PDP di Medan Meninggal, Diduga Terpapar Covid-29 Saat di Bandung

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Setelah pekan lalu seorang warga Medan meninggal positif terpapar Coronavirus Disease 2019 (Covid-2019), kembali seorang warga Medan pasien dalam pengawasan (PDP) meninggal dunia, Senin (23/3). Namun uji sampel swab di laboratorium milik Balitbangkes Kemenkes RI belum keluar, sehingga belum bisa dipastikan apakah si PDP positif atau negatif terinfeksi corona.

“KEMARIN malam ada yang meninggal satu orang lagi di Medan atas nama AG. Langsung dikebumikan pagi ini,” kata Pelaksana Teknis (Plt) Walikota Medan, Akhyar Nasution, usai membagi-bagikan masker kepada pengguna jalan di kawasan Merdeka Walk, Senin (23/3) pagi.


Wakil Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumatera Utara, dr Aris Yudhariansyah menyatakan, belum bisa memastikan pasien yang meninggal tersebut terinfeksi Covid-19. “Benar (meninggal), tapi belum pasti karena Covid-19. Jadi belum terkonfirmasi positif atau enggak,” ujarnya singkat.

Wakil Ketua Gugus Tugas COVID-19 Sumut, Alwi Mujahit Hasibuan, di Medan, yang dikonfirmasi mengatakan, sampel PDP Corona yang meninggal di Medan, baru dikirim ke Jakarta, Minggu (22/3). Dan hingga kemarin, hasil uji laboratorium belum keluar. “Baru kemarin dia di-shipped (dikirim). Dikirim malamnya, jam 12 malam dia meninggal. Jam 2 saya ditelepon,” ujarnya.

Alwi mengatakan pengurusan jenazah PDP tersebut bakal diperlakukan seperti pasien positif Corona. Hal ini untuk mencegah penyebaran virus Corona kepada keluarga dan warga yang melayat. “Untuk amannya perlakukan saja sebagai kasus. Tapi dia masih PDP,” jelas Alwi.

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengatakan PDP tersebut diduga sakit setelah berada di Jawa Barat (Jabar). “Iya, meninggalnya di Medan. Warga Medan. Tapi dia terkena virus itu di Jawa Barat. Jadi ke sini, di sini meninggal. Sudah dikebumikan,” ujar Edy.

Sebelumnya, seorang dokter spesialis paru meninggal di RSUP H Adam Malik Medan karena positif corona.

Informasi diperoleh, PDP Covid-19 yang meninggal itu dikabarkan sempat melakukan perjalanan ke Bandung lebih kurang satu bulan karena pekerjaan. Selanjutnya, pada Sabtu (14/3) sekira pukul 11.00 WIB ia pulang dari Bandung dan langsung melayat ke Desa Sayum Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deliserdang.

Kemudian pada Jumat (21/3) sekira pukul 17.00 WIB, warga tersebut batuk-batuk, sesak napas, panas tinggi, sehingga dibawa ke Rumah Sakit Siloam, Medan. Pada Minggu (23/3) sekira pukul 23.30 WIB, yang bersangkutan diinformasikan meninggal dunia.

Terkait kematian si PDP, Plt Walikota Medan, Akhyar Nasution mengatakan kediaman si PDP meninggal akan segera disemprot disinfektan, untuk mengantisipasi penularan virus corona. “Hari Sabtu (21/3) sudah dilakukan penyemprotan di kawasan public service dan public area, seperti kantor-kantor pemerintahan dan rumah ibadah. Selanjutnya, kita akan masuk lebih dalam ke daerah-daerah private yang butuh penanganan khusus,” ujarnya.

Ia juga mengimbau warga Medan agar menghindari tempat-tempat keramaian, untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Disinggung mengenai pembagian masker, Akhyar mengaku, Pemko Medan memiliki cadangan masker untuk dibagikan kepada masyarakat. “Masker ini tolong digunakan sebaik mungkin, karena stoknya sudah langka,” cetusnya.

Ia mendorong produsen dan distributor agar memproduksi masker secara massal demi kepentingan kemanusiaan, bukan lagi soal ekonomi. Selanjutnya, dibagikan kepada masyarakat.

Lebih lanjut, masyarakat diimbau untuk menerapkan social distancing dan mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak penting.

Jangan Melayat

Terpisah, Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin mengimbau warga untuk tidak pergi melayat atau ikut menguburkan, termasuk keluarga yang berduka. Hal ini untuk mencegah penularan virus corona yang cepat menyebar pada tubuh yang tidak lagi berfungsi. “Kita percayakan pada tim medis yang lebih mengerti,” ucapnya.

Tak hanya tidak ikut mengantar jenazah, Martuani juga meminta masyarakat tidak memegang jenazah, dan dalam tempo 4 jam segera dimakamkan. “Tidak akan ada pemeriksaan jenazah apabila mayat sudah didiagnosis mengidap Covid-19. Jenazah sesegera mungkin dimasukkan ke dalam kantong mayat dan tidak dibuka kembali. Harus ditutup rapat-rapat dan segera dimakamkan,” sebutnya.

Bahkan, sambung Martuani, kendaraan juga harus dibersihkan secara higienis setelah pengangkatan jenazah. Selain itu, semua sarung tangan dan peralatan sekali pakai harus dibuang dengan aman. “Baik keluarga dan masyarakat diimbau agar dapat mengerti dengan situasi ini. Karena dapat membahayakan kita semua,” pungkasnya.

Identitas ODP Bandal akan Diumumkan

Hingga Senin kemarin, jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid-19 di Sumut kembali meningkat. Kabar baiknya, jumlah PDP yang sembuh juga meningkat. Sedangkan pasien positif Covid-19 tetap 2 orang.

Jumlah PDP kini menjadi 50 orang, dari sebelumnya 48 orang (Minggu, 22/3). Sedangkan ODP menjadi 763 orang dari 496 orang.

PDP yang sembuh bertambah menjadi 6 orang dari sebelumnya 3 orang.

“Sampai pukul 17.00 WIB jumlah PDP 50 orang, ODP 763 orang, positif 2 orang dan PDP sembuh 6 orang,” ujar Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumatera Utara, Riadil Akhir Lubis dalam keterangan persnya, Senin sore (23/3).

Disebutkan Riadil, para PDP tersebut dirawat pada 25 rumah sakit yang ada di 6 kabupaten/kota Sumut, baik milik pemerintah maupun swasta.

Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr Alwi Mujahit Hasibuan mengakui adanya kenaikan jumlah PDP menjadi 50 orang. Dari 50 PDP tersebut, satu di antaranya meninggal dunia. “Kita harapkan PDP yang masih dirawat semakin banyak yang sembuh,” ujar Alwi.

Alwi mengaku, terkait jumlah ODP yang meningkat jadi 763 orang dari hari sebelumnya 496 orang mengalami kenaikan sekitar 35 persen. “Jumlah ODP yang meningkatkan ini kami dapatkan dari hasil Penyelidikan Epidemiologi atau tracing tim relawan yang dibentuk kepada kontak erat dari seluruh (2 kasus) yang positif. Ini tentunya membuktikan tim relawan sudah bekerja dengan baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota,” akunya.

Menurut Alwi, apabila para ODP seluruhnya bisa teridentifikasi, pertanda Sumut dapat memutus rantai penularan penyebaran virus corona. Ditambah dengan sosialisasi social distancing atau menjaga jarak satu dengan yang lainnya, tidak keluar rumah jika tak mendesak, dan ODP mengisolasi diri selama 14 hari.

“Di awal (sebelumnya) sudah disampaikan bahwa ODP-ODP kita ini tidak berkenan mengisolasi diri di rumah. Akibatnya, terjadi peningkatan seperti yang sekarang ini. Oleh karena itu, diminta kepada para ODP untuk karantina di rumah sehingga bisa memutus mata rantai penularan,” sebutnya.

Alwi menyatakan, karena para ODP masih banyak yang membandal dan tetap keluyuran selama karantina rumah, pihaknya sudah meminta saran hukum kepada ahli hukum. “Kemungkinan kami akan mengumumkan terhadap ODP yang bandal. Akan kita umumkan nama dan alamat mereka, sehingga tidak membahayakan masyarakat lain dan masyarakat yang akan menjaga mereka,” ungkap Alwi. Walau demikian, sambung dia, masih menunggu pertimbangan hukum dari ahlinya. Apabila nanti diperbolehkan, maka segera mungkin diumumkan.

Ia menjelaskan, terkait tracing yang dilakukan terhadap kontak erat, misalnya paling tidak berjarak setengah meter, tinggal satu rumah, sering satu ruangan, satu mobil dan sebagainya. Orang-orang yang kontak erat ini diidentifikasi.

“Selain itu, ODP ini juga bersumber dari orang-orang yang baru pulang dari daerah atau negara terjangkit. Misalnya ada orang yang baru pulang dari Malaysia atau Singapura, maka masuk kategori ODP. Akan tetapi, kenyataan di lapangan tidak mudah karena tidak semua orang bersedia ditanya. Bahkan, beberapa daerah petugas kami ada yang sampai diancam dan lainnya,” terang dia.

Alwi mengatakan, gubernur Sumut telah mengumpulkan seluruh pihak rumah sakit di Sumut untuk membantu sumber daya manusia yang akan bertugas di rumah sakit khusus Covid-19, yaitu di RS GL Tobing, Tanjungmorawa.

Diharapkan nama-nama tenaga medis sudah diterima hari ini (kemarin, red) agar bisa disusun jadwal tugasnya sehingga rumah sakit khusus Covid-19 bisa operasional. “Sampai saat ini, rumah sakit itu belum beroperasi. Sebelum beroperasi diharapkan tidak ada yang mengirimkan pasien ke rumah sakit tersebut sampai nantinya diumumkan secara resmi operasionalnya,” ucap Alwi.

Mengenai rapid test, diakuinya sampai saat ini alatnya belum sampai. Apabila nanti sudah sampai, test massal segera dilaksanakan. “(Rapid test) tentunya dimulai dari daerah yang banyak ODP-nya,” tandas Alwi.

1 Warga Binjai Dijemput ke RSUD

Di Binjai, jumlah Orang Dalam Pengawasan (ODP) terus bertambah. Semula dari 61 orang, kini menjadi 107 orang. Seorang di antaranya yang dikarantina rumah di bangunan MTQ, Binjai Timur, akhirnya dijemput karena menunjukkan gejala corona.

“Warga yang dikarantina ini masuk Rumah Sakit Umum Daerah Djoelham Binjai tadi malam, Minggu (22/3). Kabarnya, yang bersangkutan baru pulang dari Malaysia. Dia mengalami gejala demam tinggi yang sudah tiga hari,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Binjai, Ahmad Yani di Posko Covid-19, Dinas Kesehatan, Senin (23/3) sore.

Pemerintah Kota Binjai juga segera melakukan sejumlah langkah antisipasi. Di antaranya melakukan penyemprotan di sejumlah tempat yang masuk dalam fasilitas umum.

Istri Prajurit TNI AL Masuk PDP

Di Belawan, seorang istri prajurit TNI, menjadi pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona. Saat ini, tengah menjalani perawatan di ruang isolasi RS TNI AL Dr Komang, Belawan, Senin (23/3).

Pasien menjalani perawatan khusus setelah mengalami panas tinggi, batuk flu, dan sesak nafas sehingga pergi berobat ke RS TNI AL.

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Lantalamal – I, Mayor Edy Harahap mengatakan, hasil rontgen pada si PDP, ditemukan ada infeksi paru. Meski demikian, pihak medis langsung melakukan pencegahan dini dengan mengisolasi ruang perawatan bagi pasien.

“Untuk mengantisipasi gejala awal, istri prajurit itu kita rawat di ruang khusus. Statusnya masih PDP. Proses pengawasan sesuai standar. Perkembangannya akan dilihat hingga 14 hari ke depan,” kata Edy.

Berdasarkan riwayat perjalanan, sebelum si PDP mengalami gejala sakit, ia berpergian bersama 4 teman sekantornya ke Brastagi. Sepulang dari Brastagi, yang bersangkutan mengalami gejala batuk dan sesak nafas serta susah tidur.

Pada Minggu (22/3), suaminya membawa sang istri berobat berobat ke RS TNI AL. “Berdasarkan riwayat perajalan dan hasil pengecekan gejala yang dialami, pihak medis mengisolasi si pasien guna mengantisipasi dugaan penyebaran virus corona,” ungkap Edy.

Sedangkan suami si pasien dan putranya berusia 5 tahun, masuk orang dalam pemantauan (ODP) di rumahnya di Komplek TNI AL Barakuda.

“Awalnya, istri prajurit itu mau kita rujuk ke RSU Adam Malik dam RS Putri Hijau. Namun fasilitas tidak memadai, makanya tetap dirawat di rumah sakit TNI AL. Prajurit dan anaknya terus kita awasi,” terang Edy.

Pihaknya telah melaporkan temuan itu ke Dinas Kesehatan Sumut. Juga dilakukan penyemprotan disenfektan di seluruh rumah areal sekitar Komplek TNI AL Barakuda. “Saat ini kita tunggu perkembangan hasil dari medis, apakah ada indikasi virus corona atau tidak,” tutupnya. (ris/ted/fac)

loading...