beberapa kilometer dari puncak Col d’Aubisque.
PEMANDANGAN INDAH: Liem Tjong San dari Makassar bersama Azrul Ananda hanya beberapa kilometer dari puncak Col d’Aubisque.

Sebelum berangkat ikut program Tour de France, rombongan Jawa Pos Cycling tak punya bayangan bahwa rute-rute yang ditawarkan begitu berat. Toh, sehari ‘hanya’ sekitar 60 kilometer. Bagi banyak penghobi sepeda yang ikut, itu merupakan makanan rutin latihan di Indonesian
Tapi, setelah dua hari bersepeda, semua merasa beruntung rute hariannya hanya di kisaran 60 kilometer. Sebab, di Prancis yang utama bukan kuantitasnya, melainkan kualitas ‘siksaan’-nya!

Menaklukkan puncak Col de Marie-Blanque dengan ketinggian 1.035 meter Senin lalu (16/7) sudah memberikan kebanggaan tersendiri. Begitu melelahkan, begitu menyiksa kaki, punggung, dan pikiran.

Luar biasa rasanya bisa mencapai puncak yang tingkat kesulitannya masuk kategori 1 tersebut.
Begitu selesai, kami langsung membayangkan tantangan hari kedua. Lebih tepatnya, seram membayangkan tantangan hari kedua. Sebab, rute yang harus kami hadapi adalah Hors Categorie (HC) alias kategori terberat.

Dan, tanjakan itu tercatat sebagai salah satu di antara sepuluh tanjakan terberat dalam sejarah Tour de France!
Col d’Aubisque namanya, 1.709 meter ketinggiannya. Kalau melihat angka ketinggian itu, memang kesannya tidak mengerikan. Ada teman di Surabaya yang nyeletuk bahwa sebuah tanjakan di Jawa Timur memiliki ketinggian 2.000 meter.

Ya, tapi 2.000 meter itu relatif lurus. Tanjakannya curam, tapi pendek. Kalau di Prancis, ketinggian itu harus dilalui lewat jalan yang melingkar-lingkar atau zig-zag. Jadi, siksaannya jauh lebih panjang.

Ketika mencapai ‘kaki’ tanjakan, kami harus mengayuh sepeda sebetah mungkin sejauh 16,6 km untuk mencapai puncak. SEMUA menanjak, dengan rata-rata kecuraman lebih dari 7%.

Dan, Col d’Aubisque ini sangat legendaris. Nama-nama besar balap sepedalah yang mampu dan pernah memenanginya. ‘Michael Jordan’-nya balap sepeda, Eddy Merckx, pernah menang di sana pada 1969.

Juara Tour de France lima kali, Miguel Indurain, pernah finis duluan di Col d’Aubisque pada 1989. Dan bagi penggemar era sekarang, juara Tour de France 2011 lalu, Cadel Evans, pernah memimpin di sana pada 2005.

Bila data-data di atas bikin merinding, ada juga iming-iming kuat bagi kita untuk mencoba menaklukkan Col d’Aubisque: Rute ini kami lintasi sehari sebelum dipakai oleh para pembalap World Tour.

Pada Rabu (18/7), Col d’Aubisque merupakan bagian dari Etape Ke-16 Tour de France 2012.

Jadi, kami akan melintasi rute yang sama dengan para pembalap. Ketika melintasinya pun, kami akan mengikuti panah-panah atau petunjuk-petunjuk jalan resmi Tour de France!

***

POSE: Rombongan berpose bersama  puncak Col d\'Aubisque,  ketinggian 1.709 meter. //Boy Slamet/Jawa Pos/jpnn
POSE: Rombongan berpose bersama di puncak Col d\’Aubisque, di ketinggian 1.709 meter. //Boy Slamet/Jawa Pos/jpnn

Sebenarnya, kalau menghadapi Col d’Aubisque dengan kondisi fresh, mungkin kami tidak terlalu pusing. Hajar saja, kuat atau tidak urusan nanti.
Seperti sudah disebut, ini menghadapi Col d’Aubisque setelah sehari sebelumnya dihajar Col de Marie-Blanque. Jadi, kami harus naik dua gunung dua hari berturut-turut!

Francois Bernard dan Martin Caujolle, pemandu kami dari Discover France, tampaknya, sadar bahwa kondisi kami sedang ‘hancur’. Jadi, kami tidak bersepeda dari hotel di Pau. Pukul 08.30 pagi kami naik van dulu menuju Gan, sekitar 20 km di selatan Pau. Hari itu kami bersepakat mengenakan seragam jersey SRBC (Surabaya Road Bike Community).

Di Gan, kami menyiapkan sepeda. Dari sana, kami harus mengayuh sepeda sekitar 34 km menuju ‘kaki’ Col d’Aubisque. Setelah itu, baru menjalani menu siksaan utama, 16 km mendaki.

Sebelum berangkat, seperti biasanya, ada safety briefing. Lalu, kami berdoa bersama. Waktu itu kami sama-sama bersepakat untuk ‘damai’ menuju kaki Col d’Aubisque.

Maksudnya, jangan kebut-kebutan, kontrol kecepatan supaya rombongan bisa terus bersama. Kesepakatannya adalah rata-rata 25 km/jam. Ketika yang memimpin di depan melaju terlalu cepat, yang di belakang langsung teriak, “Damai! Damai!” untuk mengingatkan.

Dua puluh kilometer pertama rasanya berat sekali. Kalau mencapai dasar tanjakan saja berat, apalagi tanjakannya nanti! Karena kelelahan, salah seorang anggota kami hari itu memutuskan tidak ikut bersepeda. Tapi, dia tidak bengong karena tetap ikut di dalam van dan menjadi support crew bagi yang bersepeda. Membantu mengisi botol minum dan lain-lain.

Bernard dan Caujolle, dua-duanya cyclist hebat (Caujolle dulu ternyata pembalap semi profesional), tahu bagaimana me-manage energi kami. Setelah 20 kilometer, kami berhenti. Lalu, mereka menyiapkan snack yang pas. Ada buah-buahan dan manisan untuk energi instan, ada kacang-kacangan (almond dll) untuk energi lanjutan.

Ketika mencapai kaki Col d’Aubisque, kami juga berhenti dulu. Mengunyah lagi gel, energy bar, dan memastikan botol minum penuh terisi.
Setelah itu, waktunya habis-habisan. Banyak yang bertekad menuntaskan Col d’Aubisque bagaimana pun kesulitannya. Berapa lama pun waktu yang harus dijalani akan dilakoni. Tidak harus ngebut, yang penting finis!

Empat kilometer pertama relatif nyaman dan konstan. Rata-rata menanjak 4-5%, di bawah pepohonan yang rindang. Mereka yang jago dengan cepat melahapnya. Saya sendiri (kemampuan tengah-tengah) mampu melaju konstan 12-15 km/jam tanpa detak jantung yang berlebihan.

Setelah itu, tanjakan semakin curam, matahari semakin menyengat. Tanjakan mulai 7%, lalu 8%, kemudian 10%. Bahkan, ada satu bagian yang paling curam, sampai 13%.

Sampai di atas, tidak ada semeter pun jalan datar. Semua menanjak paling rendah 7%. Menurut data di panduan, rata-rata tanjakan dari pangkal sampai puncak adalah 7,2%.

Sewaktu ke Col de Marie-Blanque, rata-ratanya tanjakannya ‘hanya’ 4-5%.

Saat itu saya belajar bersabar. Menempel salah seorang jagoan sabar di tanjakan, Khoiri Soetomo, dan mengikuti kecepatan kayuhannya. Putaran kaki kira-kira 40 rpm, dengan kecepatan 6-9 km/jam.

Jagoan tanjakan kelompok kami adalah Bambang Poerniawan. Usianya sudah 57 tahun, tapi dia dikenal sulit dikalahkan di tanjakan mana pun di Indonesia.

Ketika menuju Col d’Aubisque, dia katanya sampai kram empat kali. Sun Hin Tjendra, jagoan tanjakan lain, terus menemani dan membantu. “Dia (Bambang, Red) orangnya bandel dan nekat. Luar biasa. Kram, saya pijat sebentar. Langsung naik sepeda lagi. Seratus meter kemudian kram lagi, tapi tidak mau menyerah,” ungkap Sun Hin, yang berkali-kali menang lomba eksekutif di Jawa Timur.

Semakin tinggi kami mendaki, panas matahari semakin terasa. Temperatur di Garmin (komputer sepeda) saya menunjukkan angka maksimal 38 derajat Celsius!

Memang tidak lembab, jadi rasanya kering terus. Angin dingin pegunungan juga membantu ‘mengelabui’ hawa panas. Namun, sengatan mataharinya maut. Dan kami masing-masing mungkin menghabiskan air lebih dari satu galon menuju puncak.
Tidak hanya panas, lebah dan lalat juga ikut mengganggu. Konsentrasi kami terus terganggu karena harus memukul-mukul bagian badan yang disinggahi lebah.

“Ini agak tidak lazim. Biasanya tidak mengganggu seperti ini. Tapi, kalau bersepedanya lebih cepat, kemungkinan tidak masalah,” ucap Bernard.
Masalahnya, kami tidak mampu bersepeda lebih cepat. Mendengar itu, kami hanya bisa tersenyum kecut.
Pemandangan indah seharusnya bisa menjadi obat lelah. Tapi, itu seharusnya. Kenyataannya, mata kami lebih banyak melihat aspal di bawah. Takut melihat curamnya tanjakan di depan. Kami hanya bisa menikmatinya saat berhenti untuk menenangkan diri. Sesekali menyempatkan diri foto-foto pakai iPhone atau BlackBerry.

Kalaupun ada yang membantu melupakan sakit, mereka adalah ratusan orang yang sudah camping di sepanjang sisi jalan menuju puncak. Mereka sudah menempatkan tenda atau caravan dan akan terus berada di situ sampai Tour de France benar-benar melintasinya pada Rabu siang (18/7).
Melihat kami, dan cyclist yang lain, mereka bersorak-sorak memberikan semangat: “Allez! Allez! Allez!”
Ada pula yang terus membunyikan bel.

Ketika melewati mereka, rasanya seperti menjadi pembalap beneran!

***
Hingga tinggal beberapa kilometer, siksaan makin terasa berat. Apalagi, ketika kurang 2 km, tanjakannya mencapai 10%. Pada kilometer terakhir, masih 8%.

Ada sebuah kafe sekitar 1,5 km dari finis. Meski sudah dekat dan puncak mulai terlihat, kami memilih berhenti dulu di sana. Beberapa sepeda tampak sudah tertata di atas van, pertanda sudah tidak sanggup lagi.

Ketika melanjutkan pada kilometer terakhir, saya memilih berhenti sebelum tikungan terakhir. Rasanya benar-benar berat dan agak seram melihat curamnya tanjakan terakhir sebelum finis. Pak Khoiri menyemangati, bilang ada fotografer menunggu di atas. Dia tancap gas duluan. Saya dan Pak Liem Tjong San dari Makassar menyusul.

Di atas, setelah melewati garis penanda puncak, rasanya legaaaaaa.

Teman-teman yang sudah di atas menyambut dengan tos tangan atau pelukan. Mereka yang finis kemudian juga disambut dengan tos tangan dan pelukan.
Kami bukan pembalap, jadi ini sebuah puncak pencapaian bersepeda. Bahkan, Bambang Poerniawan menyebut ini sebagai pencapaian terbaiknya selama puluhan tahun bersepeda. Dan dia merasa, kemungkinan tidak akan bisa mengulanginya lagi. Bukan karena masalah tak mau pergi ke Prancis lagi.
“Usia saya sudah 57 tahun. Sebentar lagi 60 tahun. Kalaupun ke sini lagi, mungkin sudah tidak cukup kuat untuk mendaki yang seperti ini,” ujarnya.
Bambang bilang, di Jawa Timur yang paling berat itu tanjakan di Cangar, Batu. “Tapi, Cangar tidak ada apa-apanya bila dibadingkan dengan yang ini!” tandasnya.

Total jarak yang kami tempuh memang hanya 50 km. Tapi, kami membutuhkan waktu lebih dari lima jam untuk menyelesaikannya (termasuk berhenti-berhentinya). Komputer saya menunjukkan angka 5 jam 53 menit. Ada yang lebih cepat, ada juga yang membutuhkan waktu  hampir tujuh jam.
Tidak masalah karena kami telah menaklukkan tanjakan top ten terberat dalam sejarah Tour de France!
***
Begitu semua berkumpul di puncak, kami berfoto-foto dan makan gaya piknik di bawah sinar matahari. Setelah mencopot helm, kacamata, dan kaus tangan, kami semua terlihat belang-belang terbakar sinar matahari.

Kami pun terus membicarakan betapa beratnya tantangan ini. Lalu membicarakan dan makin mengagumi, betapa hebatnya para pembalap kelas dunia.
Bagi kami, 50 km menuju puncak berat luar biasa. Nah, di Etape Ke-16 Tour de France 2012, para bintang akan melahap Col d’Aubisque hanya sebagai santapan pembuka.

Etape dari Pau ke Bagneres-de-Luchon itu berjarak 197 km. Setelah Col d’Aubisque, para pembalap menghadapi satu lagi tanjakan Hors Categorie yang lebih tinggi, yaitu Col du Tourmalet (2.115 meter). Dan sebelum finis, mereka harus melewati pula dua tanjakan category 1, yaitu Col d’Aspin dan Col de Peyresourde.

Dan mereka mampu menyelesaikan SEMUA itu dalam waktu sekitar ENAM jam! Mengagumkan sekali”. (bersambung)

Gairah Anak Baru

SEATTLE – Dua anak baru Chelsea, Eden Hazard dan Marko Marin menunjukkan kapasitasnya di laga perdana pramusim The Blues di Amerika Serikat Kamis (19/7) kemarin. Menantang Seattle Sounders, Chelsea menang 4-2.

Laga yang digelar di CenturyLink Field, Seattle, itu merupakan salah satu pertandingan dalam 2012 World Football Challenge, yakni serangkaian pertandingan ujicoba yang digelar di Amerika Serikat dan Kanada sepanjang musim panas.

Chelsea unggul cepat dalam pertandingan tersebut, laga baru berjalan tiga menit Romeu Lukaku sudah menjebol gawang tuan rumah. Skor berubah menjadi 2-0 di menit 11 setelah Hazard, pemain yang baru didatangkan dari Lille, berhasil memperdaya kiper Seattle Sounders.
Tapi Seattle Sounders langsung bereaksi dengan gol tersebut. Adalah Fredy Montero yang mampu membangkitkan kembali timnya setelah dia mencetak dua gol di menit 14 dan 32, yang membuat skor menjadi sama kuat 2-2.

Namun sebelum turun minum Chelsea kembali bisa berada di depan. Di menit 40 giliran Marko Marin yang membuat pendukung The Blues bersorak. Pembelian baru dari Werder Bremen itu mengubah skor jadi 3-2. Satu menit sebelum turun minum Lukaku untuk kali kedua mencatatkan namanya di papan skor.

Di babak kedua beberapa pergantian dilakukan kedua tim. Namun hingga peluit panjang ditiupkan wasit, tidak ada satupun gol berhasil diciptakan kedua kubu. Chelsea menang dengan skor 4-2.

Anak didik Roberto Di Matteo akan menghadapi Paris Saint Germain di ujicoba berikutnya. Pertandingan akan dilangsungkan pada 22 Juli waktu setempat di Bronx, New York, Amerika Serikat.

Usai laga, arsitek yang membawa Chelsea angkat trofi Liga Champions musim lalu, Roberto Di Matteo, memberi sedikit komentar mengenai permainan Eden Hazard pada laga ujicoba pertamanya. Menurutnya, Hazard adalah pemain serbabisa yang dibutuhkan Chelsea.

Hazard dimainkan Di Matteo sebagai gelandang serang di belakang striker, sesuatu yang kerap menjadi peran Juan Mata pada musim kemarin. Performanya dinilai bagus dan bagi Di Matteo, ini memberinya pilihan lebih.

“Hazard adalah pemain sebabisa. Dia tak hanya bisa bermain di posisinya pada laga ini, tapi juga bermain lebih melebar,” ujar Di Matteo di situs resmi klub.

“Musim lalu kami tak punya banyak pilihan di posisi itu, selain Juan. Jadi, ini bagus untuk klub dan tim karena kami punya opsi berbeda,” pungkasnya.  (bbs/jpnn)

[table caption=”Hasil Pramusim”]

Kamis (19/7)[attr colspan=”2″]
AmaZulu    v    Man United  ,  0-1
Seattle    v    Chelsea  ,  2-4
Stevenage    v    Tottenham   , 0-2
Philadelphia    v    Aston Villa    ,0-1
Erfurt    v    Dortmund   , 0-4
Kickers    v    Leverkusen   , 0-3
Hannover    v    Hertha Berlin  ,  0-4
Standard Liege    v    Mallorca    ,1-0
AS Nancy    v    Sedan,    3-1
Lorient    v    Laval,    2-2
Rennes    v    Guingamp    ,1-2
Troyes    v    Dijon    ,0-3
Bordeaux    v    Ajaccio    ,1-2
Oud-Heverlee    v    Lokeren   , 1-0

[/table]

Kagawa Debut Dua Menit

DURBAN – Shinji Kagawa sebetulnya disiapkan untuk melakukan debut saat Manchester United memainkan laga kedua pramusim di Afrika Selatan (Afsel) kontra Ajax Cape Town (21/7). Tapi, scenario itu berubah kemarin. Kagawa sudah diturunkan United saat menghadapi AmaZulu di Durban.  Tapi, di laga tersebut Kagawa hanya tampil selama dua menit.

Pelatih United Sir Alex Ferguson mengatakan, keputusan menurunkan Kagawa merupakan insidental. Itu setelah Javier “Chicharito” Hernandez mengalami cedera dan butuh pengganti. Kebetulan, Kagawa dalam kondisi siap dan sudah melakukan pemanasan di pinggir lapangan.
“Saya tidak mengharapkan anak itu (Kagawa, Red) masuk lapangan meskipun dia sudah di pinggir lapangan selama 10 menit. Tapi, Chicharito mengalami kram,” kata Ferguson seperti dilansir MUTV.

Tentu saja, performa Kagawa tidak bisa dinilai hanya dalam dua menit. “Akan sangat luar biasa apabila injury time berlangsung lebih lama. Sayangnya, itu tidak terjadi,” jelas Ferguson.

Pelatih yang menjadi tamu spesial dalam ultah ke-94 Nelson Mandela itu pun menggaransi Kagawa bakal menjadi starter melawan Ajax Cape Town. “Dia akan mendapat kesempatan lebih banyak dalam laga kami berikutnya,” jelas Ferguson lagi.

Berbeda dengan Kagawa, amunisi baru United lainnya, Nick Powell, hanya menjadi turis di Afsel. Pemain 18 tahun itu kemungkinan baru debut kala United menghadapi klub baru Didier Drogba, Shanghai Shenhua, di Tiongkok pekan depan (25/7).

Di sisi lain, Ferguson merasa puas dengan penampilan United kemarin. Terlepas Setan Merah – sebutan United – hanya menang tipis 1-0 via gol Federico Macheda (20’).  “Kami selalu senang mencatat kemenangan dalam laga pertama (pramusim). Kami memainkan sepak bola bagus dan mencetak gol cantik,” paparnya. (dns/bas/jpnn)

 

Tibo ke Thailand, Bustomi Menuju Jepang

DIMINATI:Punggawa Timnas Indonesia Titus Bonai (kiri) diminati BEC Tero Sasana, klub  berlaga  Liga Thailand.  Ahmad Bustomi (kanan)  ditawari bermain  liga Jepang
DIMINATI:Punggawa Timnas Indonesia Titus Bonai (kiri) diminati BEC Tero Sasana, klub yang berlaga di Liga Thailand. dan Ahmad Bustomi (kanan) yang ditawari bermain di liga Jepang
JAKARTA- Dua punggawa Timnas Indonesia diminati klub luar negeri. Mereka adalah Titus Bonai alias Tibo yang diminati klub asal Thailand, BEC Tero Sasana, dan Ahmad Bustomi yang ditawari bermain di liga Jepang (J-League) oleh Omiya Ardija.

Tibo, panggilan Titus Bonai mengaku langsung mengiyakan tawaran dari BEC setelah sebelumnya dikontak oleh pihak klub anggota Thai Premier League (TPL). Dia dihubungi pada Minggu (15/7) lalu, sebelum bertolak ke Malaysia untuk memperkuat tim Sabah Selection.

“Saya tidak butuh waktu lama berpikir. Saya menerima tawaran mereka,” katanya saat dihubungi, Kamis (19/7).

Karena itu, Tibo kemarin langsung berangkat kembali ke Thailand untuk segera melakukan pembicaraan. Dia mengaku diminta oleh Presiden klub BEC untuk datang sekaligus langsung melakukan penandatanganan kontrak.

“Saya senang. Mendapatkan kesempatan untuk bermain di kompetisi yang lebih maju lagi,” terang pemain 23 tahun tersebut.
Sayang, saat ditanya lebih jauh mengenai nilai kontra, Tibo enggan menyebutkan. Dia hanya menjelaskan bahwa durasi kontrak yang akan dijalaninya bersama klub yang dua kali menjuarai TPL itu adalah setahun.

Dalam situs klub BEC, Tibo diklaim sduah bergabung. Bahkan, namanya sudah dicantumkan dalam daftar skuad terbaru BEC meskipun dalam susunan itu belum tercantum nomor punggung yang akan digunakan.

Kepindahan Tibo ke Thailand ini memang cukup mengejutkan. Sebab, sebelumnya dia sempat bermasalah dengan klubnya, Persipura Jayapura, setelah bermain bagi timnas, meski klubnya melarang. Namun, dia menegaskan jika kepindahannya tidak ada permasalahan dengan PSSI.
“Tidak ada kaitan dengan PSSI. Saya sebagai pemain profesional,” ucapnya.

Kendati telah meninggalkan Persipura, Tibo mengaku tak bisa melupakan klub yang telah melambungkan namanya tersebut. Dia berharap lamngkahnya mampu m enjadi contoh dan bisa membawa rekan-rekannya bermain di sana.

“Tetap Persipura selalu di hati,” tandasnya.

Sementara Ahmad Bustomi dikabarkan, sebentar lagi bakal bermain di Liga Jepang bersama Omiya Ardija. Menurut rekan akrab Bustomi yang juga komentator sepak bola Andy Bachtiar Yusuf, kepada sebuah media elektronik tanah air, proses kepindahan pemain kelahiran Jombang itu ke Jepang hanya tinggal selangkah lagi. “Sekarang agennya sudah ada di Tokyo,” ujar Andy.

Andy mengakui jika dirinya terlibat sejak awal proses tawar-menawar tersebut. Namun, Andy tak bisa menjadi agen Bustomi karena tak mengantongi lisensi dari FIFA.

Menurutnya, klub Divisi I Liga Jepang itu tak mau bernegosiasi dengan pemain langsung. Mereka hanya mau membahas proses ransfer dengan pihak yang menjadi agen.

Kabar kepindahan mantan pemain Arema Malang itu sudah muncul sejak beberapa pekan lalu. Saat ini kedua belah pihak, kata sutradara beberapa film tentang sepak bola itu, hanya tinggal menyelesaikan pembahasan soal harga.(net/aam/jpnn)

Dzeko Pengganti Ibra

MILAN- Sudah 17 pemain AC Milan yang angkat kaki dari San Siro pada bursa transfer musim panas ini. Paling krusial, hengkangnya Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva ke klub Prancis Paris Saint Germain (PSG). Terus siapa penggantinya?

Milan memang masih memiliki Alexandre Pato, Antonio Cassano, Robinho, dan Stephan El-Sharawy, tetapi kehilangan striker selevel Ibrahimovic jelas kehilangan besar. Makanya Milan butuh pengganti yang layak.

Target teratas adalah striker Manchester City Edin Dzeko. Striker asal Bosnia-Hervegovina itu sedang kurang nyaman di klubnya dan berkeinginan hengkang. Kebetulan, dia juga merupakan target lama Milan, ketika masih membela VfL Wolfsburg.

Manajer City Roberto Mancini sempat menyatakan ogah melepas Dzeko, tetapi agennya, Sead Susic, menyatakan kemungkinan pindah tetap ada. Sebab, City sekarang kebanyakan striker dan Dzeko bukan lagi pilihan utama.

“Transfer Dzeko ke Milan sangat mungkin terjadi. Sudah ada pembicaraan dan kita lihat saja dalam beberapa hari ke depan,” bilang Susic, seperti dilansir Goal.

Lalu bagaimana dengan keinginan Dzeko sendiri? “Dia (Dzeko) menyukai Serie A dan dia sangat senang kepada Milan, itu akan menjadi pengalaman yang luar biasa. Saat ini Milan butuh pengganti Ibrahimovic, jadi saya bisa bilang peluangnya 70 persen,” lanjut Susic.

Berbarengan dengan negosiasi Milan dengan Dzeko, Milan juga membicarakan kemungkinan menggaet striker klub Brazil Internacional Leandro Damiano. Untuk mendapatkan striker timnas Brazil pada Olimpiade 2012 London itu Milan harus bersaing dengan Tottenham Hotspur.

Agen Damiao, Vinicius Prates, sudah melakukan pertemuan dengan Adriano Galliani, wakil presiden Milan. “Saya bertemu dengan dewan direksi Milan. Itu kontak pertama saya dengan mereka. Kita lihat saja apa yang terjadi dalam beberapa hari ke depan,” terang Prates kepada Terra.(ham/jpnn)

Gaji Tertinggi, Pakai Nomor 9

PARIS Saint Germaint (PSG) benar-benar menjadi bintang pada bursa transfer musim panas ini. Setelah merekrut Ezequiel Lavezzi dan Thiago Silva, sekarang mereka mendatangkan striker AC Milan, Zlatan Ibrahimovic.

Nilai transfer Ibra, sapaan Ibrahimovic, berada di bawah Silva dan Lavezzi. Silva masih termahal dengan 42 juta euro atau sekitar Rp485,9 miliar, lalu Lavezzi dengan nilai 30 juta euro (Rp347,1 miliar), sedangkan Ibra hanya 23 juta euro (Rp266 miliar).

Biarpun nilai transfernya lebih rendah, tetapi soal gaji Ibra bakalan menjadi pemain dengan bayaran termahal di PSG. Dia akan menerima bayaran sebesar 14 juta euro (Rp161,9 miliar) pertahun, itu sudah bebas pajak plus tambahan bonus.

Bukan hanya paling tinggi di PSG, dia menjadi pemain dengan bayaran tertinggi di Ligue 1 Prancis. Sedangkan di dunia, bayarannya hanya kalah dari Samuel Eto’o yang menerima gaji dari klub Rusia Anzhi Makhachkala sebesar 20 juta euro (Rp231,4 miliar).

Bayaran Ibra lebih tinggi dari Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Di Real, Ronaldo dibayar 13 juta euro (Rp150,4 miliar) per tahun, belum termasuk pemasukan dari luar lapangan, sedangkan Messi digaji 10,5 juta euro (Rp121,4 miliar) per tahun.
Ibra tiba di Paris, sejak kemarin. Striker timnas Swedia itu telah melewati tes medis di klub barunya. Setelah itu, dia meneken kontrak dengan PSG selama tiga musim.

Di PSG, Ibra akan memakai kostum bernomor punggung 9 yang selama ini dipakai Guillaume Hoarau. “Kami kedatangan pemain hebat. PSG akan semakin maju,” kata Mamadou Sakho, kapten PSG.(ham/jpnn)

Bunga Citra Lestari Jadi Ainun Habibie

Bunga Citra Lestari//kapanlagi.com
Bunga Citra Lestari//kapanlagi.com

Setelah melalui proses yang panjang, Bunga Citra Lestari akhirnya berhasil terpilih memerankan Ainun Habibie di Habibie dan Ainun.
Bukannya senang, Bunga justru khawatir. Bukan hal yang mudah memerankan almarhumah yang bernama besar.

“Aku sangat berjuang untuk mendapatkan peran ini. Prosesnya panjang sampai aku bisa mendapatkan peran tersebut,” ujar Bunga.

“Sulit memang buat aku. Nggak tahu persis ibu Ainun ngomong seperti apa, bagaimana bertingkah laku dengan seorang Habibie. Bebannya itu,” imbuhnya.

Untuk menyiasati hal itu, pelantun Sunny ini ini rajin melakukan observasi ke orang-orang terdekat Ibu Ainun.

“Jadi mungkin bekerjanya aku lebih banyak berdiskusi dengan orang-orang di sekitar beliau untuk mendapatkan masukan kira-kira seperti apakah sosok ibu Ainun,” jelas Bunga.

Saking antusiasnya, istri Ashraf Sinclair ini rela begadang demi dapatkan feel istri Presiden ketiga RI ini. Sebelumnya, Bunga sudah rela menolak beberapa tawaran main film yang lebih menggiurkan.

“Gimana caranya, biar nggak tidur buat syuting, aku harus ambil. Sekarang aku focus ngejar film ini,” ucap Bunga.

“Ini tantangan banget buat aku. Sampai aku belajar bahasa Jerman yang bikin kepalaku pusing,” sambungnya seraya tertawa.

Selain Bunga, Reza Rahadian juga terpilih memerankan karakter BJ Habibie di film tersebut. Kabarnya, Reza mengalahkan sejumlah aktor ternama untuk peran ini diantaranya Lukman Sardi dan Agus Kuncoro. Habibie dan Ainun diarahkan sutradara Hanung Bramantyo dan akan diproduksi mulai Juli hingga September. Penayangan rencananya pada Desember 2012. (ins)

Jadikan Gerakan Donor Darah sebagai Gaya Hidup

PMI Sumut Terus Lakukan Gerakan Donor Darah Bersama Elemen Masyarakat

FOTO BERSAMA: Ketua PMI Sumut DR Rahmat Shah bersama Komandan Lanud Medan Kol (Pnb) Abdul Rasyid Djauhari  ibu-ibu PIA Ardhya Garini  rangka Hari Bhakti Angkatan Udara.
FOTO BERSAMA: Ketua PMI Sumut DR Rahmat Shah bersama Komandan Lanud Medan Kol (Pnb) Abdul Rasyid Djauhari dan ibu-ibu PIA Ardhya Garini dalam rangka Hari Bhakti Angkatan Udara.

Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Sumatera Utara bersama PMI Kabupaten/Kota senantiasa melakukan Gerakan Donor Darah bersama berbagai elemen masyarakat. Gerakan Donor darah sebagai gaya hidup mulai menunjukkan grafik yang signifikan dalam hal pemenuhan kebutuhan darah di daerah ini.

Hal ini disampaikan oleh Ketua PMI Provinsi Sumatera Utara DR Rahmat Shah dalam berbagai kesempatan kegiatan donor darah yang dilakukan  beberapa pihak dalam sepekan ini. Lebih lanjut dikatakan Rahmat Shah, salah satu tugas pokok PMI adalah dalam pemenuhan kebutuhan darah, sehingga sosialisasi gerakan donor darah kepada siapa saja, dimana saja, dan kapan saja senantiasa dilakukan oleh PMI beserta seluruh jajarannya.

“Alhamdulillah, berkat kerja keras seluruh jajaran PMI sebagaimana yang telah ditekankan oleh Ketua PMI Pusat, Bapak Jusuf Kalla, dimana sebelumnya PMI Sumut adalah yang terjelek dalam hal pemenuhan stock darah, namun setelah gerakan secara simultan serta  direspon dengan baik oleh berbagai pihak, yang mana kegiatan donor darah hampir berlangsung dimana-mana oleh berbagai elemen masyarakat, sehingga grafik pemenuhan darah di Sumut semakin signifikan,” kata Rahmat.

Sementara itu, dalam rangka memperingati hari bakti ke 65 TNI Angkatan Udara, dilakukan donor darah yang diikuti oleh prajurit TNI AU bertempat di Aula Silindung Pangkalan Udara Soewondo Medan yang dihadiri langsung oleh Komandan Lapangan Udara Medan, Kol (Pnb) Abd Rasyid Djauhari dan juga dihadiri oleh ibu-ibu PIA Ardhya Garini, Rabu (18/7). Ini merupakan salah satu implementasi dari MoU Kepalangmerahan yang telah ditandatangani pihak Kosek Hanudnas.

Sebelumnya pada hari Minggu, donor darah dilakukan di beberapa tempat seperti dilakukan oleh Indonesia Therevada Buddhist Centre, komplek Perumahan Cemara Asri Medan. Kemudian Gayatri Mother di kawasan Setia Budi Business Point. Pada hari Senin dalam rangkaian acara Pencanangan revitalisasi KB-Kesehatan yang dilaksanakan oleh BKKBN bersama Kodim 0201/BS bertempat di Lapangan Benteng Medan.

“PMI Sumut memberikan apresiasi serta ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah dengan suka rela memprakarsasi dan memfasilitasi kegiatan kepalangmerahan di Sumatera Utara, khususnya dalam hal kegiatan donor darah. Semoga apa yang disumbangkan, dapat menjadi amal ibadah serta mampu menyelamatkan jiwa orang lain yang membutuhkan darah. PMI senantiasa berupaya seoptimal mungkin gara donor darah memang benar-benar menjadi gaya hidup di daerah ini. Apalagi Komandan Lanud Medan telah memprogramkan pelaksanaan donor darah rutin tiga bulan sekali dengan fasilitas yang sudah tersedia,” ujar Rahmat bersemangat. (*)

Tapanuli, Nias, Madina Rawan Gizi Buruk

MEDAN-Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Yankes Dinkes) Sumut, dr Kustina melalui staf Yankes Rini Suhartini SKM MA, menyebutkan jika saat ini terdapat 7 kabupaten/kota di Sumut rawan gizi buruk.

Ketujuh kabupaten/kota ini bilangnya, yakni Humbanghasundutan, Mandailing Natal (Madina), Nias Utara, Nias Selatan, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah.

Bahkan sesuai data yang ada, Rini mengungkapkan, selama tahun 2011 lalu, sedikitnya 71 anak gizi buruk mendapatkan perawatan kesehatan di beberapa rumah sakit di wilayahnya masing-masing.

Ia memaparkan, ada dua gelombang gizi buruk yang terjadi. Yang mana untuk gelombang pertama pada April 2011, sedangkan gelombang kedua pada Juli 2011 (lihat grafis). “Jadi keseluruhan laporannya ada 71 kasus, dan itu merupakan kasus yang diberikan dana pendamping dari anggaran pendapatan belanja daerah APBD,”” ungkap Rini saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (19/7).

Menurut Rini, masing-masing pasien diberikan uang pendamping sebesar Rp365 ribu dan uang ini diberikan kepada orangtua penderita,” ucapnya.
Sedangkan penanganan bagi penderita gizi buruk, menurut Rini sudah dilakukan tindakan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). “Diberikan konsumsi susu kepada penderita untuk meningkatkan gizinya. Kalau berapa lama diberikan susu, itu tergantung dari usia penderita,” ucapnya.
Jumlah 71 kasus ini juga menurut Rini, merupakan laporan selama tahun 2011 yang dirawat di rumah sakit. Di luar dari laporan itu, apakah ada laporan gizi kurang, Rini meyakini tidak dilaporkan.

“Yang dilaporkan ini berdasarkan dari dana untuk pendampin saja. Di luar dari ini ada, cuma tidak dilaporkan,” sebutnya.

Sementara itu, menurut staf Dinkes Sumut Haris Rambe MA,PHD, untuk pendekatan kasus gizi buruk mestinya dilakukan secara multisector, tidak singlesector atau penanggulangan gizi buruk dengan melibatkan berbagai sektor terkait. “Yang penting mencegah gizi buruk dengan sistem ketahanan pangan atau food security,”tuturnya. (uma)

Gelombang I Gizi Buruk April 2011:

  • Humbanghasundutan 8 anak
  • Madina 7 anak
  • Nias Utara 6 anak
  • Nias Selatan 10 anak
  • Tapanuli Utara 5 anak
  • Tapanuli Selatan 10 anak
  • Tapanuli Tengah 5 anak

Gelombang II Gizi Buruk Juli 2011

  • Madina 8 anak
  • Tapanuli Utara 2 anak
  • Tapanuli Selatan 5 anak
  • Tapanuli Tengah 5 anak