Pelaku Belajar Buat Bom di Aceh

Metropolis

DIDATANGI POLISI: Sebuah masjid tak bernama (dahulu bernama Masjid Al Mujahiddin) di Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda. Pelaku pengeboman adalah marbot di masjid tersebut. Tiga orang turut ditahan tak jauh dari masjid, beberapa jam setelah pengeboman Gereja Oikumene, Samarinda, Minggu (13/11). FATZERIN/KALTIMPOST

JAKARTA, SUMUTPOS.CO — Aksi bom gereja Oikumene membuat Polri bersikap tegas. Korps Bahayangkara berupaya meningkatkan pengamanan tempat ibadah se-Indonesia agar kejadian yang sama tidak terulang. Jaringan pelaku pengeboman gereja juga sedang diperiksa. Ada 15 orang saksi yang diperiksa keterlibatannya dalam kasus tersebut.


Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan, intensitas penjagaan semua tempat ibadah di Indonesia memang perlu ditingkatkan. Porsonel harus melindungi setiap orang dalam menjalankan ibadahnya. ”Sangat perlu penjagaan itu,” ungkapnya pasca upacara perayaan HUT Korps Brimob ke 71 di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat kemarin.

Namun, yang perlu untuk diluruskan adalah kejadian bom di gereja ini sama sekali tidak tekait dengan polemik nasional kasus dugaan penistaan agama. ”Saya tegaskan ya, sama sekali tidak terhubung,” ujarnya alumnus Akpol 1985 tersebut.

Syafruddin memastikan bahwa jaringan teror yang beraksi di gereja itu tidak terhubung dengan jaringan besar. ”Jaringannya segitu saja, tidak besar,” papar lelaki kelahiran Makassar tersebut.

Sementara Kapolri Jenderal Tito Karnavian menuturkan, target dari pelaku itu hanya ingin menimbulkan kekacauan saja. Karena itu, masyarakat tenang saja. ”Ini pelaku yang lama, dikembangkan terus,” paparnya.

Hingga Senin siang, sudah ada lima orang terduga teroris yang ditangkap. Kelimanya diduga terlibat dengan pelaku Jo alias Juhanda bin Aceng Kurnia. Namun, masih ada target lainnya. ”Masih diperiksa,” ungkap mantan Kepala Densus 88 Anti Teror tersebut.

Afiliasi kelompok Jo ini kemungkinan terhubung dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Setelah keluar penjara, barulah pelaku bergabung dengan kelompok tersebut. ”Kemungkinan kaitannya itu,” ungkapnya.

Sementara Kadivhumas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar menuturkan hal yang sedikit berbeda. Menurutnya, pelaku Jo ini kemungkinan tidak terhubung dengan kelompok teroris lain pasca bebas dari penjara. ”Seperti saat bom buku, kelompok Pepi Fernando juga tidak terhubung jaringan teror lain. Dia hanya memiliki ideologi yang sama,” ujarnya.

Setelah menangkap 5 orang, Densus 88 Anti Teror melanjutkan aksinya hingga sore hari. Hasilnya, sudah ada 15 orang yang diperiksa dan akan ditahan 7 x 24 jam. Mereka berstatus saksi, namun saksi yang diduga terlibat dengan pelaku Jo. ”Bukan saksi mata ya,” paparnya.

Ada 15 orang yang masih diperiksa itu diduga keterlibatannya setelah memeriksa alat komunikasi dan rumah dari Jo. Boy memastikan semua itu masih dalam pendalaman. ”Kalau sudah pasti, bisa jadi statusnya naik,” tuturnya.

Namun yang pasti ke-15 orang itu sama sekali bukan residivis seperti Jo. Dia menuturkan, hasil pemeriksaan sementara mereka merupakan orang baru. ”Kami petakan seperti apa jaringan ini,” paparnya.

Yang juga penting, jaringan Pepi Fernando yang lama juga sedang ditelusuri. Apakah ada yang sudah bebas atau tidak. Tapi, sepertinya kebanyakan masih berada di dalam penjara. ”Untuk memastikan saja, kami telusuri lagi,” ungkapnya.

Perlu diketahui, jaringan Pepi Fernando ini dikenal karena melakukan pengeboman dengan modus bom buku. Pepi memiliki paham radikal itu saat berada di Aceh untuk menjadi relawan pasca musibah Tsunami. Yang menarik, jaringan Pepi ini saat itu tidak terhubung dengan jaringan teror manapun. Hanya ideologi dan tujuannya yang mirip, dengan jaringan teror lain. ”Ya, begitu jaringan ini,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Boy, Densus 88 juga menggeledah sebuah rumah milik rekan Jo yang bernama Joko. Dalam pemeriksaan itu disita beberapa alat komunikasi dan dokumen. ”Jokonya tidak ada di rumah, mungkin kabur,” paparnya.

Bagaimana dengan bahan peledak yang digunakan Jo? Boy menjelaskan bahwa bom tersebut telah dipelajari dan hasilnya ada sejumlah bahan yang digunakan untuk membuatnya. Diantaranya, pupuk, arang, cuka, belerang dan alcohol 70 persen. ”Dari pemeriksaan Jo ini bisa membuat bom semacam itu saat belajar di Aceh,” ujarnya.

Selain itu, terkait korban, dipastikan salah satu korban bom gereja bernama Intan Olivia meninggal dunia. Dia mengalami luka bakar sekitar 70 persen di tubuhnya. ”Polri turut berduka dan akan berupaya sekuatnya mencegah jatuh korban kembali,” jelasnya.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *