Para Klub Raksasa Terancam di Eropa

World Soccer

Kejuaraan antarklub Eropa, baik Liga Champions maupun Europa League, adalah ajang eksistensi dan unjuk gigi klub seantero Benua Biru. Sayang, beberapa klub raksasa terancam melewatkannya
musim depan.

LIVERPUDLIANS harap-harap cemas musim ini. Suporter Liverpool itu sangat prihatin dengan pencapaian tim kesayangannya. Tanpa gelar mungkin bakal dimaklumi. Apalagi Liverpool memang sepi gelar lima tahun terakhir atau sejak mengangkat trofi Piala FA 2006.


Tapi, ada yang lebih parah dari itu. Apa – Gagal tampil di Eropa. Sulit membayangkan klub tersukses Inggris di Eropa (lima trofi Liga Champions) absen di Eropa. Kali terakhir The Reds – sebutan Liverpool – adalah musim 1999-2000 atau setelah finis ketujuh di Premier League musim sebelumnya.

Liverpool sebenarnya finis ketujuh di Premier League musim lalu. Namun, The Reds beruntung lolos ke Europa League. Kuota Premier League di Europa League adalah peringkat kelima dan keenam. Namun, Liverpool mendapat limpahan dari peringkat keenam Aston Villa yang lolos setelah memanfaatkan jatah Piala Carling (sekalipun hanya runner-up karena Manchester United selaku juara sudah memastikan lolos ke Liga Champions).
Berkaca dari hasil musim lalu, Liverpool pun melakukan pembenahan di awal musim ini. Pelatih Spanyol Rafael Benitez yang dianggap mulai stagnan setelah enam tahun dan sering rewel, didepak. Penggantinya, Roy Hodgson. Pelatih yang musim lalu banjir pujian usai membawa Fulham sebagai finalis Europa League.

Sektor pemain ikut berbenah. Liverpool dianggap beruntung setelah mendapatkan Joe Cole dari Chelsea. Juga bintang Serbia Milan Jovanovic dari Standard Liege. Keduanya didapat gratis. Sekalipun kehilangan Javier Mascherano ke Barcelona, Hodgson mendapat ganti dua pemain sekaligus, Raul Meireles dan Christian Poulsen.
Siapa sangka, ekspektasi tinggi terhadap Hodgson dan skuadnya berbanding terbalik dengan raihan di lapangan. Performa Liverpool anjlok dengan hanya menang sekali dalam dua bulan awal Premier League. Cole dan Jovanovic memberi kontribusi nol seakan mencerminkan perekrutannya. Liverpool bahkan langsung tumbang di babak awal Piala Carling dari klub antah berantah Northampton Town.

Terlepas punya pengalaman menangani Inter Milan, Udinese, serta timnas Swiss dan timnas Finlandia, Hodgson tetap pelatih baru di Liverpool. Dia butuh waktu dan itulah yang tidak ditemukannya di Anfield. Liverpool akhirnya memecat Hodgson pada 8 Januari lalu dan menunjuk Kenny Dalglish, mantan pemain dan pelatih Liverpool.
Dalglish memang tampil di tengah musim dan mewarisi skuad yang mentalnya sudah down. Namun, bedanya dengan Hodgson, Dalglish punya sejarah hebat di Liverpool. Ditambah sosoknya yang sangat disayangi Liverpudlians, pelatih berjuluk King Kenny itu sukses membangkitkan Steven Gerrard dkk.

“Sayang, Dalglish tidak menangani kami sejak awal musim. Dia datang di saat posisi tim sulit (lolos ke Europa League, Red),” ungkap Jamie Carragher, pemain senior Liverpool, kepada Liverpool Echo.

Setelah laga ke-33 Premier League, Liverpool masih tertinggal empat poin dari peringkat kelima Tottenham Hotspur. Itu pun dengan Tottenham memainkan dua laga lebih sedikit.

Padahal, kuota Europa League hanya jatah peringkat kelima. Itu setelah juara Piala Carling musim ini disabet Birmingham City yang kini masih berkutat di papan bawah. Final Piala FA juga mempertemukan Manchester City versus Stoke City yang apapun hasilnya tidak akan memberikan kuota tambahan di Premier League.  “Kami akan sedih (seandainya Liverpool gagal lolos ke Eropa musim depan) – Tidak. Bagi saya, Liverpool masih tetap klub terbaik Inggris,” ungkap Dalglish kepada Sky Sports.  Jika Dalglish percaya The Reds  masih terbaik , tidak demikian dengan fans Galatasaray musim ini.  (dns/jpnn)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *