Panitia UN Lambat

Metropolis
Ketua Panitia UN 2017, Yuniar

SUMUTPOS.CO – MASIH soal Ujian Nasional, pasca pengumuman kelulusan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Selasa (2/5), hingga Rabu (3/5), Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Utara (Sumut) mengaku belum juga mengetahui rekapitulasi hasil Ujian Nasional (UN) siswa.

Padahal, nilai UN tersebut sangat penting dipegang Disdik sebagai bahan pemetaan kualitas pendidikan di Sumut.


Ketua Panitia UN 2017, Yuniar mengaku, setelah nilai UN diberikan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) Sabtu (29/4), pengumuman tersebut langsung didistribusikan panitia pelaksana UN 2017 Minggu (30/4) ke berbagai sekolah. Sehingga, Disdik belum mengantongi rekapitulasi jumlah siswa yang lulus di seluruh Sumut. “Kami hanya menyebarkan hasilnya dalam bentuk compact disk. Selanjutnya, pihak sekolah yang menyampaikannya pada siswa disertai pengumuman kelulusan,” ujarnya di Medan, Rabu (3/5).

Diakui Yuniar, baru kemarin Panitia UN mendapatkan data siswa yang lulus di setiap sekolah. Untuk kemudian diolah rekapitulasinya. Kata Yuniar, sejak tahun lalu, hasil UN tidak lagi menjadi patokan utama kelulusan siswa. Hasil UN hanya untuk pemetaan dan bimbingan untuk melanjutkan studi ke jenjang pascasekolah.

Diberitakan sebelumnya, terdapat 2.346 SMA/SMK/MA di Sumut dengan total 226.395 siswa yang mengikuti UN. Jumlah ini terdiri dari 984 sekolah menyelenggarakan UNBK dan 1.362 dengan Ujian Nasional berbasis Kertas Pensil (UNKP).

Pengamat Pendidikan Sumut Prof Syaiful Segala menuturkan, kerja panitia UN Sumut 2017 lambat. Harusnya Disdik sudah memegang analisis rekapitulasi hasil UN sebelum nilai diumumkan di sekolah. Sehingga saat kelulusan sekolah diumumkan, Disdik juga sekaligus bisa memaparkan hasil analisisnya terkait nilai UN siswa.

“Harusnya dibentuk tim untuk menganalisis nilai UN. Sehingga bisa langsung bekerja menganalisis nilai setelah diterima dari Kemendiknas. Tidak perlu menunggu hasil kelulusan siswa lagi,” tuturnya.

Dari rekapitulasi, lanjut Prof Syaiful, bisa didapatkan daerah mana saja yang nilainya rendah, untuk mata pelajaran apa saja. Dari hasil yang didapatkan, dapat dibuat segera program peningkatan kualitas guru. Sehingga kebijakan per provinsi bisa dilakukan.”Mungkin dia (panitia UN 2017) tidak membentuk tim untuk menganalisis itu. Sehingga tidak bisa secepatnya diketahui daerah mana yang unggul,” tukasnya.

Analisis hasil UN, lanjut Guru Besar Universitas Negeri Medan (Unimed) ini, jangan hanya dikerjakan oleh satu atau dua orang saja. Harus dibagi zonanya seperti memeriksa hasil pemilihan umum. Sehingga, didapatkan daerah mana saja yang kualitas pendidikannya perlu ditingkatkan. (ris/ila)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *