Home Blog Page 13655

Merasa Dikorbankan Anas, Nazar Minta Bebas

JAKARTA- Terdakwa perkara suap Wisma Atlet M Nazaruddin, menyampaikan pembelaan (pledoi) pada persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (9/4). Nazaruddin yang dituntut tujuh tahun penjara itu tetap bersikukuh tak pernah mengatur proyek Wisma Atlet SEA Games ataupun menerima fee dari proyek yang dikantongi PT Duta Graha Indah (DGI) Tbk itu.

Nazaruddin menegaskan, dirinya sama sekali tak ada kaitannya dengan kasus Wisma Atlet. “Saya tak pernah menerima sepeser pun dari M el Idris dan PT DGI,” ucap Nazaruddin.

Dalam pledoi yang dibacakan selama lebih dari satu jam itu, Nazar justru lebih banyak mengulangi tudingan-tudingannya ke Anas Urbaningrum. Di antaranya, Nazar menyebut Anas sebagai pemilik perusahaan Anugrah Nusantara yang berkantor di Permai Tower. Nazar juga menepis kesaksian mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Grup, Yulianis, bahwa Anas hanya datang untuk bertamu.

Untuk menguatkan bantahannya itu, Anas membeber tentang gaji bulanan untuk Anas. “Yulianis mengatakan Anas ke kantor setiap hari Jumat hanya untuk bertamu. Mana ada orang bertamu tapi mendapat gaji bulanan,” ucapnya.

Tak hanya itu, Nazar juga menuding Anas pernah berupaya membebaskan Yulianis dan Oktarina Furi dari jerat KPK. “Dua hari setelah Rosa ditangkap, saya ditelpon Mas Anas agar ke DPP untuk membantu Rina dan Yulianis agar dilindungi dari KPK,” bebernya.

Nazar pun menganggap KPK tak kuasa menjerat Anas. “Semua fakta sudah terang benderang, apakah tim penuntut umum KPK tidak pu kpk tdk takut balasan karena telah merekayasa saya. Banyak fakta-fakta direkayasa untuk melindungi Anas,” tuturnya.

Karenanya, Nazar minta agar majelis hakim membebeaksnnya dari segala tuntutan. “Mohon majelis hakim membebaskan saya karena dakaan tidak terbukti,” ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, JPU KPK mengajukan tuntutan agar Nazar dihukum tujuh tahun penjara dan denda Rp 300 juta. JPU meyakini Nazar telah menerima lima lembar cek senilai Rp 4,6 miliar dari PT DGI, sebagai fee proyek Wisma Atlet SEA Games di Palembang.(ara/jpnn)

Bila Tersangka Tampil Saleh

Di ruang-ruang sidang pengadilan, di tempat para pelaku kejahatan menunggu vonis hukuman dari hakim, kita bisa menyaksikan paradoksnya manusia. Para tersangka, orang-orang yang secara hukum melakukan pelanggaran—merampok, mencuri, korupsi, membunuh, memerkosa—selalu tampil saleh.

Oleh:
Budi Hatees

Pertengahan 2009 lalu, di ruang sidang Pengadilan Negeri Tanjungkarang, seorang laki-laki bertubuh gendut duduk di kursi terdakwa dengan penampilan yang sangat saleh. Mengenakan topi haji, baju koko, kain sarung motif kotak-kotak, dan jemarinya menggenggam tasbih. Selama mengikuti persidangan, mulutnya bergetar entah menguntai asma Allah, sementara jemarinya yang gemuk menera sebiji demi sebiji tasbih dari pohon koka.

Ia lebih tampak seperti seseorang yang hendak menunaikan ibadah salat Jumat atau lebih mirip seperti seorang dai yang hendak memberikan tausyiyah. Sama sekali tidak ada kesan bahwa ia seorang tersangka kasus korupsi dana APBD Kabupaten Lampung Timur tahun anggaran 2007.

Namanya Satono. Haji Satono. Bupati Lampung Timur itu didakwa melakukan korupsi dana APBD Lampung Timur 2007. Tapi, setelah proses penyidikan, penyelidikan, dan persidangan yang panjang dan melelahnya banyak pihak, ia kemudian dinyatakan bebas dari segala tuduhan. Masyarakat Kabupaten Lampung Timur, yang merasa dirugikan karena korupsi itu menyebabkan krisis anggaran belanja daerah berkepanjangan, tidak terima keputusan bebas itu. Tentu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, dan Satono bisa menghirup udara bebas sebagai mantan tersangka kasus korupsi.

Akhir-akhir ini Satono sering tersenyum ketika banyak kalangan mengait-kaitkan namanya sebagai orang yang bisa menuai kemenangan jika mencalonkan diri dalam Pilkada Gubernur Lampung yang akan segera digelar. Sangat mungkin ia akan menjadi Gubernur Lampung, mengingat keandalannya dalam memenangi Pilkada Lampung Timur pada saat dirinya dinyatakan sebagai tersangka.

Ketika berstatus tersangka, ia bisa memenangi Pilkada Lampung Timur. Setelah dilantik Gubernur Lampung Sjachroedin ZP sebagai Bupati Lampung Timur, barulah kejaksaan menggelar persidangan kasus korupsi yang mendudukkan Satono sebagai tersangka. Ajaibnya, Satono tidak terbukti melakukan korupsi, padahal sebagai Bupati Lampung Timur seharusnya ia bertanggung jawab atas mengalirnya dana APBD dari kas pemerintah di Bank Lampung ke rekening di BPR Tripanca. BPR Tripanca ditutup oleh Bank Indonesia (BI) Lampung karena mengalami masalah likuidasi, yang menyebabkan dana APBD Lampung Timur tidaki bisa dicairkan.

***
Adakah penampilan Satono yang saleh berkorelasi dengan putusan bebas pengadilan? Mungkin saja ada korelasinya. Mungkin saja tidak sama sekali. Yang jelas, mereka yang dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus berbagai tindak pidana di negeri ini; yang didudukkan di kursi pesakitan dalam sebuah proses persidangan, selalu saja tampil saleh.     Seorang pemerkosa, penipu yang sudah berkali-kali keluar-masuk penjara, atau pembunuh yang suka memutilasi korbannya—tidak perduli latar belakang sosial, kultur, agama, ekonomi, dan politiknya—pasti akan tampil saleh menggunakan simbol-simbol kesalehan dari lingkungan umat Islam jika duduk di kursi terdakwa.

Kita tak pernah tahu kenapa para tersangka harus memakai simbol-simbol agama Islam. Adakah mereka hendak membangun semacam stigma bahwa ummat Islam adalah entitas yang selalu akan menjadi tersangka. Ataukah, hanya simbol-simbol dari lingkungan ummat Islam itu yang paling mewakili kesalehan di negeri ini?

Tapi, apakah sebuah keharuskan untuk tampil saleh sekalipun Anda sesungguh bukan orang yang saleh?

“Anda sama sekali tak perlu tampil saleh,” kata John J. O’Connor, Uskup Agung di New York, yang berceramah di televisi dengan mengenakan topi bisbol dan melontarkan lelucon-lelucon yang menggelitik, termasuk mencemooh pejabat pemerintah yang hadir mendengarkan ceramahnya. Kalimat O’Connor dikutif Neil Postman dalam bukunya, Amusing Ourselves to Death (1985).

Tentu, konteks pembicaraan Postman bukanlah penampilan saleh para tersangka tindak pidana di Indonesia. Postman sedang membicarakan dakwah-dakwah agama di era budaya televisi. Satu hal yang ditegaskan Postman, budaya televisi menuntut siapa saja untuk menyuguhkan sebuah pertunjukan, sebuah entetaint, sekalipun yang disampaikan adalah hal-hal yang serius seperti firman-firman dalam kitab suci berbagai agama.

Postman berbicara tentang strategi menyampaikan pesan yang tidak cuma harus disesuaikan dengan segmentasi komunikan, tetapi juga harus memahami jenis medium yang dipergunakan. Dengan medium televisi, yang dalam perkembangannya saat ini cenderung diposisikan sebagai medium entertaint, maka pesan harus dirancang sedemikian rupa sebagai bagian dari dunia entetaint. Dan, seorang ulama saat memberikan tausiyah, tak perlu harus serius sekalipun pesan yang disampaikannya bukanlah hal-hal yang remeh.

Lantas, kenapa untuk sesuatu yang tak ada kaitannya dengan kesalehan—sebaliknya justru bertentangan dengan sikap saleh— justru harus tampak saleh?
**
Mau tak mau kita pasti berpikir tentang kamuflase. Tersangka sengaja tampak saleh hanya untuk membangun kesan yang bertolak belakang dengan tuduhan yang dialamatkan pada dirinya. Kesan yang diharapkan dapat mengubah persepsi orang lain, terutama para jaksa penuntut dan hakim, yang orientasinya untuk mengurangi maksimal hukuman yang didakwakan padanya.

Bukankah vonis yang dijatuhkan terhadap tersangka sangat kuat dipengaruhi oleh subyektivitas? Pasal-pasal dalam Kita Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), misalnya, sekalipun menyebut jumlah maksimal angka dakwaan hukuman, tetapi subyektivitas manusia yang terlibat dalam proses penentuan maksimal tuntutan sangat besar. Salah satunya didukung variabel “bersikap baik selama persidangan”. Salah satu indikator variabel ini, bisa saja penampilan si tersangka yang terlihat saleh.

Belum lagi jika yang dipergunakan kitab undang-undang di luar KUHAP, seperti, UU Tindak Pidana Korupsi. UU di luar KUHAP acap membuat para penegak hukum sangat kikuk, terutama dalam penyusunan berkas acara pemeriksaan (BAP). Bukan hal aneh apabila pasal-pasal yang disangkakan penyidik di kejaksaan maupun polisi terhadap tersangka korupsi, sebagian besar justru mengacu pada pasal-pasal dalam KUHAP. Pasal-pasal dalam UU Tindak Pidana Korupsi nyaris tidak digubris dalam menjerat tersangka korupsi, apalagi jika dana yang diduga dikorupsi itu bukan uang negara.

Dalam kasus Muhammad Nazaruddin, sesungguhnya uang yang dikorupsi bukankah uang negara sekalipun berkaitan dengan dana APBN dalam membangun proyek Wisma Atlet SEA Games. Dalam UU Tindak Pidana Korupsi, uang yang dikorupsi haruslah uang negara. Akibatnya bisa ditebak, karena pada tingkat penetapan pasal sekaligus penetapan UU yang harus dipakai, subyektivitas manusia selaku penegak hukum sangat mempengaruhi.
Sebab itu, terhadap upaya para tersangka untuk selalu tampil saleh saat persidangan, kita bisa menyebutnya sebagai upaya untuk mempengaruhi penilaian para penegak hukum untuk mengurangi maksimal angka hukuman. Maka, jika Anda seorang tersangka, usahakanlah untuk selalu tampil saleh terutama jika Anda tidak menganut agama apapun.(*)

Penulis adalah Peneliti di Matakata Institute

Pengusaha Ikan Dipungli Jutaan Rupiah

Berdalih untuk Perbaikan Jalan di Gabion Belawan

BELAWAN- Sejumlah pengusaha perikanan di Belawan mengaku dikutip hingga jutaan rupiah oleh oknum di Direktorat Perikanan Tangkap (DPT) Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) untuk perbaikan kerusakan jalan di Gabion Belawan. Padahal menurut mereka, perbaikan jalan di sana merupakan tanggung jawab pihak PPSB.

“Pihak PPSB sebelumnya ada minta uang sama pengusaha di sini, katanya buat perbaikan jalan yang sudah lama rusak. Sedangkan nilainya bervariasi, mulai Rp2 juta bahkan lebih,” kata seorang pengusaha perikanan yang tak mau namanya dikorankan, kemarin.

Meski nilai yang diminta tidak ditetapkan, namun menurut pria berkulit putih ini, kinerja PPSB selaku pengelola pelabuhan perikanan terkesan tak beres dan sarat praktek pungli. “Seharusnya soal perbaikan jalan di pelabuhan ini tanggungjawab mereka (PPSB), tapi kenapa mesti dilakukan pengutipan lagi. Padahal setiap hari kami membayar pajak dan retrebusi,” ungkap dia.

Awal pengutipan tersebut terjadi setelah pengguna jasa di pelabuhan perikanan mengeluhkan terkait kondisi jalan yang mengalami kerusakan, tapi tak juga diperbaiki. Sehingga berdampak pada terganggunya proses pengiriman produksi hasil laut di pelabuhan ini.

“Jadi, keluhan kami (pengusaha) diduga dimanfaatkan dan ada pengawai PPSB berseragam biru muda meminta uang sama pengusaha dengan alasan agar jalan yang rusak dapat segera diperbaiki,” bebernya.

Tak hanya kerusakan ruas jalan di bagian dalam pelabuhan yang menjadi tanggungjawab pengusaha, namun pengusaha perikanan Gabion Belawan sebelumnya juga terpaksa turun tangan memperbaiki jalan utama menuju pintu keluar masuk pelabuhan. Oleh para pengusaha, kondisi jalan berlubang tersebut dicor dan kini jalan tersebut sudah bagus.

Sedangkan Kepala PPSB Julius Silaen ketika dihubungi Sumut Pos melalui Kepala Tata Usaha Abdul Kholiq membantah adanya pungli yang dilakukan pihaknya kepada para pengusaha. Menurutnya, kerusakan jalan utama di pelabuhan perikanan tersebut masih dalam proses dan secepatnya akan dilakukan perbaikan. “Perbaikan jalan masih dalam proses. Tapi kalau soal kutipan terhadap pengusaha untuk memperbaiki jalan itu, tidak benar. Siapa pengusahanya dan bawa ke kantor,” ucapnya saat dihubungi via ponsel.

Kholiq, juga membantah kalau kerusakan ruas jalan utama yang berada di depan pintu masuk pelabuhan perikanan yang telah diperbaiki pengusaha merupakan tanggungjawab PPSB. “Jalan itu di luar tanggungjawab kami, tapi tanggung jawab BICT ,” katanya. (mag-17)

Ogah Pakai Susuk

Tya Ariestya

Artis menggunakan susuk bukan kisah anyar di kalangan dunia hiburan. Bahkan sang artis rela merogoh kocek dalam-dalam untuk sebuah eksistensi.  Memasang susuk pun bisa menjadi salah satu jawabannya.  Namun hal itu tak berlaku bagi Tya Ariestya yang mengaku tak pernah terpikir untuk tergoda memasang susuk.

Baginya, ketimbang permatanya untuk ditanam ke dalam tubuh  lebih baik dijadikan perhiasan.

“Nggak pernah kepikiran sedikit  pun sih untuk pake-pake yang kayak gitu,” kata Tya Senin (9/4)
“Lagian daripada tanam permata, mending dipake aja permatanya buat perhiasaan. Kan lebih bagus, lebih kelihatan, dan lebih normal,” sambung artis yang kini juga terjun sebagai penyanyi itu.

Permata memang menjadi media susuk yang paling sering digunakan orang, selain emas dan transfer energi yang kini sedang ngetren. Keampuhan susuk pun sudah diyakini sejak zaman kerajaan.

Namun Tya tak percaya dengan keampuhan susuk. Ia pun punya cara sendiri untuk mendapatkan kecantikan sesungguhnya ketimbang menggunakan susuk.

“Aku sebenernya nggak percaya sama yang kayak gitu-gituan. Kalau mau dapat inner beauty ya lebih baik banyakin salat terus minta sama Allah untuk diberikan cahaya dan supaya orang-orang suka sama kita,” tandasnya.

Pesinetron Tya Ariestya termasuk yang gigih bekerja. Baru –baru ini  dia menyandang  gelar sarjana setelah dinyatakan lulus ujian skripsi oleh dosen penguji.  Tya menjelaskan, alasannya duduk di bangku kuliah hingga tujuh tahun. Selama ini, ia selalu memprioritaskan biaya untuk kedua adik kandungnya yang sama-sama kuliah.  “Kenapa bisa tujuh tahun? Karena aku punya tanggung jawab lain yang harus aku pikul. Aku punya dua adik yang saat ini hampir lulus juga,” tuturnya.

Sebagai anak pertama, Tya merasa bertanggung jawab untuk pendidikan keduanya. Ia pun sempat meninggalkan kuliah demi mencari uang untuk membantu keluarga.”Aku tidak boleh egois memikirkan biaya kuliah aku sendiri. That’s why aku memilih mengalahkan kuliah dibandingkan pekerjaan yang aku jalani,” tandasnya. (bbs/net)

Pembangunan Dermaga Perparah Banjir Rob

BELAWAN- Pembangunan dermaga baru dan kerusakan hutan mangrove (bakau) di wilayah pesisir Utara Kota Medan, diduga menjadi pemicu meningkatnya volume air pasang yang melanda pemukiman warga di Belawan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Bahkan, rusaknya lingkungan di perairan juga menimbulkan kerugian bagi kalangan nelayan setempat.

“Saat ini pasang air laut semakin tinggi mencapai hampir satu meter, sedangkan penimbunan wilayah pinggiran pantai untuk pembangunan dermaga dan depo terus berlanjut. Kami berharap agar pemerintah lebih memperhatikan kelangsungan hidup masyarakat yang pada umumnya nelayan,” kata Faisal (32), warga di Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Senin (9/4).

Menurut dia, gencarnya pembangunan di wilayah pinggiran pantai oleh pihak pengelola kepelabuhanan dan pihak swasta lainnya tidak hanya berdampak pada kian naiknya volume air laut. Namun juga menyebabkan mulai hilangnya mata pencaharian nelayan kecil, karena ekosistem di sekitar pantai sudah tergerus oleh dampak dari kegiatan pembangunan dimaksud.

“Dampaknya jelas sangat dirasakan nelayan kecil, kalau dulu dipinggiran pantai gampang menangkap ikan. Tapi sekarang nelayan sudah sulit mencari nafkah di laut, kami berharap supaya pemerintah memperhatikan dampak lingkungan akibat dari banyaknya penimbunan pembangunan dikawasan pinggiran pantai,” bebernya.

Pantauan Sumut Pos di Belawan, kemarin, dampak dari terjadinya banjir pasang air laut masih dirasakan masyarakat di Kecamatan Medan Belawan. Ribuan permukiman penduduk di Kelurahan Bagan Deli, Belawan I, Belawan Sicanang, Belawan Bahagia dan Belawan Bahari masih tenggelam digenangi air laut. Sementara sebahagian warga tampak mulai mengungsi menumpang ke rumah warga lainnya yang relatif lebih tinggi.

Terpisah, Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sumatera Utara, Pendi Pohan juga mengakui, musibah banjir pasang air laut (rob)

Gara-gara SMS, Janda Anak Satu Bunuh Diri

LUBUKPAKAM- Melisa alias Melin (21), janda beranak satu warga Dusun II, Desa Paluh Sibaji, Pantai Labu, nekat mengakhiri hidupnya di rumah pacarnya, Iwan, warga Pasar 6, Desa Sidodadi Ramunia, Beringin, dengan cara minum racun hama, Senin (9/4) pukul 00.30 WIB.

Peristiwa ini bermula pada Sabtu (7/4) lalu. Iwan yang berstatus duda tanpa anak, ngapel ke rumah Melisa. Tiba-tiba ada SMS ke ponsel Melisa dari seseorang yang diduga Iwan dari seorang pria. Untuk memastikannya, Iwan menanyakannya kepada Melisa. Melisa menjawab, SMS itu dari kakaknya.

Namun Iwan kurang percaya dan merasa cemburu. Pertengkaran pun tak terelakan. Bahkan, malam itu Iwan meninggalkan Melisa dan langsung pulang.
Kemudian, Minggu (8/4) siang, Melisa mendatangi rumah Iwan. Tapi sambutan Iwan dingin terhadapnya. Bahkan, Melisa nekat menginap di rumah Iwan. Selanjutnya, pada Senin (9/4) dini hari pukul 00.30 WIB, Iwan masuk ke kamar untuk ganti baju, sedangkan Melisa sendirian di dapur. Namun, saat Iwan keluar, dia melihat Melisa tergeletak di dapur dengan mulut berbusa.

Iwan langsung melarikan Melisa ke RSUD Deliserdang di Lubukpakam. Tapi nyawa Melisa tidak dapat ditolong lagi. Kemudian jasad Melisa diboyong ke rumahnya di Dusun II Desa Paluh Sibaji sekitar pukul 02.00 WIB.

“Padahal kami telah mengurus surat pengantar untuk menikah (NA) sebagai syarat pertama. Dalam waktu dekat kami akan menikah,” sesal Iwan sembari menangis.

Sementara di Belawan, Khaidir alias Kidir (18), siswa kelas II SMK ditemukan tewas tergantung di atas loteng rumahnya, Minggu (8/4) malam pukul 22.00 WIB. Diduga, Kidir nekat mengakhiri hidupnya karena putus cinta.

Korban pertama kali ditemukan oleh Merna (20), kakak kandungnya. Saat itu, kakak korban hendak naik ke loteng rumah mereka. Ia terkejut melihat jasad Kidir tergantung di loteng. Merna langsung histeris. Jeritan itupun membuat warga berdatangan dan menurunkan jenazah korban dari jeratan tali nilon.

Meski telah berusaha membawa korban ke RSU Pelabuhan Hospital Centere (PHC) Belawan. Namun nyawa anak ke tujuh dari 12 bersaudara itu tidak terselamatkan dan meninggal.

“Sebelum bunuh diri, dia pernah cerita kalau dia diputuskan pacarnya. Kata adikku, ceweknya bertubuh langsing. Tapi dia tidak bilang nama ceweknya itu,” sebut, Mirna saat ditanyai di rumahnya.(bat/mag-17)

PD Pemuda Muhammadiyah Asahan Dilantik

KISARAN-  Kepengurus Pimpinan Daerah (PD) Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Asahan periode 2010-2014 yang diketua Syafrial Syah Butarbutar, Sekretaris Suprayogi dan Bendahara Citra Amd, resmi dilantik, Minggu (8/4). Hadir dalam pelantikan itu Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Anang Anas Azhar, Wakil Ketua DPRD Sumut Kamaluddin Harahap, Ketua dan Sekretaris PW Pemuda Muhammadiyah Sumut Ihsan Rambe dan Adrizal, Wakil Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sumut Jamaluddin, Alumni Pemuda Husni Lubis, Kadispora Asahan Syafi’i, Wakil Ketua PD Muhammadiyah Asahan Muhammad Rusdi, dan Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sumut Shohibul Anshor Siregar.

Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua DPRD Sumut Kamaluddin Harahap mengatakan, Sumatera Utara membutuhkan sosok pemimpin yang berpengalaman, khususnya mampu melihat pentingnya keseimbangan antara legislatif dan eksekutif  dalam menjalankan pemerintahan daerah. Sebab, selama ini pemimpin Sumut dinilai kurang mampu menjalankan amanah rakyat, sehingga peningkatan perekonomian rakyat tak tercapai.

“Artinya sekarang Sumut harus dipimpin oleh pemimpin yang mengerti akan amanah undang-undang Nomor 32 tahun 2004, dimana eksekutif dan legislatif merupakan penyelenggara pemerintahan. Jika hal ini dijalankan, maka akan terciptanya penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan benar, sehingga mampu melakukan peningikatan perekonomian rakyat,” kata Kamaluddin Harahap yang juga alumni Pemuda Muhammadiyah.

Kamaluddin mengimbau para warga Muhammadiyah di Sumut harus cerdas dalam memilih pemimpin ke depan. Dia berharap, warga Muhammadiyah Sumut memilih pemimpin yang diyakini benar-benar mampu memperjuangkan aspirasi umat khususnya warga Muhammadiyah. (ade )

Jemaat GBKP Desak Bupati Karo Berantas Judi dan Narkoba

KARO- Ribuan jemaat Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Klasis Kabanjahe menggelar demo dan long march ke kantor DPRD dan Bupati Karo, Senin (9/4) pukul 16.00 WIB. Mereka mendesak pemberantasan judi, narkoba dan tempat-tempat maksimat lainnya di daerah tersebut.

Walau sempat diguyur hujan, para pengunjuk rasa tetap bersemangat dan terus menerikkan yel-yel dan menyanyikan lagu puji-pujian. Ketika menyampaikan aspirasinya di gedung DPRD Karo, demonstran yang diwakili Pendeta (Pdt) Masa Sinukaban menyatakan, semakin maraknya tempat-tempat praktek maksiat seperti warung remang-remang dan oukup plus-plus yang menjadi tempat peredaran narkoba dan kegiatan-kegiatan amoral yang mengakibatkan kemiskinan. Karenanya, warung remang-remang, oukup plus-plus supaya ditertibkan.

Menanggapi tuntutan itu, Bupati Karo DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti didampingi Wakilnya Terkelin Brahmana SH, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kapolres Tanah Karo dan akan segera memberantas judi di Tanah Karo.(wan)

Delapan SMA Bertarung di Grandfinal Libala

MEDAN-Libala yang digelar di beberapa zona telah usai merampungkan babak penyisihannya. Dua zona terakhir serentak rampung, Minggu (8/4) kemarin. Zona Medan dirajai Sutomo 1 yang pada laga final menundukkan Wahidin 63-57.

Sementara di zona Binjai-Langkat tampil sebagai kampiun SMA Methodist Binjai setelah final menundukkan SMA Tunas Baru Pangkalan Brandan 78-37.
Para wakil dari masing-masing zona akan kembali bertarung di babak Grandfinal Libala 2012. Untuk zona Asahan-Tanjung Balai diwakili SMA Sisingamangaraja Tanjung Balai. Sementara zona Siantar tampil sebagai juara SMA Sultan Agung Siantar yang memastikan tiket ke grandfinal. Sementara zona Deli Serdang diwakili SMA Juanda Tebing Tinggi.

Wakil terbanyak dari Medan. Tidak hanya finalis Sutomo 1 dan Wahidin, dua tim semifinalis, SMA Harapan Mandiri dan SMA Methodist 2 juga ikut bertarung. Kabid Binpres Perbasi Sumut, Herijanto mengatakan wakil masing-masing zona diambil dari tim-tim juara.

“Terkecuali Medan. Karena peserta terbanyak dari Medan jadi kita ambil empat semifinalis. Sementara untuk zona-zona lain hanya diwakili tim juara. Karena peserta di zona lain juga tidak banyak,” kata pria yang akrab disapa Tekpeng ini, Senin (9/4) kemarin.

Babak Grandfinal Libala 2012 akan digelar pada pertengahan April ini. Mereka akan dibagi dalam sistem grup. “Dua wakil terbaik dari masing-masing grup akan berlaga di semifinal,” katanya.

Dari Libala ini, pihak Perbasi Sumut akan memantau para pemain yang akan dipersiapkan untuk tim basket Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (Popwil). “Kita memang pantau pemain juga untuk Popwil,” lanjutnya.

Pelatih Wahidin, Hidayat Natasasmita yang kalah pada pertarungan di final dari Sutomo 1 mengaku akan mempersiapkan skuadnya lebih baik untuk grandfinal nanti. “Ada beberapa kekurangan yang harus kami perbaiki. Mungkin untuk zona Medan kita hanya runner up. Tapi untuk Libala kali ini kita harus lebih maksimal kalau bisa juara,” tandasnya. (mag-18)

SMAN 7 Medan Reuni Akbar di Cikeas

MEDAN- Alumni SMA Negeri (SMAN) 7 Medan dari angkatan pertama hingga 2011 khususnya yang berdomisili di Pulau Jawa, akan menggelar reuni akbar di Talaga Cikeas, Jalan Raya Cijulang, Desa Cikeas, Kecamatan Sukaraja, Sentul, Bogor, pada 14-15 April mendatang.

Kegiatan yang mengambil tema ‘Indahnya Persahabatan dan Kebersamaan’ itu sekaligus mengukuhkan Forum Alumni SMAN 7 Medan sebagai wadah komunikasi antaralumni dan almamater di seluruh Indonesia.

“Kita sengaja datang ke Medan untuk mensosialisasikan (road show) agar reuni ini berjalan sukses, karena kita tahu alumni SMAN 7 begitu banyak dan bahkan telah menjadi tokoh-tokoh di Sumut maupun nasional,” ungkap Ketua Panitia Reuni, Kuncahyo Isnaedi, Sabtu (7/4) di Medan.

Dikatakan alumni SMAN 7 tahun 1982 ini, tujuan utama reuni adalah memberikan langkah konkret tentang sosial, kekeluargaan maupun ekonomi alumni sehingga timbul keterikatan moral bagi keluarga besar di alumni SMAN 7 Medan. “Dengan forum ini bagaimana cara kita membantu alumni maupun pembangunan sekolah. Seperti, memberikan beasiswa kepada adik-adik alumni yang memiliki kecerdasan namun ekonominya kurang beruntung untuk melanjutkan ke bangku kuliah,” katanya lagi.

Reuni akbar ini diprediksi bakal dihadiri seribuan alumni SMAN 7 Medan itu termasuk tokoh nasional seperti Surya Paloh,Todung Mulya Lubis (keduanya alumni 1969) serta H MS Kaban (alumni 1977).

Tidak sekadar buat senang-senang, even ini juga diharapkan mampu menghasilkan kontribusi positif bagi para alumni hingga adik kelas yang masih duduk di bangku sekolah yang berdiri sejak tahun 1963 di Jalan Timor tersebut.

“Saya tidak ingin pertemuan ini hanya menjadi hura-hura, tetapi bagaimana cara bisa mewujudkan kebersamaan tadi. Tidak semua kita (alumni) mampu, tapi bagaimana cara kita membantu bagi alumni yang kurang mampu tersebut,” timpal alumni SMAN 7 Medan angkatan 1968, Tahan Halomoan Simatupang.

Sementara Wakil Kepala Sekolah SMAN 7 Medan, Ida Jeanne Anastasia br Manurung menyambut positif kegiatan reuni sekaligus pengukuhan Ikatan Alumni SMAN 7 Medan. Ida yang juga alumni SMAN 7 angkatan 1977 mengatakan, dengan kegiatan tersebut akan muncul pola pikir perhatian alumni kepada sekolahnya. “Kita cukup mengapresiasikan kegiatan positif seperti ini sehingga sangat kita dukung. Apa yang bisa kami bantu, pasti akan kami bantu,” janjinya. (ful)