Paling Repot bila Lukisan Para Maestro Rusak

Metropolis

Sulitnya Merawat Ribuan Koleksi Seni Istana Kepresidenan

Mengurusi barang-barang seni bernilai tinggi bukan perkara gampang. Terlebih, ribuan hasil karya adiluhung itu adalah peninggalan para presiden RI dan menjadi koleksi istana kepresidenan. Seperti apa sulitnya merawat barang-barang yang tak bisa dinilai dengan uang itu?


NAUFAL WIDI AR, Jakarta

BUKAN rahasia jika istana kepresidenan memiliki banyak koleksi seni. Di hampir setiap sudut ruangnya terdapat benda-benda seni bernilai tinggi. Mulai lukisan, patung, hingga kerajinan logam. Tidak sedikit koleksi yang memberikan kesan mewah.

Hingga saat ini, jumlah koleksi lukisan istana tersebut mencapai 2.654 buah. Selain itu, koleksi patungnya berjumlah 1.567. Pun, ada 11.770 hasil kesenian kriya dan kerajinan. “Itu tersebar di istana-istana di Jakarta dan daerah,” kata Kepala Biro Pengelolaan Istana Adek Wahyuni S.

Sebagian istana kepresidenan tersebut adalah Istana Negara dan Istana Merdeka di Jakarta. Selain itu, ada Istana Bogor, Istana Cipanas, Gedung Agung (Jogjakarta), dan Istana Tampaksiring (Bali). Khusus istana kepresidenan di Jakarta, koleksi lukisannya berjumlah 757 buah. Juga ada 17 relief, 522 patung dan arca, 756 kerajinan keramik, 218 karya perak dan perhiasan, serta 619 hasil kerajinan lain. Barang-barang seni tersebut beradan
di bawah Biro Pengelolaan Istana, khususnya bagian seni budaya dan tata graha.

Adek menceritakan, barang-barang seni itu merupakan koleksi para presiden Republik Indonesia. “Info yang saya dapat, awalnya koleksi itu adalah koleksi pribadi Bung Karno,” tuturnya.

Bung Karno yang juga proklamator tersebut memang tidak hanya dikenal sebagai negarawan, tapi juga seorang pencinta seni. Bahkan, visi seninya cukup tinggi. Adek mengisahkan, pernah ada seorang ahli restorasi dari Belgia yang melihat koleksi lukisan istana. “Dia berkomentar sambil berdecak, presiden pertama Anda sangat hebat karena koleksinya setara dengan museum di Eropa,” tutur Adek, menirukan ucapan ahli tersebut. “Itu saya ingat untuk memotivasi diri agar merawat dengan baik,” sambung perempuan asal Solo tersebut.

Sebagian koleksi seni tersebut diperoleh saat presiden yang bersangkutan melaksanakan kunjungan ke luar negeri. Biasanya, saat itu ada cenderamata. Ada juga pemberian atau persembahan dari daerah. Kebiasaan tersebut lantas dilanjutkan oleh presiden-presiden selanjutnya.

Awalnya, terang Adek, tidak ada catatan persis mengenai jumlah koleksi seni istana kepresidenan. Karena itu, tidak ada daftar khusus tentang koleksi Bung Karno. Baru saat era Presiden Soeharto, dibuat pendataan oleh pendahulu Adek yang mengurusi koleksi seni istana. “Karena milik negara, inventarisasi dilakukan saat itu,” ujarnya.

Lantas, bagaimana cara mengurusi koleksi seni tersebut? Adek menuturkan, saat ini perawatan koleksi itu dibagi-bagi dan diserahkan ke tiap-tiap istana. “Sebelum itu (2007, Red), kami melakukan perawatan dengan keliling ke istana-istana,” terang Adek. Namun, karena banyaknya koleksi, petugas di Jakarta kewalahan.

Dengan perawatan yang diserahkan ke tiap-tiap istana, papar Adek, tugas pihak Jakarta kini hanya melakukan supervisi. Misalnya, ada kekurangan SDM (sumber daya manusia) atau koleksi yang rusak. “Kami cari, itu siapa yang buat atau ke siapa konsultasinya,” ucap Adek yang sejak 1982 bekerja untuk istana tersebut.

Pada 2007, ada perintah dari presiden agar museum di Jakarta (eks gedung Bina Graha) dikosongkan dan koleksinya dibagi-bagi ke daerah. Pun, hanya beberapa koleksi yang masih dipajang di kompleks Istana Negara dan Istana Merdeka.

Adek mengatakan, banyak kendala yang dialaminya saat merawat koleksi tersebut. Terutama lukisan-lukisan yang tergolong masterpiece. Seperti diketahui, beberapa maestro lukis menyumbangkan karya untuk dipajang di istana. Antara lain, Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Affandi, Dullah, Ida Bagus Made Nadera, Sudjono D.S. Sumardi, dan Mahjuddin. Dari luar negeri, ada Konstantin Egorovick Makovsky, A.J. Le Mayeur de Merpres, Miguel Covarrubias, Walter Spies, dan Lee Man Fong. “Tidak bisa sembarang pe-restore. Ada tingkat-tingkat kesulitan. Misalnya, karya 1.800-an,” urai lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia Jogjakarta tersebut.

Adek mencontohkan, jika cat suatu lukisan mengelupas, untuk menanganinya, harus dilakukan penelitian lebih dulu. Sebab, harus ada kecocokan senyawa antara cat lama dan baru. Dia menjelaskan, hingga saat ini lukisan karya Raden Saleh belum bisa direstorasi. “Karena tidak bisa sembarangan,” ucapnya.

Sementara itu, untuk koleksi patung, ungkap Adek, banyak karya yang tidak diketahui tahun pembuatannya. Sebagian nama pematung karya-karya tersebut pun tidak terlacak. “Karena tidak tahu itu, juga cukup sulit. Jadi, ada beberapa patung yang tidak bisa direstorasi,” tutur dia, lantas mencontohkan patung purbakala dan arca.

Perempuan yang pernah menjabat Kabag Museum dan Sanggar Seni itu menerangkan, banyak juga patung yang sudah tidak utuh lagi. Bahkan, ada patung yang hidungnya patah, tapi tiba-tiba sudah ada yang menambalnya dengan semen. “Nah, kami sedikit demi sedikit benahi karena tidak bisa batu diganti dengan semen. Kami kembalikan. Semen dibuang saja karena tidak sesuai dengan prosedur,” terangnya.

Untuk jenis koleksi seni kriya, relatif lebih mudah dilakukan oleh petugas istana. Sebab, kebanyakan dibuat dari bahan yang tidak tahan lama, seperti anyaman dan kayu. “Kalau lapuk, dihapus. Sebab, biasanya barang-barang kriya dibuat dari bahan yang tidak tahan lama,” ucap Adek.

Perawatan koleksi istana, seperti patung, logam, atau perunggu, biasanya memang tidak terlihat. Namun, setiap peringatan kemerdekaan 17 Agustus, keadaan barang-barang seni tersebut sudah bagus. “Ya, masa-masa sibuk sebelum Agustus,” ucap Adek, lantas tersenyum.

Adek mengakui bahwa tenaga ahli untuk merawat koleksi istana masih terbatas. Memang dengan perkembangan ilmu pengetahuan, jelas dia, petugas istana bisa memperbaiki koleksi jika ada kerusakan ringan. Tapi, bila kerusakan sudah masuk kategori berat, tenaga ahli dari pihak ketiga dilibatkan. Misalnya, ahli dari ISI (Institut Seni Indonesia), Jogjakarta.

Sejak 2007, koleksi di istana kepresiden Jakarta memang dipindahkan. Gedung Bina Graha yang pernah menjadi museum kini sudah beralih fungsi. Dia menambahkan, direncanakan museum untuk menyimpan koleksi tersebut diadakan di setiap istana kepresidenan. “Rencana jangka panjang, 2014, di semua istana sudah harus ada (museum),” ucap dia.

Saat ini, menurut Adek, yang sudah dikatakan layak baru Istana Bogor dan Gedung Agung, Jogjakarta. “Sudah dirintis tiap-tiap daerah mandiri dalam melakukan perawatan,” ujar dia. (c11/nw/jpnn)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *